“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang diberi hikmah, maka sungguh, ia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 269)
Apa yang dimaksud hikmah di sini?
Imam Malik berkata:
الْحِكْمَةُ الْمَعْرِفَةُ بِدِينِ اللَّهِ وَالْفِقْهِ فِيهِ وَالِاتِّبَاعِ لَه
“Hikmah yaitu pengetahuan dan pemahaman tentang agama Allah serta mengikutinya.” (Al-Jami’ Liahkam Al-Quran)
Siapa yang mengetahui, dan memahami agama Allah, serta mengikutinya, maka sungguh, ia telah diberi kebaikan yang banyak. Ya, kebaikan yang banyak. Sangat banyak. Lebih banyak daripada kebaikan yang didapat oleh mereka yang bergelimang harta dan tahta.
Imam Al-Qurthubi berkata:
وَقَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ:
“Sebagian ahli hikmah berkata:
مَنْ أُعْطِيَ الْعِلْمَ وَالْقُرْآنَ يَنْبَغِي أَنْ يُعَرِّفَ نَفْسَهُ وَلَا يَتَوَاضَعَ لِأَهْلِ الدُّنْيَا لِأَجْلِ دُنْيَاهُمْ، فَإِنَّمَا أُعْطِيَ أَفْضَلَ مَا أُعْطِيَ أَصْحَابُ الدُّنْيَا، لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى سَمَّى الدُّنْيَا مَتَاعًا قَلِيلًا فَقَالَ:
“Siapa yang diberi ilmu dan Al-Quran, maka sepantasnya ia memperkenalkan dirinya dan jangan merendahkan diri kepada ahli dunia demi mendapatkan dunia yang ada pada mereka. Sesungguhnya ia telah diberikan sebaik-baik apa yang diberikan kepada para pemilik dunia. Karena, Allah telah menyebut dunia dengan kesenangan yang sedikit. Dia berfirman:
قُلْ مَتاعُ الدُّنْيا قَلِيلٌ
“Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanya sedikit.” (QS. An-Nisa: 77)
وَسَمَّى الْعِلْمَ وَالْقُرْآنَ” خَيْراً كَثِيراً”
Sedangkan ilmu dan Al-Quran, Dia menyebutnya dengan kebaikan yang banyak.” (Al-Jami’ Liahkam Al-Quran)
Kesenangan di dunia itu hanyalah sedikit. Kesenangan di akhiratlah yang banyak. Maka, apakah mungkin kita melupakan kesenangan yang banyak lalu merendahkan diri kita demi mendapatkan kesenangan yang sedikit?
Nabi ﷺ bersabda:
وَاللهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ؟
“Demi Allah, tidaklah perbandingan dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seorang dari kalian yang mencelupkan jarinya ke laut, maka perhatikanlah apa yang ia peroleh?” (HR. Muslim)
Apakah tetesan air yang jatuh dari jari kita sebanding dengan air yang ada di laut?
Allah telah memuliakan orang yang berilmu di atas selainnya, karena itu jangan sampai ia merendahkan dirinya setelah Allah memuliakannya.
Jangan sampai ia rendah diri atau merendahkan dirinya di hadapan mereka yang bergelimang harta dan tahta. Sebanyak apa pun harta mereka. Dan setinggi apa pun jabatan mereka.
Imam Ibnu Hibban berkata:
والتواضع تواضعان أحدهما محمود والآخر مذموم والتواضع المحمود ترك التطاول على عباد الله والإزراء بهم والتواضع المذموم هو تواضع المرء لذي الدنيا رغبة في دنياه
“Rendah hati itu ada dua. Yang pertama terpuji, sedangkan yang satunya lagi tercela. Rendah hati yang terpuji yaitu tidak lancang dan meremehkan hamba-hamba Allah. Sedangkan rendah hati yang tercela yaitu seseorang merendahkan hatinya kepada pemilik dunia karena mengharap dunia yang ada padanya.” (Raudhah Al-‘Uqala wa Nuzhah Al-Fudhala)
Siberut, 12 Muharram 1446
Abu Yahya Adiya






