Berita besar. Kunjungan Barack Obama beserta istrinya ke Indonesia menjadi berita besar bagi para wartawan. Hampir semua media massa nasional baik cetak maupun elektronik memberitakan aktivitas keduanya selama di Indonesia. Tidak terkecuali kunjungan keduanya ke masjid Istiqlal.
Ketika itu, yang menyambut keduanya di masjid Istiqlal adalah Dr. ‘Ali Musthofa Ya’qub, selaku Imam Besar Masjid Istiqlal. Media massa sempat mengabadikan momen perbincangan antara Dr. ‘Ali Musthofa Ya’qub dengan keduanya.
Seusai kunjungan itu, Dr. ‘Ali Musthofa Ya’qub ditanya oleh wartawan, “Apa perasaan Anda bisa bertemu dengan Presiden Barack Obama?”
Apa jawaban beliau?
Beliau rahimahullah menjawab, “Biasa saja…”
Ya, biasa saja. Padahal yang menjadi tamunya bukan tamu biasa, melainkan tamu negara. Bahkan tamu “penting” dari sebuah negara adi kuasa, yaitu Amerika Serikat!
Begitulah seharusnya sikap orang yang berilmu dalam menghadapi ashhabuddunya (orang-orang yang bergelimang dunia). Tidak silau dengan mereka. Dan tidak rendah diri atau merendahkan diri di hadapan mereka. Apalagi kalau mereka adalah musuh agama mereka!
Imam Malik berkata:
وَاللهِ مَا دَخَلْتُ عَلَى مَلِكٍ مِنْ هَؤُلاَءِ المُلُوْكِ، حَتَّى أَصِلَ إِلَيْهِ، إِلاَّ نَزَعَ اللهُ هَيْبَتَه مِنْ صَدْرِي
“Demi Allah, tidaklah aku menemui seorang raja lalu sampai kepadanya, kecuali Allah cabut kewibawaannya dari dadaku.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Kewibawaan orang yang bergelimang harta adalah kewibawaan yang semu. Kewibawaan orang yang berpangkat tinggi adalah kewibawaan yang semu. Sebab, semua itu dunia. Sedangkan dunia itu “lebih rendah bagi Allah dibandingkan rendahnya bangkai kambing bagi kalian!” (HR. Muslim)
Setinggi apa pun dunia, tetap saja lebih rendah daripada bangkai kambing. Maka jadikanlah ia rendah.
Semahal apa pun dunia, tetap saja lebih murah daripada bangkai kambing. Maka jadikanlah ia murah.
Imam Ibnu Hibban Al-Busti berkata:
ومن عزت عليه نفسه صغرت الدنيا في عينيه
“Siapa yang berjiwa mulia, niscaya akan terasa kecillah dunia di depan matanya.” (Raudhah Al-‘Uqala wa Nuzhah Al-Fudhala)
Syekh Sa’id Al-Halabi, seorang ulama dari Syam, mengajar taklim dengan berselonjor. Kakinya terjulur lurus ke depan.
Suatu hari masuklah Ibrahim Basya, diktator Syam ke majlis beliau. Namun, Syekh Sa’id tidak melipat kakinya dan tidak pula mengubah posisi duduknya. Beliau tidak bergerak sama sekali karena kedatangannya.
Ibrahim merasa kecewa menyaksikan itu, tapi ia sembunyikan kekecewaannya itu.
Tatkala sudah keluar dari situ, ia mengutus seseorang untuk memberi Syekh Sa’id 1000 lira emas. Lantas, apa sikap Syekh Sa’id?
Beliau menolaknya dan menitip pesan kepada utusan itu agar menyampaikan kepada Ibrahim Basya:
إن الذي يمد رجليه لا يمد يده.
“Sesungguhnya orang yang menjulurkan kedua kakinya, tidak akan menjulurkan tangannya!” (Silsilah ‘Uluw Al-Himmah)
Allah telah memuliakan orang yang berilmu di atas selainnya, karena itu jangan sampai ia merendahkan dirinya setelah Allah memuliakannya.
Jangan sampai ia rendah diri atau merendahkan dirinya di hadapan ashhabuddunya, sebanyak apa pun harta mereka, dan setinggi apa pun jabatan mereka.
Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata:
لا يزال الرجل كريماً على الناس حتى يطمع في دينارهم، فإذا فعل ذلك استخفوا به وكرهوا حديثه وأبغضوه
“Seseorang akan senantiasa mulia di hadapan orang-orang, selama ia tidak mengharapkan dinar mereka. Jika ia sampai melakukan demikian, mereka pun akan menganggap remeh dirinya, tidak menyukai perkataannya, dan membencinya.” (Mausu’ah Al-Akhlak Al-Islamiyyah)
—————————————————
Bumi Allah, 15 Jumada Ats-Tsaniah 1440






