Laknat Nabi ﷺ di Akhir Hayat

Aisyah berkata:

لَمَّا نَزَلَ بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ طَفِقَ يَطْرَحُ خَمِيصَةً لَهُ عَلَى وَجْهِهِ، فَإِذَا اغْتَمَّ بِهَا كَشَفَهَا عَنْ وَجْهِهِ، فَقَالَ وَهُوَ كَذَلِكَ:

“Ketika Rasulullah ﷺ akan diambil nyawanya, beliau menutup mukanya dengan kain. Lalu ketika nafasnya terasa sesak, beliau singkap kembali kain itu dari wajahnya. Ketika itulah beliau bersabda:

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى اليَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat peribadatan.”

يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا فَلَوْلَا ذَاكَ أُبْرِزَ قَبْرُهُ، غَيْرَ أَنَّهُ خُشِيَ أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا

Beliau mengingatkan umatnya agar menjauhi perbuatan mereka. Jika bukan karena hal itu, maka pasti kubur beliau ditampakkan, hanya saja dikhawatirkan kalau kuburnya nanti dijadikan tempat beribadah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Ada  beberapa faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:

 

1. Menjadikan kuburan nabi atau orang saleh sebagai tempat ibadah merupakan tradisi orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Karena itu, umat Islam dilarang meniru mereka.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

فقد نهى عن اتخاذ القبور مساجد في آخر حياته، ثم إنه لعن -وهو في السياق- من فعل ذلك من أهل الكتاب، ليحذر أمته أن يفعلوا ذلك

“Sungguh, Nabi ﷺ di akhir hayatnya telah melarang umatnya untuk tidak menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Kemudian beliau melaknat-dalam konteks hadis itu- Ahli Kitab yang melakukan perbuatan itu, agar umatnya tidak melakukan itu.”  (Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqiim Limukhaalafah Ashhab Al-Jahiim)

 

2. Kuburan itu bukan tempat untuk ibadah.

Nabi ﷺ bersabda:

الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ

“Bumi itu semuanya merupakan tempat untuk sujud kecuali kuburan dan kamar mandi.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

ومن ذلك الصلاة عندها، وإن لم يبن هناك مسجد، فإن ذلك أيضًا اتخاذها مسجدًا، كما قالت عائشة:

“Dan termasuk yang terlarang adalah melaksanakan salat di sisi kubur, walaupun di sana tidak dibangun tempat ibadah. Karena sesungguhnya itu juga termasuk menjadikan kubur sebagai tempat ibadah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Aisyah:

ولولا ذلك لأبرز قبره ولكن خشي أن يتخذ مسجدًا

“Jika bukan karena hal itu, maka pasti kubur beliau ditampakkan, hanya saja dikhawatirkan kalau kuburnya nanti dijadikan tempat beribadah.”

ولم تقصد عائشة رضي الله عنها مجرد بناء مسجد، فإن الصحابة لم يكونوا ليبنوا حول قبره مسجدًا، وإنما قصدت أنهم خشوا أن الناس يصلون عند قبره، وكل موضع قصدت الصلاة فيه فقد اتخذ مسجدًا، بل كل موضع يصلى فيه فإنه يسمى مسجدًا وإن لم يكن هناك بناء، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم:

Maksud Aisyah ini bukan cuma bangunan tempat ibadah saja. Karena sesungguhnya para sahabat tidak pernah membangun tempat ibadah di sekitar kubur beliau. Akan tetapi maksud Aisyah bahwa mereka khawatir kalau orang-orang melaksanakan salat di sisi kubur Nabi. Dan setiap tempat yang dituju untuk salat berarti telah dijadikan sebagai tempat ibadah. Bahkan, setiap tempat yang digunakan untuk salat itu pun disebut tempat ibadah, walaupun tidak ada bangunan di sana. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

جعلت لي الأرض مسجدًا وطهورًا

“Telah dijadikan untukku bumi sebagai tempat untuk sujud (beribadah) dan sarana untuk bersuci.” (Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqiim Limukhaalafah Ashhab Al-Jahiim)

 

3. Bolehnya melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani dan siapa pun yang melakukan perbuatan seperti yang mereka lakukan yaitu berupa membuat bangunan di atas kubur dan menjadikan itu sebagai tempat ibadah.

 

4. Alasan tidak ditampakkannya kubur Nabi ﷺ karena kekhawatiran akan dijadikan tempat ibadah. Sebagaimana Aisyah berkata:

يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا فَلَوْلَا ذَاكَ أُبْرِزَ قَبْرُهُ، غَيْرَ أَنَّهُ خُشِيَ أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا

“Beliau mengingatkan umatnya agar menjauhi perbuatan mereka. Jika bukan karena hal itu, maka pasti kubur beliau ditampakkan, hanya saja beliau khawatir kalau kuburnya nanti dijadikan tempat beribadah.”

 

5. Semangatnya Nabi ﷺ dalam menjaga akidah umatnya.

Beliau mewanti-wanti umatnya agar tidak mengagungkan kuburan dengan menjadikan itu sebagai tempat ibadah, karena itu akan merusak akidah mereka.

 

6. Selain nabi dan rasul, Nabi Muhammad ﷺ juga seorang manusia biasa yang merasakan kematian dan beratnya sakaratulmaut.

Ya, beliau pun mengalami beratnya sakaratulmaut sehingga membuat putri beliau bersedih.

Ketika Nabi ﷺ mengalami sakaratulmaut, Fathimah berkata:

واكَرْبَ أبَتَاهُ، فَقَالَ:

”Aduhai, susahnya, wahai ayah!”

Nabi ﷺ bersabda:

ليْسَ عَلَى أَبيكِ كرْبٌ بعْدَ اليَوْمِ

“Tidak ada lagi kesusahan bagi ayahmu setelah hari ini.” (HR. Bukhari)

Ya, tidak ada kesusahan lagi setelah hari itu. Karena setelah hari itu, beliau telah bertemu dengan Tuhannya yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

“Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan Dia ridai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)

Siberut, 7 Dzulqa’dah 1441

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
  2. Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqiim Limukhaalafah Ashhab Al-Jahiim karya Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah.
  3. Riyadhush Shalihin karya Imam An-Nawawi.