Ada orang yang tidak akan memiliki kehormatan.
Ada orang yang tidak akan memiliki kekuasaan.
Ada orang yang tidak akan memiliki kesetiaan.
Ada orang yang tidak akan memiliki teman.
Ibrahim Al-Baihaqi berkata:
قيل: إنه وجد في كتب الهند: ليس لكذوب مروءة, ولا لضجور رياسة. ولا لملول وفاء ولا لبخيل صديق
“Dikatakan bahwa dalam buku-buku India ada keterangan: seorang pendusta tidak akan memiliki kehormatan, seorang yang banyak mengeluh tidak akan memiliki kekuasaan, seorang yang mudah bosan tidak akan memiliki kesetiaan, dan seorang yang pelit tidak akan memiliki teman.” (Al-Mahasin wa Al-Masawi)
Kedustaan Menghilangkan Kehormatan
Tatkala seseorang diketahui berdusta, jatuhlah kehormatannya. Makin sering berdusta, maka makin jatuhlah kehormatannya.
Al-Ahnaf bin Qais berkata:
اثنان لا يجتمعان أبدا: الكذب والمروءة
“Dua perkara yang tidak mungkin berkumpul selama-lamanya: dusta dan kehormatan.” (‘Uyun Al-Akhbar)
Itu adalah fakta yang bukan hanya diakui oleh orang-orang yang ada di zaman ini, melainkan juga diakui oleh orang-orang yang hidup di zaman jahiliah, zaman kebodohan dan kegelapan,
Ketika Heraclius berdialog dengan kafilah dagang Quraisy, ia menyuruh bawahannya agar menempatkan Abu Sufyan (yang ketika itu belum masuk Islam) di depan, sedangkan teman-temannya di belakangnya.
Lalu Heraclius berkata kepada penerjemahnya:
قُلْ لَهُمْ إِنِّي سَائِلٌ هَذَا عَنْ هَذَا الرَّجُلِ فَإِنْ كَذَبَنِي فَكَذِّبُوهُ
“Katakan kepada mereka, bahwa aku bertanya kepadanya tentang pria yang mengaku nabi itu. Jika ia berdusta kepadaku, maka hendaknya mereka mendustakannya.”
Apa reaksi Abu Sufyan mendengar ucapan Heraclius itu?
Abu Sufyan bercerita:
فَوَاللَّهِ لَوْلَا الْحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَنْهُ
“Demi Allah, kalau bukan rasa malu karena mereka akan menganggapku sebagai pendusta, niscaya aku berdusta kepadanya.” (HR. Bukhari)
Kenapa Abu Sufyan berkata demikian?
Karena berdusta merupakan perbuatan yang memalukan menurut masyarakat di zaman jahiliah. Kalau ada orang yang diketahui berdusta, maka jatuhlah kehormatannya. Karena itulah Abu Sufyan enggan berdusta demi menjaga kehormatannya.
Keluhan Menghilangkan Kekuasaan
Tatkala seseorang mengeluh, tampaklah kelemahannya. Makin sering mengeluh, maka makin tampaklah kelemahannya. Dan untuk memegang kekuasaan, seseorang butuh kekuatan.
Karena itu, orang yang sering mengeluh tidak akan mendapatkan kekuasaan. Kalaupun ia mendapatkan kekuasaan, ia tidak bisa mempertahankannya.
Kebosanan Menghilangkan Kesetiaan
Tatkala seseorang merasa bosan dengan sesuatu, ia akan meninggalkan sesuatu tersebut.
Karena itu, siapa yang mudah bosan dengan pasangannya, temannya, atau siapa pun yang memiliki kontribusi pada hidupnya, maka ia tidak akan setia dan mudah meninggalkan mereka.
Dan itu adalah perilaku yang tercela.
‘Amru bin Al-‘Ash berkata:
لاَ أَمَلُّ ثَوْبِي مَا وَسِعَنِي، وَلاَ أَمَلُّ زَوْجَتِي مَا أَحْسَنَتْ عِشْرَتِي، وَلاَ أَمَلُّ دَابَّتِي مَا حَمَلَتْنِي، إِنَّ المَلاَلَ مِنْ سَيِّئِ الأَخْلاَقِ.
“Aku tidak bosan dengan bajuku selama itu masih muat bagiku. Dan aku tidak bosan dengan istriku selama ia masih baik dalam mempergauliku. Dan aku tidak bosan dengan hewan tungganganku selama ia masih bisa membawaku. Sesungguhnya bosan itu termasuk akhlak yang buruk.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Kepelitan Menghilangkan Pertemanan
Tidak ada seorang pun yang menyukai orang yang pelit. Sampai orang pelit pun tidak suka kepada orang yang pelit.
Bisyr bin Al-Harits berkata:
النَّظَرُ إِلَى الْبَخِيلِ يُقَسِّي الْقَلْبَ وَلِقَاءُ الْبُخَلَاءِ كَرْبٌ عَلَى قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ
“Melihat orang pelit akan mengeraskan hati. Dan bertemu dengan orang-orang pelit adalah bencana bagi hati orang-orang mukmin.” (Ihya ‘Uluum Ad-Diin)
Karena itu, siapa yang pelit, maka ia sulit mendapatkan teman. Kalaupun ia memiliki teman, maka ia sulit mempertahankannya. Makin pelit dirinya, maka makin ‘lenyap’lah teman-temannya.
Siberut, 3 Muharram 1444
Abu Yahya Adiya






