Sekecil apa pun kesombongan bercokol di hati seseorang, itu bisa menghalanginya masuk surga.
Nabi ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْر
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat semut.” (HR. Muslim)
Karena itu, seorang muslim tidak boleh menyimpan kesombongan dalam hatinya, baik statusnya sebagai orang ‘biasa’ maupun orang yang sibuk dengan ilmu agama.
Lantas, seperti apa kesombongan yang kadang muncul pada seorang pencari ilmu?
Syekh Bakr Abu Zaid berkata:
فتطاولك على معلمك كبرياء، واستنكافك عمن يفيدك ممن هو دونك كبرياء، وتقصيرك عن العمل بالعلم حمأة كبر، وعنوان حرمان.
“Kelancanganmu terhadap gurumu itu adalah kesombongan. Ketidaksukaanmu terhadap orang-orang yang lebih rendah darimu yang memberikan faidah kepadamu merupakan kesombongan. Peremehanmu terhadap mengamalkan ilmu merupakan lumpur kesombongan dan tanda tidak mendapatkan apa pun.
العلم حرب للفتى المعالي … … كالسيل حرب للمكان العالي
Ilmu melawan orang yang merasa tinggi… …sebagaimana aliran air melawan tempat yang tinggi.” (Hilyah Thalib Al-‘Ilm)
Kesombongan adalah sikap yang tercela. Karena itu, hendaknya para pencari ilmu menjauhi itu. Hendaknya mereka memiliki sikap yang berbeda dengan itu.
Syekh Bakr Abu Zaid berkata:
فالزم – رحمك الله – اللصوق إلى الأرض، والإزراء على نفسك، وهضمها، ومراغمتها عند الاستشراف لكبرياء أو غطرسة أو حب ظهور أو عجب.. ونحو ذلك من آفات العلم القاتلة له، المذهبة لهيبته، المطفئة لنوره،
“Maka, teruslah menempel ke tanah-semoga Allah merahmatimu-, remehkan dirimu, rendahkanlah, dan menunduklah tatkala merasa akan muncul kesombongan, takabur, suka menonjolkan diri, ujub, dan penyakit semacamnya yang merusak ilmu, menghilangkan kewibawaannya, dan melenyapkan cahayanya.” (Hilyah Thalib Al-‘Ilm)
Kalau ilmu seseorang akan rusak karena kesombongannya, maka sebaliknya, ilmu seseorang akan diberkahi karena kerendahan hatinya.
Syekh Bakr Abu Zaid berkata:
وكلما ازددت علماً أو رفعة في ولاية، فالزم ذلك، تحرز سعادة عظمى، ومقاماً يغبطك عليه الناس.
“Setiap kali bertambah ilmumu atau meninggi jabatanmu, hendaknya engkau senantiasa menjaga sikap tadi, niscaya engkau meraih kebahagiaan yang besar dan mencapai posisi yang diidamkan oleh orang-orang.” (Hilyah Thalib Al-‘Ilm)
Orang-orang sedang melaksanakan wukuf di Arafah. Bakr bin ‘Abdillah Al-Muzani menyaksikan demikian, lalu ia berkata:
لَوْلاَ أَنِّي فِيْهِم، لَقُلْتُ: قَدْ غُفِرَ لَهُم
“Seandainya saja aku tidak bersama mereka, niscaya akan kukatakan, ‘Sungguh, mereka telah diampuni.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Setelah menyampaikan riwayat ini, Imam Adz-Dzahabi berkata:
كَذَلِكَ يَنْبَغِي لِلْعَبْدِ أَنْ يُزْرِيَ عَلَى نَفْسِهِ
“Demikianlah hendaknya seorang hamba, ia merendahkan hatinya.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Siberut, 23 Jumada Al-Ulaa 1445
Abu Yahya Adiya






