Surga dan neraka itu fana, yakni akan rusak dan hancur. Itulah pendapat sekte Jahmiyyah. Dan tentu saja itu bertentangan dengan keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah yang menyatakan bahwa surga dan neraka itu abadi, tidak fana.
Belakangan muncul sebagian orang yang menyatakan bahwa Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa surga itu abadi, sedangkan neraka itu fana. Artinya, menurut mereka Ibnu Taimiyah itu setengah Jahmiyyah!
Benarkah pernyataan mereka? Atau itu tuduhan semata?
Untuk mengetahui benar atau tidak bahwa Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa neraka itu fana, kita perlu tengok kitab-kitabnya.
Berikut ini pernyataan Ibnu Taimiyah:
وعن هذا الأصل قال الجهم بفناء الجنة والنار، واشتد إنكار سلف الأمة عليه ذلك.
“Karena dasar itulah Jahm berpendapat bahwa surga dan neraka itu fana. Dan pengingkaran salaf terhadapnya sangat sengit.” (Ta’arudh Al-‘Aql wa An-Naql)
Lihatlah, pengingkaran salaf terhadapnya sangat sengit!
Apakah pernyataannya ini menunjukkan bahwa ia berpendapat bahwa neraka itu fana?
Ibnu Taimiyah juga berkata:
وهذا الذي يذكره كثير من أهل الكلام، الجهمية، ونحوهم في الابتداء، نظير ما يذكرونه في الانتهاء، من أنه تفنى أجسام العالم حتى الجنة والنار….ونحو ذلك من المقالات التي خالفوا فيها الكتاب والسنة
“Yang disebutkan oleh banyak ahli kalam yaitu Jahmiyyah dan semacam mereka ini dalam hal permulaan alam seperti apa yang mereka sebutkan dalam hal akhir alam, yakni fananya alam semesta hingga surga dan neraka….dan pendapat semacam itu yang menyalahi Al-Quran dan As-Sunnah.” (Bayan Talbiis Al-Jahmiyyah)
Lihatlah, pendapat semacam itu yang menyalahi Al-Quran dan As-Sunnah!
Apakah pernyataannya ini menunjukkan bahwa ia berpendapat bahwa neraka itu fana?
Dan Ibnu Taimiyah juga berkata:
قَدْ اتَّفَقَ سَلَفُ الْأُمَّةِ وَأَئِمَّتُهَا وَسَائِرُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ عَلَى أَنَّ مِنْ الْمَخْلُوقَاتِ مَا لَا يَعْدَمُ وَلَا يَفْنَى بِالْكُلِّيَّةِ كَالْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَالْعَرْشِ وَغَيْرِ ذَلِكَ
“Para salaf dan ulama mereka serta seluruh Ahlussunnah wal Jama’ah telah sepakat bahwa di antara makhluk ada yang tidak akan hilang dan rusak secara keseluruhan. Seperti surga, neraka, arsy, dan selain itu.
وَلَمْ يَقُلْ بِفَنَاءِ جَمِيعِ الْمَخْلُوقَاتِ إلَّا طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكَلَامِ الْمُبْتَدِعِينَ كَالْجَهْمِ بْنِ صَفْوَانَ وَمَنْ وَافَقَهُ مِنْ الْمُعْتَزِلَةِ وَنَحْوِهِمْ وَهَذَا قَوْلٌ بَاطِلٌ يُخَالِفُ كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ وَإِجْمَاعَ سَلَفِ الْأُمَّةِ وَأَئِمَّتِهَا
Tidak ada yang berpendapat bahwa seluruh makhluk itu fana kecuali kelompok ahli kalam dan ahli bidah seperti Jahm bin Shafwan, dan yang menyetujuinya dari kelompok Muktazilah dan semacam mereka. Dan ini adalah pendapat yang batil dan menyalahi kitab Allah dan sunnah rasul-Nya, dan kesepakatan kalangan salaf dan ulama mereka.” (Majmu’ Al-Fatawa)
Lihatlah, ini adalah pendapat yang batil dan menyalahi kitab Allah dan sunnah rasul-Nya, dan kesepakatan kalangan salaf dan ulama mereka!
Apakah pernyataannya ini menunjukkan bahwa ia berpendapat bahwa neraka itu fana?
Tidak ada satu pun keterangan dari Ibnu Taimiyah dalam kitab-kitabnya yang menyatakan bahwa neraka itu fana.
Jelaslah bahwa Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa neraka itu abadi dan tidak fana. Sesuai dengan keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah.
Maka, jangan sampai kebencian kita kepada seseorang mendorong kita untuk berdusta atas namanya. Itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya!
Allah berfirman:
وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
“Dan jangan sampai kebencian kalian kepada sesuatu kaum, menyebabkan kalian tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Maidah: 8)
Siberut, 25 Muharram 1446
Abu Yahya Adiya






