“Akan keluar dari umatku orang-orang yang meminum Al-Quran seperti halnya mereka meminum susu.” (Al-Jami’ Ash-Shaghir)
Demikianlah nabi kita ﷺ bersabda.
Imam Al-Munawi menerangkan maknanya:
يسلقونه بألسنتهم من غير تدبر لمعانيه ولا تأمل في أحكامه بل يمر على ألسنتهم كما يمر اللبن المشروب عليها بسرعة
“Mereka mengucapkan Al-Quran dengan lisan mereka tanpa merenungkan maknanya dan tanpa memerhatikan hukum-hukumnya. Bahkan, Al-Quran melewati lisan mereka seperti halnya minuman susu yang melewati lisan mereka dengan cepat.” (Faidhul Qadir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir)
Membaca Al-Quran tanpa memahaminya dan memerhatikan hukum-hukumnya. Itu merupakan ciri-ciri kemunafikan.
Nabi ﷺ bersabda:
وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ، مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ
“Perumpamaan orang munafik yang suka membaca al-Quran ialah seperti bunga yang wangi, harum aromanya tapi pahit rasanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa orang-orang munafik pun membaca Al-Quran, tapi bacaan mereka cuma di lisan mereka. Mereka tidak memahaminya dan tidak pula mengamalkannya.
Imam Ibn Baadiis berkata:
فالقارىء إن لم يعمل بما يقرأه فهو منافق حقيقة أو مجازا
“Orang yang membaca Al-Quran jika tidak mengamalkan apa yang ia baca, maka ia munafik sebenarnya atau kiasan.” (Majalis At-Tadzkir Min Hadits Al-Basyir An-Nadzir)
Karena itu, sekadar baca Al-Quran tidaklah cukup bagi kita. Kita mesti memahaminya dan mesti mengamalkannya. Jangan meniru orang munafik!
Imam Ibn Baadiis berkata:
أعاذنا الله وإياكم من النفاق حقيقته ومجازه وجعلنا ممن يتلو كتابه عالما بمعانيه عاملا بما يفهمه منه.
“Semoga Allah melindungi kita dan kalian dari kemunafikan yang sebenarnya maupun kiasan. Dan semoga Dia menjadikan kita termasuk orang yang membaca kitab-Nya dalam keadaan mengetahui makna-maknanya dan mengamalkan apa yang dipahami darinya.” (Majalis At-Tadzkir Min Hadits Al-Basyir An-Nadzir)
Membaca Al-Quran tanpa memahaminya dan mengamalkannya merupakan kesalahan yang parah.
Maka, jangan sampai kita melakukan itu, atau yang lebih parah dari itu, yakni sudah tidak mau mengamalkan Al-Quran, malas pula dalam membacanya!
Siberut, 6 Rajab 1445
Abu Yahya Adiya






