Suatu hari, perjalanan Khalifah ‘Umar bin Al-Khaththab harus terhenti. Seorang wanita tua meminta ‘Umar berhenti lalu ia berbicara kepadanya:
يَا عُمَرَ قَدْ كُنْتَ تُدْعَى عُمَيْرًا، ثُمَّ قِيلَ لَكَ عُمَرُ، ثُمَّ قِيلَ لَكَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ، فَاتَّقِ اللَّهَ يَا عُمَرَ، فَإِنَّهُ مَنْ أَيْقَنَ بِالْمَوْتِ خَافَ الْفَوْتَ، وَمَنْ أَيْقَنَ بِالْحِسَابِ خَافَ الْعَذَابَ
“Wahai ‘Umar, engkau dulu dipanggil ‘Umair, kemudian engkau dipanggil ‘Umar, lalu engkau dipanggil Amirulmukminin, maka bertakwalah engkau kepada Allah wahai ‘Umar! Karena siapa yang yakin adanya kematian, niscaya ia takut kehilangan kesempatan. Dan siapa yang yakin adanya perhitungan amalan, niscaya ia takut akan siksaan.”
Wanita itu dengan panjang lebar menasehati ‘Umar dalam keadaan ‘Umar berdiri mendengarkan perkataannya. Rombongan yang bersama ‘Umar merasa heran melihat apa yang terjadi, lalu bertanyalah salah seorang dari mereka:
يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ أَتَقِفُ لِهَذِهِ الْعَجُوزِ هَذَا الْوُقُوفَ؟
“Wahai Amirulmukminin, apakah Anda berdiri seperti ini untuk meladeni wanita tua itu?”
‘Umar berkata:
وَاللَّهِ لَوْ حَبَسَتْنِي مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ إِلَى آخِرِهِ لَا زِلْتُ إِلَّا لِلصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ، أَتَدْرُونَ من هذه العجوز؟ هي خولة بِنْتُ ثَعْلَبَةَ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَهَا مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَوَاتٍ، أَيَسْمَعُ رَبُّ الْعَالَمِينَ قَوْلَهَا وَلَا يَسْمَعُهُ عُمَرُ؟
“Demi Allah, seandainya wanita ini menahanku dari awal siang sampai akhir siang, niscaya aku tetap meladeninya kecuali untuk salat wajib. Apakah kalian tahu siapa wanita tua ini? Dialah Khaulah binti Tsa’labah yang perkataannya telah Allah dengar dari atas langit ketujuh. Apakah Tuhan semesta alam mendengarkan ucapannya, lalu ‘Umar tidak mau mendengarkannya?!” (Al-Jami’ Liahkam Al-Quran)
Khaulah binti Tsa’labah adalah wanita yang mendapat zhihar dari suaminya. Zhihar yaitu ucapan suami kepada istri: “Engkau seperti punggung ibuku.”
Menurut kebiasaan jahiliah, jika seorang suami melontarkan zhihar kepada istrinya, maka itu dianggap talak untuk si istri.
Khaulah merasa sedih. Lalu ia mendatangi Nabi ﷺ, mengadukan permasalahannya dan kesedihannya, kemudian Allah pun menurunkan surat Al-Mujadilah.
Kisah tadi menunjukkan sikap rendah hati ‘Umar bin Al-Khaththab. Kedudukannya sebagai pemimpin negara dan umat tidak membuatnya gengsi untuk menghentikan perjalanannya demi meladeni rakyatnya.
Kisah ini juga memberikan pelajaran yakni jangan sampai kita meremehkan siapa pun. Bisa saja seseorang berpenampilan rendah dan hina, tapi sebenarnya ia orang yang mulia.
Siberut, 23 Jumada Al-Ulaa 1443
Abu Yahya Adiya






