Permasalahan Seputar Jihad (Bag. 5)
Bagaimana memperlakukan mata-mata? Salamah bin Al-Akwa’ berkata: أَتَى النَّبِيَّ ﷺ عَيْنٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَهُوَ فِي سَفَرٍ، فَجَلَسَ عِنْدَ أَصْحَابِهِ يَتَحَدَّثُ ثُمَّ انْفَتَلَ، فَقَالَ النَّبِيُّ
Bagaimana memperlakukan mata-mata? Salamah bin Al-Akwa’ berkata: أَتَى النَّبِيَّ ﷺ عَيْنٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَهُوَ فِي سَفَرٍ، فَجَلَسَ عِنْدَ أَصْحَابِهِ يَتَحَدَّثُ ثُمَّ انْفَتَلَ، فَقَالَ النَّبِيُّ
“Apabila anak yatim datang kepadanya untuk meminta sesuatu atau berbicara kepadanya tentang suatu urusan, engkau dapati ia meremehkan anak yatim tersebut dan menolaknya dengan kasar,
“Dia orang murtad dan pendusta!” Itulah perkataan seseorang di hadapan Rabī’ah bin ’Abbād. Rabī’ah bercerita: رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فِي سُوقِ ذِي الْمَجَازِ وَهُوَ
“Seandainya ada nabi sepeninggalku, niscaya dia adalah ’Umar bin Al-Khaṭṭāb.” (HR. Tirmiżī) Demikianlah Nabi ﷺ menyebutkan keutamaan ’Umar bin Al-Khaṭṭāb. Beliau ﷺ juga bersabda: كُلُّ