Kesulitan Kita dan Kesulitan Nabi

Kesulitan Kita dan Kesulitan Nabi

Apakah ada manusia yang hidup di dunia tanpa menghadapi kesulitan?

Tentu saja tidak ada. Semua manusia pasti pernah mengalami kesulitan.

Namun, bisa jadi di antara kita ada yang berkeluh kesah dan menyangka bahwa dirinyalah yang paling menderita.

Alangkah baiknya kita membandingkan keadaan kita dengan keadaan nabi kita.

Kalau selama ini kita merasa rumah kita sempit, maka tengoklah bagaimana keadaan rumah nabi kita.

Imam Al-Hasan Bashri berkata:

كُنْتُ أَدْخُلُ بُيُوتَ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ ﷺ فِي خِلافَةِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَأَتَنَاوَلُ سُقُفَهَا بِيَدِي.

“Aku pernah masuk ke dalam rumah-rumah istri Nabi ﷺ; pada masa pemerintahan Utsman bin Affan. Ternyata langit-langit rumah tersebut dapat kujangkau dengan tanganku.” (Ath-Thabaqat Al-Kubra)

Lihatlah, langit-langit rumah beliau ﷺ bisa dijangkau dengan tangan!

Di dalam rumah seperti itulah beliau tinggal bersama istri-istrinya!

Di dalam rumah seperti itulah beliau menghabiskan masa hidupnya di dunia!

Kalau selama ini kita mengeluhkan kesulitan ekonomi yang kita hadapi, maka tengoklah bagaimana keadaan ekonomi nabi kita!

Umar bin Al-Khaththab berkata:

لَقَدْ رَأَيْتُ رسول اللَّه ﷺ يَظَلُّ الْيَوْمَ يَلْتَوي مَا يَجِدُ مِنَ الدَّقَل مَا يمْلأُ بِهِ بطْنَهُ.

“Sungguh, aku pernah melihat Rasulullah ﷺ terlilit kelaparan pada suatu hari. Beliau tidak mendapatkan kurma yang bermutu rendah untuk mengisi perutnya.” (HR. Muslim)

Lihatlah, seorang nabi dan rasul pernah mengalami kelaparan!

Orang yang paling mulia di sisi Allah ternyata pernah tidak mendapatkan sesuap makanan pun untuk mengisi perutnya!

‘Amru bin Al-Harits berkata:

مَا تَرَكَ رسولُ اللَّه ﷺ عِنْدَ مَوْتِهِ دِينَاراً وَلا دِرْهَماً، وَلاَ عَبْداً، وَلا أَمَةً، وَلا شَيْئاً إِلاَّ بَغْلَتَهُ الْبَيْضَاءَ الَّتي كَان يَرْكَبُهَا، وَسِلاحَهُ، وَأَرْضاً جَعَلَهَا لابْنِ السَّبيِلِ صَدَقَةً

“Ketika wafat, Rasulullah ﷺ tidak meninggalkan dirham, dinar, dan tidak pula hamba sahaya lelaki maupun perempuan, atau apa pun, melainkan hanya keledai putih yang dulu beliau naiki, senjatanya, dan sebidang tanah yang beliau jadikan sebagai sedekah untuk orang yang sedang dalam perjalanan.” (HR. Bukhari)

Lihatlah, beliau tidak mewariskan apa pun untuk keluarganya, baik itu emas, perak maupun benda berharga lainnya!

Itulah keadaan ekonomi nabi kita. Apakah sudah sebanding dengan keadaan ekonomi kita?

Kalau selama ini kita mengeluhkan kehilangan anak dan orang yang kita cintai, maka tengoklah keadaan nabi kita!

Di masa hidupnya beliau ﷺ kehilangan Khadijah, istrinya tercinta. Dan di masa hidup beliau  ﷺ juga semua putra beliau dan dua putri beliau meninggalkannya.

Adakah di antara kita yang sudah mengalami seperti yang beliau alami?

Kalau selama ini kita mengeluhkan kesulitan yang menghadang di medan dakwah, maka tengoklah bagaimana kesulitan yang menghadang Nabi ﷺ di medan dakwah!

Beliau ﷺ pernah dilempar dengan kotoran unta ketika sujud.

Leher beliau pernah dicekik dengan kain tatkala bermunajat kepada Allah di depan Kabah.

Beliau ﷺ pernah keluar dari Thaif dengan langkah gontai, terusir, diejek anak-anak, dilempari batu hingga darah membasahi kakinya yang mulia.

Inilah kesulitan yang beliau ﷺ hadapi di medan dakwah. Apakah sudah sebanding dengan kesulitan yang kita hadapi?

Bersabarlah menghadapi rintangan dalam hidupmu!

Ya, bersabarlah, dan bersyukurlah, karena kesulitan yang menimpamu belum ada apa-apanya dibandingkan kesulitan yang menimpa nabimu!

 

Siberut, 12 Ramadhan 1443

Abu Yahya Adiya