Kata-Kata Mutiara dari Balik Penjara

Kata-Kata Mutiara dari Balik Penjara

Difitnah, disiksa, dicaci-maki, dan dijebloskan ke penjara berkali-kali.

Itulah nasib Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah semasa hidupnya.

Demi mempertahankan prinsipnya dalam beragama, ia harus menghadapi berbagai rintangan yang demikian menjulang. Namun, apa sikapnya menghadapi semua itu?

Ia berkata:

ما يصنع أعدائي بي؟

“Apa yang bisa dilakukan musuh-musuhku terhadap diriku?

 أنا جنتي وبستاني في صدري، أينما رحتُ فهي معي لا تفارقني

Surgaku dan tamanku ada di hatiku. Kemana pun aku pergi ia senantiasa bersamaku dan tidak pernah meninggalkanku.

إنَّ حبسي خلوة وقتلي شهادة وإخراجي من بلدي سياحة.

Sesungguhnya disekapnya aku di penjara adalah kesempatan bagiku untuk menyendiri dengan Tuhanku. Terbunuhnya diriku merupakan mati syahid bagiku. Terusirnya diriku dari negeriku adalah wisata bagiku.” (Al-Wabil Ash-Shayyib Min Al-Kalim Ath-Thayyib)

Itulah kata-kata mutiara yang keluar dari lisannya. Kata-kata mutiara yang terlontar dari balik jeruji penjara.

Musuh-musuhnya bisa saja mengoyak-ngoyak badannya dan mencabik-cabik pakaiannya, tapi mereka tidak bisa mengoyak dan mencabik kebahagiaan hidupnya!

Musuh-musuhnya bisa saja merampas harta dan kekayaannya, tapi mereka tidak bisa merampas ‘surga’ yang ada di hatinya!

Demikianlah kalau iman sudah menancap dan mengakar kuat dalam sanubari, akan membuahkan rasa manis dan indah.

Ya, manis dan indah, walaupun gelombang musibah menerjang dan badai bencana menerpa.

Itulah kenikmatan mahal yang tidak bisa dibeli dengan uang dan tidak bisa diraih dengan harta dan tahta.

Ibrahim bin Adham berkata:

لَوْ عَلِمَ الْمُلُوكُ وَأَبْنَاءُ الْمُلُوكِ مَا نَحْنُ فِيهِ لَجَالَدُونَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوفِ

“Seandainya para raja dan anak-anak mereka mengetahui kebahagiaan yang sedang kita rasakan, niscaya mereka berusaha merebut itu dari diri kita dengan pedang-pedang mereka.” (Hilyah Al-Auliya wa Thabaqaat Al-Ashfiya)

Karenanya, siapa yang sudah meraih kenikmatan seperti itu, maka ia sudah menemukan surga di dunia sebelum surga di akhirat!

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً، مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لاَ يَدْخُلُ جَنَّةَ الْآخِرَةِ

“Sesungguhnya di dunia ada surga, siapa yang tidak memasuki surga tersebut, maka ia tidak akan masuk surga di akhirat!” (Al-Wabil Ash-Shayyib Min Al-Kalim Ath-Thayyib)

Siapa yang merasakan manisnya iman dan taat ketika dunia, maka ia akan merasakan manisnya kenikmatan surga.

Sedangkan siapa yang tidak merasakan manisnya iman dan taat ketika di dunia, maka bagaimana bisa ia merasakan manisnya kenikmatan surga?

Itulah orang miskin yang sesungguhnya. Itulah orang yang perlu dikasihani sebenarnya.

Ada ulama terdahulu yang berkata:

مَسَاكِيْنُ أَهْلِ الدُّنْيَا خَرَجُوا مِنْهَا وَمَا ذَاقُوا أَطْيَبَ مَا فِيهَا

“Orang-orang miskin di dunia meninggalkan dunia dalam keadaan belum merasakan kenikmatan terlezat yang ada di dalamnya.”

Ada yang bertanya:

وَمَا أَطْيَبُ مَا فِيهَا؟

“Apa kenikmatan terlezat yang ada di dunia?”

Ia menjawab:

معرفَة الله ومحبته والأنس بِقُرْبِهِ والشوق إِلَى لِقَائِه

“Mengenal Allah, mencintai-Nya, menikmati kedekatan dengan-Nya, dan merindukan pertemuan dengan-Nya.” (Risalah Ibn Al-Qayyim)

Kita memohon kepada Allah agar bisa mereguk manisnya iman dan lezatnya ketaatan kepada-Nya.

 

Siberut, 2 Agustus 2016

Abu Yahya Adiya