Kalau kita memerhatikan keadaan orang-orang di bulan Ramadhan, maka kita akan mendapati berbagai keanehan.
Keanehan pertama: ada orang-orang yang tahu bahwa puasa Ramadhan itu diwajibkan, tapi anehnya mereka tidak melaksanakannya, tanpa alasan yang dibenarkan.
Nabi ﷺ bersabda:
بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِي رَجُلَانِ، فَأَخَذَا بِضَبْعَيَّ، فَأَتَيَا بِي جَبَلًا وَعْرًا فَقَالَا لِي:
“Ketika aku tidur, datanglah dua orang kemudian memegang kedua lenganku dan membawaku ke bukit yang sulit didaki. Keduanya berkata kepadaku:
اصْعَدْ
“Naiklah!”
حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِي سَوَاءِ الْجَبَلِ، فَإِذَا أَنَا بِصَوْتٍ شَدِيدٍ، فَقُلْتُ:
Hingga ketika aku sampai ke puncak bukit, aku mendengar suara yang sangat keras. Aku pun bertanya:
مَا هَذِهِ الْأَصْوَاتُ؟
“Suara apakah ini?”
قَالَ:
Dijawab:
هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ
“Ini adalah teriakan penghuni neraka.”
ثُمَّ انْطَلَقَ بِي فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٍ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا، فَقُلْتُ:
Kemudian aku dibawa pergi hingga aku melihat orang-orang yang digantung dengan kaki di atas, mulut mereka robek, dan mengalirlah darah dari mulut mereka. Aku bertanya:
مَنْ هَؤُلَاءِ؟
“Siapakah mereka?”
فَقِيلَ:
Maka dijawab:
هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ
“Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya.” (HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahih keduanya)
Ini adalah hukuman bagi orang yang berbuka puasa sebelum waktunya. Nah, kalau hukuman bagi yang berbuka puasa sebelum waktunya saja demikian berat, maka apalagi hukuman bagi yang tidak berpuasa sama sekali!
Imam Adz-Dzahabi berkata:
وعند المؤمنين مقرر: من ترك صوم رمضان بلا عذر بلا مرض، ولا غرض فإنه شر من الزاني والمكَّاس ومدمن الخمر، بل يشكون في إسلامه، ويظنون به الزندقة والانحلال.
“Orang-orang beriman mempunyai ketetapan bahwa siapa yang meninggalkan puasa di bulan Ramadhan tanpa uzur dan sakit, dan tanpa tujuan yang dibenarkan, maka ia lebih buruk dari pezina, penodong, dan peminum minuman keras. Bahkan, mereka meragukan keislamannya dan menyangka ada kemunafikan dan penyimpangan pada dirinya.” (Al-Kabair)
Keanehan kedua: ada orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, bahkan semangat ikut salat Tarawih tapi anehnya mereka tidak melaksanakan salat Isya. Padahal, salat Tarawih itu tidak wajib, sedangkan salat Isya itu wajib.
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ، وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا
“Sesungguhnya salat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah salat Isya dan salat Fajar. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada keduanya, tentu mereka akan mendatangi keduanya dalam keadaan merangkak.” (HR. Muslim)
Orang-orang munafik merasa berat untuk melaksanakan salat Isya dan salat Subuh secara berjamaah di masjid. Makanya mereka melaksanakan 2 salat itu di rumah mereka.
Nah, kalau tidak melaksanakan salat Isya secara berjamaah di masjid saja bisa dikategorikan sebagai kemunafikan, maka apalagi kalau yang tidak mengerjakannya sama sekali!
Keanehan ketiga: ada orang-orang yang selama di bulan Ramadhan tidak berpuasa, tidak melaksanakan salat Tarawih, bahkan tidak melaksanakan salat lima waktu sama sekali!
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ العَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ
“Siapa meninggalkan salat Asar, maka lenyaplah seluruh amal kebaikannya.” (HR. Bukhari)
Kalau meninggalkan salat Asar saja berakibat hilangnya pahala puasa kita, hilangnya pahala sedekah kita, hilangnya pahala haji kita, dan hilangnya pahala seluruh amalan kita, lantas bagaimana kalau yang kita tinggalkan bukan cuma salat Asar, melainkan juga salat Magrib, Isya, Subuh dan Zuhur?!
Keanehan keempat: ada orang-orang yang tahu bahwa bulan Ramadhan adalah bulan di mana pintu ampunan dibuka lebar-lebar, pahala dilipatgandakan, dan dosa diperberat, tapi anehnya mereka malah terus melakukan kemaksiatan. Masih saja berjudi. Masih saja meminum minuman keras. Masih saja menjual barang-barang haram.
Suatu hari Rasulullah ﷺ naik mimbar lalu mengucapkan, “Amin. Amin. Amin.”
Beliau mengucapkan itu sebanyak tiga kali. Ada yang bertanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا كُنْتَ تَصْنَعُ هَذَا؟
“Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan demikian?”
Rasulullah ﷺ menjawab:
قَالَ لِي جِبْرِيلُ: رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا لَمْ يُدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، قُلْتُ: آمِينَ.
“Jibril berkata kepadaku, ‘Hinalah seorang hamba yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya sudah berusia lanjut, namun itu tidak bisa membuatnya masuk surga.’ Aku pun berkata, ‘Amiin.’
ثُمَّ قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَقُلْتُ: آمِينَ.
Kemudian Jibril berkata, ‘Hinalah seorang hamba yang sempat menjumpai Ramadhan tapi ia tidak diampuni oleh Allah.’ Aku pun berkata, ‘Amiin.’
ثُمَّ قَالَ: رَغِمَ أَنْفُ امْرِئٍ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ، فَقُلْتُ: آمِينَ
Kemudian Jibril berkata, ‘Hinalah seorang hamba yang disebutkan namaku di sisinya tapi ia tidak mengucapkan salawat untukmu.’ Aku pun berkata, ‘Amiin.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Rasulullah ﷺ mengaminkan doa jibril untuk orang yang menyiakan-nyiakan Ramadhan agar ia celaka. Orang tersebut menyia-nyiakan Ramadhan dengan berbuat dosa atau melakukan perkara sia-sia sehingga akhirnya dosa-dosanya tidak diampuni.
Nah, kalau seseorang di bulan yang penuh ampunan saja ia tidak mendapat ampunan, maka bagaimana pula jika di bulan lainnya?!
Imam Qatadah As-Sadusi berkata:
كان يقال: من لم يغفر له في رمضان فلن يغفر له فيما سواه
“Dikatakan: siapa yang di bulan Ramadhan tidak mendapat ampunan, maka di luar bulan Ramadhan lebih sulit lagi mendapatkan ampunan.” (Lathaif Al-Ma’arif)
Siberut, 8 Ramadhan 1443
Abu Yahya Adiya






