Siapakah Sebenarnya Sayid Itu?

Siapakah Sebenarnya Sayid Itu?

‘Abdullah bin Asy Syikhkhir Radhiallahu’anhu berkata:

انْطَلَقْتُ فِي وَفْدِ بَنِي عَامِرٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: فَقُلْنَا:

“Aku ikut pergi bersama delegasi Bani ‘Amir menemui Rasulullah ﷺ, lalu kami berkata:

أَنْتَ سَيِّدُنَا

“Engkau adalah sayid kami.”

فَقَالَ:

Maka beliau ﷺ bersabda:

السَّيِّدُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

“Sayid yang sebenarnya adalah Allah Yang Maha Suci Lagi Maha Tinggi.”

قُلْنَا:

Kemudian kami berkata:

وَأَفْضَلُنَا فَضْلًا وَأَعْظَمُنَا طَوْلًا

“Dan engkau adalah orang yang paling utama dan paling banyak kebaikannya bagi kami.”

فَقَالَ:

Beliau ﷺ bersabda:

قُولُوا بِقَوْلِكُمْ، أَوْ بَعْضِ قَوْلِكُمْ، وَلَا يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ

“Ucapkanlah semua perkataan kalian atau sebagian perkataan kalian, dan jangan sampai kalian terseret oleh setan!” (HR. Abu Daud).

Sayid artinya:

ذو السؤدد والشرف

“Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.” (Al-Qaul Al-Mufid ‘Ala Kitab At-Tauhid)

Sayid yang sebenarnya adalah Allah artinya:

السؤدد التام لله عز وجل، والخلق كلهم عبيد الله.

“Keagungan yang sempurna adalah milik Allah, sedangkan seluruh makhluk adalah hamba Allah.” (Al-Mulakhkhash Fi Syarh Kitab At-Tauhid)

Ucapkanlah perkataan kalian yaitu:

القول المعتاد لديكم ولا تتكلفوا الألفاظ التي تؤدي الغلو.

“Perkataan yang biasa bagi kalian dan jangan membebani diri dengan kata-kata yang mengantarkan pada sikap berlebihan.” (Al-Mulakhkhash Fi Syarh Kitab At-Tauhid)

atau sebagian perkataan kalian artinya:

أو دعوا بعض قولكم المعتاد واتركوه، تجنبا للغلو.

“Atau tinggalkan sebagian perkataan kalian yang biasa bagi kalian dan tinggalkan itu untuk menjauhi sikap berlebihan.” (Al-Mulakhkhash Fi Syarh Kitab At-Tauhid)

jangan sampai kalian terseret oleh setan artinya:

لا يستميلنكم الشيطان ويجذبنكم إلى أن تقولوا قولا منكرا

“Jangan sampai setan menyimpangkan kalian dan menarik kalian agar mengucapkan perkataan mungkar.” (Al-Qaul Al-Mufid ‘Ala Kitab At-Tauhid)

Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:

المعنى الإجمالي للحديث: لما بالغ هذا الوفد في مدح النبي -صلى الله عليه وسلم- نهاهم عن ذلك؛ تأدبا مع الله وحماية للتوحيد، وأمرهم أن يقتصروا على الألفاظ التي لا غلو فيها ولا محذور؛ كأن يدعوه بمحمد رسول الله كما سماه الله عز وجل.

“Makna hadis ini secara global: tatkala utusan tadi berlebihan dalam memuji Nabi ﷺ, beliau pun melarang mereka melakukan itu, sebagai bentuk kesopanan kepada Allah dan penjagaan terhadap tauhid. Beliau menyuruh mereka agar mencukupkan diri dengan kata-kata yang tidak berlebihan dan tidak terlarang, seperti memanggil beliau dengan Muhammad Rasulullah, sebagaimana yang Allah sebut.” (Al-Mulakhkhash Fi Syarh Kitab At-Tauhid)

 

Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:

 

  1. As-Sayyid termasuk nama Allah.

 

  1. Di antara sifat yang Allah miliki adalah suci dan tinggi.

 

  1. Larangan memuji seseorang secara berlebihan.

 

  1. Nabi ﷺ adalah sosok yang rendah hati dan menjaga adab kepada Tuhannya.

 

  1. Sayid yang sesungguhnya adalah Allah. Sebab, keagungan yang sempurna hanyalah milik Allah.

Pertanyaan:

Apakah dilarang memanggil seseorang dengan ‘sayid’?

Bukankah disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim bahwa Nabi ﷺ sendiri pernah berkata:

أنا سيد ولد آدم

“Aku adalah sayid (pemimpin) keturunan Adam”?

Apakah ada pertentangan antara hadis ini dengan perkataan beliau: Sayid yang sebenarnya adalah Allah?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

والذي يظهر لي أن لا تعارض أصلا; لأن النبي صلى الله عليه وسلم أذن لهم أن يقولوا بقولهم، لكن نهاهم أن يستجريهم الشيطان بالغلو مثل (السيد) ; لأن السيد المطلق هو الله تعالى،

“Yang tampak bagiku yaitu tidak ada pertentangan sama sekali. Sebab, Nabi ﷺ telah mengizinkan mereka mengucapkan perkataan mereka tadi, akan tetapi beliau melarang mereka agar tidak diseret oleh setan dengan sikap berlebihan seperti lafal sayid secara mutlak. Sebab, sayid secara mutlak adalah Allah.

وعلى هذا; فيجوز أن يقال: سيدنا وسيد بني فلان ونحوه، ولكن بشرط أن يكون الموجه إليه السيادة أهلا لذلك،

Karena itu, boleh dikatakan, ‘Sayid kami dan sayid Bani Fulan’ dan semacamnya, dengan syarat orang yang dikatakan sayid itu memang pantas mendapatkan sebutan itu.

أما إذا لم يكن أهلا كما لو كان فاسقا أو زنديقا; فلا يقال له ذلك حتى ولو فرض أنه أعلى منه مرتبة أو جاها،

Adapun kalau ia tidak pantas, sebagaimana kalau ia adalah orang fasik atau zindiq, maka tidak boleh dikatakan bahwa ia sayid, walaupun seandainya ia lebih tinggi kedudukannya.

وقد جاء في الحديث:

Dan disebutkan dalam suatu hadis:

ولا تقولوا للمنافق سيد; فإنكم إذا قلتم ذلك أغضبتم الله

“Jangan kalian katakan ‘sayid’ kepada seorang munafik. Jika kalian mengatakan itu, maka kalian telah membuat Allah murka.”

فإذا كان أهلا لذلك وليس هناك محذور; فلا بأس به،

Kalau memang seseorang pantas mendapatkan sebutan itu dan tidak menimbulkan perkara yang mengkhawatirkan, maka sebutan itu tidak mengapa.

وأما إن خشي المحذور أو كان غير أهل; فلا يجوز.

Adapun kalau dikhawatirkan menimbulkan perkara yang mengkhawatirkan, atau orang itu tidak pantas mendapatkan sebutan tadi, maka tidak boleh menyebut sayid kepadanya.

والمحذور: هو الخشية من الغلو فيه.

Dan perkara yang mengkhawatirkan di sini  maksudnya kekhawatiran akan sikap berlebihan.” (Al-Qaul Al-Mufid ‘Ala Kitab At-Tauhid)

 

  1. Hendaknya seseorang tidak berlebihan dalam berbicara dan mengucapkan suatu perkataan.

 

  1. Disyariatkan menjaga tauhid dari segala yang akan merusaknya, baik berupa perkataan maupun perbuatan.

Siberut, 20 Shafar 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Mulakhash fi Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
  2. Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.