Nasehat Antara Kebodohan dan Kesombongan

Nasehat Antara Kebodohan dan Kesombongan

Bodoh atau sombong.

Kalau kita mendapatkan nasehat atau arahan tapi tidak juga mengalami ‘perubahan’, maka kita tidak lepas dari dua keadaan: bodoh atau sombong.

Al-Ashma’iy berkata:
سَمِعْتُ أَعْرَابِيًّا يَقُولُ: إِذَا دَخَلَتِ الْمَوْعِظَةُ أُذُنَ الْجَاهِلِ مَرَقَتْ مِنَ الْأُذُنِ الْأُخْرَى
“Aku mendengar seorang Arab badui berkata, ‘Jika nasehat masuk ke telinga orang bodoh, maka itu akan keluar dari telinga satunya lagi.” (Jami’ Bayan Al-‘Ilm wa Fadhlihi)

Ya, itu akan keluar dari telinga satunya lagi. Masuk telinga kanan lalu keluar dari telinga kiri. Tidak membekas dan tidak berpengaruh. Begitu juga yang terjadi pada orang yang sombong dan angkuh.

Yusuf bin Asbaath berkata:
إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ قَدْ أَشِرَ وَبَطِرَ، فَلاَ تَعِظْهُ، فَلَيْسَ لِلْعِظَةِ فِيْهِ مَوْضِعٌ
“Jika engkau melihat seseorang benar-benar sombong dan angkuh, maka tidak perlu engkau menasehatinya. Karena tidak ada padanya tempat untuk menerima nasehat.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Hanya orang yang rendah hatilah yang siap menerima nasehat dan arahan. Karena itu, menasehati orang yang sombong apalagi sampai merendahkan diri di hadapannya hanyalah buang-buang waktu dan membahayakan dirimu.

Dr. Syamsuddin Al-Afghani berkata:
فإكرام المعاند المكابر مضر كما قال الشاعر:
“Memuliakan orang yang keras kepala dan sombong itu berbahaya, sebagaimana perkataan seorang penyair:
إذا أنت أكرمت الكريم ملكته وإن أنت أكرمت اللئيم تمردا
“Jika engkau memuliakan orang yang mulia, niscaya engkau memilikinya. Namun, jika engkau memuliakan orang yang tercela, niscaya ia akan terus durhaka.” (Idaa Al-Maturidiyyah)

Tidak ada orang yang mau dicap bodoh atau sombong. Namun, kalau nasehat sampai kepada kita lalu tidak berpengaruh pada diri kita, maka besar kemungkinan ada kebodohan atau kesombongan bercokol pada diri kita, baik itu kita sadari maupun tidak.

 

Siberut, 23 Sya’ban 1445
Abu Yahya Adiya