Surat Al-Baqarah Ayat 35

Surat Al-Baqarah Ayat 35

Setelah Allah menciptakan Adam dan melebihkannya di atas makhluk yang lain, Dia menyempurnakan baginya nikmat-Nya tersebut. Allah berfirman:

 

  1. وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

Kami berfirman, “Hai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat berbagai makanan yang ada di sana sesuka kalian, tapi jangan kalian dekati pohon ini, yang menyebabkan kalian termasuk orang-orang yang zalim.

 

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia menyempurnakan nikmat-Nya bagi Adam dengan menciptakan pasangannya yaitu Hawa agar ia merasa tenang dan tenteram kepadanya. Lalu Allah memerintahkan keduanya untuk tinggal di surga dan mempersilakan mereka memakan makanan apa pun yang ada di dalamnya, sesuka hati mereka.

Mereka dapat bersenang-senang di dalamnya. Namun, Allah mewanti-wanti mereka agar tidak memakan pohon larangan, yaitu pohon yang Dia tetapkan terlarang untuk dimakan sebagai bentuk ujian dari-Nya.

Siapa yang menjauhi larangan tersebut, maka ia orang yang taat kepada-Nya. Sebaliknya, siapa yang melanggar larangan tersebut, maka ia orang yang durhaka kepada-Nya dan menzalimi dirinya sendiri.

 

Faidah yang dapat kita petik dari ayat ini:

 

  1. Allah memiliki sifat berbicara dan perkataan-Nya sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.

Hal ini tampak ketika Allah memerintahkan Adam dan istrinya untuk tinggal di surga dan mempersilakan mereka memakan makanan apa pun yang ada di dalamnya

 

  1. Perkataan Allah itu dengan suara yang terdengar dan huruf yang tersusun.

Hal ini tampak dalam firman-Nya tadi:

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ

“Kami berfirman, ‘Hai Adam, tinggallah…” hingga akhir ayat.

Seandainya perkataan Allah tanpa suara yang terdengar dan huruf yang tersusun, tentu itu tidak akan dipahami oleh Adam.

Ini merupakan bantahan terhadap sekte Asy’ariyyah yang menyatakan bahwa maksud perkataan Allah yaitu makna yang ada pada diri Allah, bukan suara dan bukan huruf yang tersusun.

 

  1. Karunia Allah kepada Adam dan istrinya, karena Dia telah menempatkan keduanya di surga.

 

  1. Nikah adalah sunah para rasul yang disyariatkan sejak Allah menciptakan Adam.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّة

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelummu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (QS. Ar-Ra’d: 38)

Selain sunnah para rasul, itu merupakan kebutuhan fitrah manusia.

 

  1. Buah-buahan di surga selalu ada pada setiap waktu, tidak hanya pada waktu tertentu. Hal ini tampak dalam firman-Nya tadi: “Makanlah dengan nikmat berbagai makanan yang ada di sana sesuka kalian.”

Allah berfirman tentang buah-buahan surga:

وَفَاكِهَةٍ كَثِيرَةٍ لَا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ

“Dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya.” (QS. Al-Wāqi’ah: 32-33)

 

  1. Kadang Allah menguji hamba-Nya dengan melarang melakukan sesuatu yang sebenarnya sangat diinginkan oleh hatinya, sebagaimana firman-Nya: “Janganlah kalian dekati pohon ini.”

Sisi pendalilan dari kalimat ini yaitu seandainya hati tidak menginginkannya, tentu tidak butuh larangan untuk mendekatinya.

 

  1. Penetapan adanya sebab akibat. Segala sesuatu yang terjadi di dunia pasti ada sebabnya, sebagaimana firman-Nya: “Janganlah kalian dekati pohon ini, yang menyebabkan kalian termasuk orang-orang yang zalim.”

Adam dan istrinya bisa menjadi zalim disebabkan makan pohon terlarang itu.

 

  1. Maksiat kepada Allah pada hakikatnya merupakan kezaliman terhadap diri sendiri, sebagaimana firman-Nya: “Janganlah kalian dekati pohon ini, yang menyebabkan kalian termasuk orang-orang yang zalim.”

Maka, orang yang berbuat dosa dan maksiat sebenarnya telah menzalimi, menyakiti dan menganiaya dirinya sendiri.

 

Siberut, 12 Sya’bān 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Tafsīr Al-Fatiḥah wa Al-Baqarah karya Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-Uṡaimīn.
  2. Taisīr Al-Karīm Ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām Al-Mannān karya Syekh Abdurraḥmān As-Sa’dī.