Menasehati Penguasa, Secara Tertutup atau Terbuka?
Apakah pantas seseorang menasehati anak kecil di depan umum? Imam Asy-Syafi’i berkata: مَنْ وَعَظَ أَخَاهُ سِرًّا فَقَدْ نصحه وزَانَهُ، وَمَنْ وَعَظَهُ عَلَانِيَةً فَقَدْ فضحه وشَانَهُ
Apakah pantas seseorang menasehati anak kecil di depan umum? Imam Asy-Syafi’i berkata: مَنْ وَعَظَ أَخَاهُ سِرًّا فَقَدْ نصحه وزَانَهُ، وَمَنْ وَعَظَهُ عَلَانِيَةً فَقَدْ فضحه وشَانَهُ
Pujian itu memang terasa ‘nikmat’ di telinga dan membuat ‘nyaman’ dada. Namun, seringnya itu membuat kita terbuai dan terlena. Sedangkan kritikan itu memang terasa menyakitkan,
Suatu hari seseorang mendatangi Nabi ﷺ lalu bertanya: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَمْ نَعْفُو عَنِ الْخَادِمِ؟ “Wahai Rasulullah, sampai berapa kali kami memaafkan pembantu?” Beliau terdiam.
Diberi nasehat, tidak tersentuh. Melihat penderitaan orang lain, tidak terenyuh. Itulah tanda orang yang memiliki hati yang keras. Allah berfirman: فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ