Meneliti Berita Sebelum Menyebarkannya

Meneliti Berita Sebelum Menyebarkannya

“Ada orang yang suka menyambar berita-berita. Sekadar mendengar suatu berita, ia langsung menceritakannya dan menyebarkannya.” (Syarh Riyadhus Shalihin)

Demikianlah perkataan Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.

Apakah orang yang beliau sebutkan itu layak dapat pujian atau kecaman?

“Cukuplah seorang dinyatakan berdusta jika menyampaikan segala yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Kenapa yang demikian dinyatakan sebagai dusta?

Imam Al-Munawi menjelaskan:
لأن جميع ما سمعه لا يكون صدقا
“Sebab, segala yang ia dengar tidak semuanya benar.” (Faidh Al-Qadir)

Ya, tidak semua berita yang beredar adalah benar.

Ada berita yang dusta dan ada berita yang benar.

Kalau seseorang menyebarkan semua berita yang beredar, maka sangat mungkin ia menyebarkan berita yang tidak benar.

Dan kalau ia sudah menyampaikan berita yang tidak benar, berarti ia sudah berdusta.

Dan kalau sudah berdusta, apakah bisa ia jadi panutan dan dipercaya?

Imam Malik berkata:
اعْلَمْ أَنَّهُ لَيْسَ يَسْلَمُ رَجُلٌ حَدَّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ، وَلَا يَكُونُ إِمَامًا أَبَدًا وَهُوَ يُحَدِّثُ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Ketahuilah, seseorang yang menyampaikan segala yang ia dengar tidak akan selamat dan ia tidak akan menjadi imam selama-lamanya sedangkan ia menyampaikan segala yang ia dengar.” (Shahih Muslim)

Imam ‘Abdurrahman bin Mahdi berkata:
لَا يَكُونُ الرَّجُلُ إِمَامًا يُقْتَدَى بِهِ حَتَّى يُمْسِكَ عَنْ بَعْضِ مَا سَمِعَ
“Seseorang tidak akan menjadi imam yang dipanuti sampai ia menahan diri dari sebagian yang ia dengar.” (Shahih Muslim)

Orang yang bisa jadi panutan hanyalah orang yang tidak tergesa-gesa dalam menyikapi suatu berita. Itulah orang yang bijak dan berilmu yang sebenarnya.

Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah berkata:
نِعْمَ صَاحِبُ رَجُلٍ عَالِمٌ، وَبِئْسَ صَاحِبُ رَجُلٍ جَاهِلٌ، أَمَّا العَالِمُ، فَيَأْخُذُ مَا يَعْرِفُ، وَأَمَّا الجَاهِلُ، فَيَأْخُذُ كُلَّ مَا سَمِعَ.
“Sebaik-baik teman seseorang adalah yang berilmu. Dan seburuk-buruk teman seseorang adalah yang bodoh. Adapun orang yang berilmu, ia akan mengambil apa yang ia ketahui. Sedangkan orang yang bodoh, ia akan mengambil semua yang ia dengar.” (Siyar A’lam An-Nubala)

“Orang yang bodoh, ia akan mengambil semua yang ia dengar!”

Sudikah kita dianggap sebagai orang yang bodoh?

Maka, jangan sebarkan semua berita yang sampai ke telinga kita. Telitilah itu sebelum menyebarkannya.

Siberut, 20 Rabi’ul Awwal 1446
Abu Yahya Adiya