Surat Al-Baqarah Ayat 13

Surat Al-Baqarah Ayat 13

Membuat kerusakan, tapi tidak merasa membuat kerusakan. Demikianlah keadaan orang-orang munafik yang telah Allah gambarkan.

Setelah menggambarkan demikian, Allah menyebutkan sifat buruk  mereka yang lain:

  1. وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لا يَعْلَمُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kalian sebagaimana orang lain telah beriman!”, mereka menjawab, “Apakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang bodoh itu beriman?” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.

Allah mengabarkan bahwa apabila orang-orang munafik itu ditegur, “Hentikanlah kekufuran kalian dan hentikanlah makar kalian. Bertaubatlah, dan berimanlah sebagaimana orang lain telah beriman!”, lantas apa jawaban mereka?

“Apakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang bodoh itu beriman?” Artinya, tentu kami tidak sudi beriman. Itu perbuatan bodoh dan tolol!

Mereka menganggap keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai suatu kebodohan.

Mereka menganggap ketundukan kepada aturan-Nya sebagai suatu kedunguan.

Mereka menganggap berjuang membela agama-Nya sebagai suatu ketololan.

Allah membantah mereka, “Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.”

Ya, merekalah yang sebenarnya bodoh. Merekalah yang sebenarnya tolol.

Sebab, hakikat kebodohan dan ketololan adalah tidak mengetahui mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya.

Bukankah mereka tidak tahu bahwa keimanan yang tulus akan mengantarkan pada kebahagiaan yang abadi?

Bukankah mereka tidak tahu bahwa kemunafikan akan mengantarkan pada kesengsaraan yang berkepanjangan?

Allah berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada neraka yang paling bawah.” (QS. An-Nisa’: 142)

Karena itu, yang pantas menyandang sifat bodoh dan tolol adalah orang-orang munafik, bukan orang-orang yang beriman.

 

Faidah yang bisa kita petik dari ayat ini:

 

  1. Seseorang dianggap bodoh ketika tidak mengetahui apa yang bermanfaat baginya dan apa yang membahayakannya.

 

  1. Orang munafik adalah orang yang bodoh.

Nabi ﷺ bersabda:

خَصْلَتَانِ لَا تَجْتَمِعَانِ فِي مُنَافِقٍ، حُسْنُ سَمْتٍ، وَلَا فِقْهٌ فِي الدِّين

“Ada dua sifat yang tidak terkumpul pada diri seorang munafik: akhlak yang baik, dan paham akan agama.” (HR. Tirmidzi)

Orang munafik itu orang yang berakhlak buruk dan bodoh terhadap agama, walaupun mungkin saja memiliki penampilan yang bagus dan lisan yang fasih. Namun, apa manfaat penampilan yang bagus dan lisan yang fasih kalau perbuatannya rusak?

Sebagian salaf berkata:

من لم ينفعك لحظه لم ينفعك لفظه.

“Siapa yang perbuatannya tidak bermanfaat bagimu, maka ucapannya tidak akan bermanfaat bagimu.”

Bukti jelas yang menunjukkan bahwa orang-orang munafik adalah bodoh, yaitu mereka menuduh orang-orang beriman sebagai orang-orang bodoh, tapi anehnya mereka sendiri mengaku sebagai orang-orang beriman dan menampakkan diri sebagai orang beriman!

Kalau memang mereka itu bodoh, kenapa kalian meniru mereka?

Kalau memang mereka itu tolol, kenapa kalian menyamar jadi mereka?

Itu menunjukkan bahwa kalian-wahai orang-orang munafik- adalah bodoh dan benar-benar bodoh!

 

  1. Orang beriman dan bertakwa adalah orang yang cerdas.

Kalau memang orang munafik adalah orang yang bodoh, berarti orang yang beriman dan bertakwa adalah orang yang cerdas.

Sebab, orang yang beriman dan bertakwa mengetahui mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya. Ia selalu mengintrospeksi diri demi menyongsong kebahagiaan abadi.

Nabi ﷺ bersabda:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا، وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ

“Orang yang paling banyak mengingat mati, dan yang paling baik persiapannya menghadapi kehidupan setelah kematian. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah)

 

Siberut, 26 Rabī’u Aṡ-Ṡānī 1442

Abu Yahya Adiya