Setelah Allah memerintahkan Adam dan Hawa untuk tinggal di surga serta mempersilakan mereka memakan makanan apa pun yang ada di dalamnya, Allah juga mewanti-wanti keduanya agar tidak memakan pohon larangan. Namun, mereka melanggar larangan tersebut. Allah mengabarkan:
- فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ
Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga itu sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) yang telah mereka rasakan di sana. Dan Kami berfirman, “Turunlah kalian! Sebagian kalian menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kalian ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.”
Allah mengabarkan dalam ayat ini bahwa setan berhasil memperdayakan Adam dan Hawa sehingga keduanya mau memakan pohon larangan. Akibatnya?
Mereka harus meninggalkan berbagai kenikmatan yang telah mereka rasakan di surga. Allah memerintahkan mereka keluar dari surga dan tinggal di bumi. Dia juga mengabarkan bahwa sebagian mereka akan menjadi musuh bagi yang lain.
Apa maksud permusuhan di sini?
Al-’Allāmah Ṣiddīq Ḥasan Khān menjelaskan bahwa maksud permusuhan di sini yaitu:
العداوة التي بين المؤمنين من ذرية آدم وبين إبليس
“Permusuhan yang terjadi antara orang-orang yang beriman dari keturunan Adam dengan Iblis.” (Fatḥu Al-Bayān fī Maqāsid Al-Qur‘an)
Kemudian Allah mengabarkan bahwa mereka akan hidup di bumi dan menikmati berbagai kenikmatan yang ada di dalamnya. Namun, hal itu tidak berlangsung selama-lamanya, melainkan hanya sampai waktu yang ditentukan yaitu hari kiamat.
Faidah yang dapat kita petik dari ayat tadi:
- Peringatan agar jangan sampai setan menggelincirkan kita sebagaimana ia telah menggelincirkan leluhur kita, yaitu Adam. Setan telah menggelincirkannya hingga beliau dikeluarkan dari tempat yang terbaik. Allah menyebutkan kisah tersebut bukan tanpa maksud dan tujuan, melainkan agar kita dapat mengambil pelajaran.
- Maksiat hanya mengantarkan pada penderitaan. Apa yang menyebabkan Adam keluar dari tempat yang penuh kenikmatan menuju tempat yang penuh keletihan? Bukankah hal itu disebabkan oleh kemaksiatan? Bukankah karena mengikuti kemauan setan?
- Setan adalah musuh manusia.
Dalam ayat lain, Allah menyebutkan dengan jelas:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Sesungguhnya setan itu musuh bagi kalian, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fāṭir: 6)
Kalau memang setan adalah musuh manusia, maka kita harus berhati-hati darinya, bukan justru mengidolakannya.
- Surga berada di tempat yang tinggi.
Oleh karena itu Allah berfirman kepada Adam dan Hawa, “Turunlah…”
- Hidup di dunia itu sementara.
Olah karena itu, Allah berfirman: “Bagi kalian ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.”
Artinya, kita tidak akan hidup selama-lamanya di dunia. Suatu saat, kita akan berpisah dengan dunia dan meninggalkannya.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kalian.” (QS. Fāṭir: 5)
Oleh karena itu, jangan sampai kita tertipu oleh angan-angan panjang di dunia hingga melupakan kampung kita yang sebenarnya yaitu akhirat.
Siberut, 19 Sya’bān 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Aisar At-Tafāsīr li Kalām Al-‘Aliyy Al-Kabīr Syekh Abū Bakr Al-Jazāirī.
- Tafsīr Al-Fatiḥah wa Al-Baqarah karya Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-Uṡaimīn.
- Fatḥu Al-Bayān fī Maqāsid Al-Qur‘an karya Al-’Allāmah Ṣiddīq Ḥasan Khān.






