Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Berpuasa itu bukan hanya untuk menahan lapar dan dahaga.
Nabi ﷺ bersabda:
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa itu bukan hanya menahan diri dari makan dan minum. Namun, puasa itu menahan diri dari perkara sia-sia dan tercela. Kalau seseorang mencelamu atau membodohkanmu, maka katakanlah, ‘Aku sedang berpuasa. Aku sedang berpuasa.” (HR. Ibnu Khuzaimah)
Lihatlah, puasa itu menahan diri dari perkara sia-sia dan tercela!
Puasa itu membimbing seseorang untuk mengontrol kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Puasa juga membimbing seseorang untuk mengontrol anggota badannya agar tidak melanggar aturan-Nya,
Selain itu, petunjuk Nabi: “Kalau seseorang mencelamu atau membodohimu, maka katakanlah, ‘Aku sedang berpuasa. Aku sedang berpuasa!”
Ini menunjukkan bahwa puasa juga membimbing seseorang untuk bisa mengontrol emosi dan nafsunya.
Kalau seseorang sudah bisa mengontrol kata-katanya, anggota badannya, dan emosi serta nafsunya, maka ia bisa mencapai derajat yang mulia yaitu takwa.
Dan itulah tujuan agung dari disyariatkannya puasa.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Lihatlah, agar kalian bertakwa. Agar kita bertakwa.
Agar kita menjadi orang yang makin taat dan makin jauh dari maksiat.
Agar kita makin banyak menaati-Nya dan makin sedikit mendurhakai-Nya.
Agar kita makin banyak berbuat baik kepada orang lain dan makin jarang menyakiti orang lain.
Agar kita lebih banyak mengucapkan kata-kata baik dan lebih sedikit mengucapkan kata-kata kotor.
Karena itu, ketika berpuasa, jangan sampai kita malah makin sering berkata kotor, malah makin sering berbuat sia-sia, dan malah makin banyak melakukan dosa.
Kalau sudah demikian, maka sia-sialah puasa kita.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Siapa yang tidak meninggalkan ucapan palsu dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh perbuatannya meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Bukhari)
Dan Nabi ﷺ juga bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
“Bisa jadi seseorang berpuasa, tapi tidak ada yang ia dapatkan dari puasanya kecuali lapar saja.” (HR. Ibnu Majah)
Kenapa demikian?
Al-Ghazali menerangkan hadis tadi:
قيل هو الذي يفطر على حرام أو من يفطر على لحوم الناس بالغيبة أو من لا يحفظ جوارحه عن الآثام
“Dikatakan itu adalah orang yang berbuka dengan yang haram atau ia berbuka dengan memakan daging manusia (menggunjingnya) atau ia tidak menjaga anggota badannya dari perbuatan dosa.” (Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir)
Karena itu, jauhilah gibah, fitnah, dan namimah. Jauhilah dusta, riba, dan durhaka kepada orang tua.
Jauhilah segala bentuk dosa ketika berpuasa, agar puasamu tidak sia-sia dan supaya engkau tidak hanya mendapatkan lapar dan dahaga.
Siberut, 2 Ramadhan 1443
Abu Yahya Adiya






