Allah mengingatkan Bani Israel tentang nikmat-Nya yang telah Dia anugerahkan kepada mereka. Dia juga mengingatkan mereka untuk memenuhi janji mereka kepada-Nya. Kalau mereka melakukan itu, niscaya Dia membalas perbuatan mereka tersebut dengan sebaik-baik pembalasan. Selain itu, Dia mengingatkan mereka untuk takut hanya kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya.
Setelah menyebutkan demikian, Allah berfirman:
- وَآمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ
Dan berimanlah kalian kepada apa yang telah Kuturunkan yang membenarkan apa yang ada pada kalian, dan janganlah kalian menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kalian menjual ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada-Kulah kalian harus bertakwa.
Allah memerintahkan Bani Israel untuk beriman kepada Al-Quran yang telah Dia turunkan kepada Muhammad ﷺ. Kitab suci yang membenarkan Taurat dan Injil serta membenarkan kabar yang disebutkan dalam keduanya. Di antara kabar yang disebutkan dalam keduanya, yaitu kedatangan nabi terakhir yakni Muhammad ﷺ, penyebutan sifat-sifatnya dan kitab suci yang ia bawa, yaitu Al-Quran.
Selain memerintahkan mereka untuk melakukan demikian, Allah melarang mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan demikian, yaitu mengingkari demikian. Bukan sekadar melarang mereka untuk kafir, Allah melarang mereka menjadi orang yang pertama kafir kepadanya. Sebab, kalau memang mereka telah tahu tentang kedatangan nabi terakhir sebagaimana disebutkan dalam kitab suci mereka, maka sangat tidak pantas bagi mereka untuk menjadi orang yang pertama kali kafir kepadanya. Justru seharusnya mereka menjadi orang yang pertama kali beriman sebelum yang lain!
Kemudian, Allah mengingatkan mereka agar tidak menjual ayat-ayat-Nya dengan harga yang rendah. Artinya, jangan sampai mereka menolak ayat-ayat-Nya karena kepentingan yang remeh. Jangan sampai mereka kafir kepada ayat-ayat-Nya karena ingin mendapatkan sesuatu yang rendah dan hina, yaitu dunia.
Sebab, Bani Israel tidaklah kafir kecuali karena menginginkan kedudukan, harta, dan kepentingan dunia lainnya. Padahal, seandainya mereka mengikuti Nabi Muhammad ﷺ niscaya mereka menempati kedudukan yang mulia dan mendapatkan pahala dua kali lipat.
Nabi ﷺ bersabda:
ثلاثةٌ لهُمْ أَجْرانِ:
“Ada tiga orang yang mendapat pahala dua kali lipat.”
Beliau ﷺ menyebutkan salah satunya:
رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الكِتَابِ آمَنَ بنبيَّه وآمنَ بمُحَمدٍ صلى الله عليه وسلم
“Seorang ahli kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepada Muhammad.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun, sayangnya, cinta kepada dunia menyebabkan mereka enggan beriman kepada Nabi-Nya.
Lalu Allah memerintahkan mereka untuk bertakwa hanya kepada-Nya.
Kalau memang mereka bertakwa hanya kepada-Nya, tentu ketakwaan mereka itu akan mendorong mereka untuk mendahulukan iman kepada ayat-ayat-Nya dibandingkan mendapatkan dunia yang rendah dan hina.
Faidah yang dapat kita petik dari ayat di atas:
- Bani Israel wajib beriman kepada kitab yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, yaitu Al-Quran.
- Inti semua kitab suci adalah sama yaitu mengajak manusia untuk mengesakan Allah
- Kedatangan Nabi Muhammad ﷺ telah disebutkan dalam kitab-kitab sebelum Al-Quran.
- Orang yang mengetahui kebenaran sudah selayaknya lebih cepat menerimanya daripada orang yang tidak mengetahuinya.
- Siapa yang menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang rendah, maka ia telah menyerupai orang-orang Yahudi.
Seperti orang yang menggunakan ayat-ayat Allah dan menggunakan agama-Nya untuk mencari dunia. Orang tersebut telah menyerupai orang-orang Yahudi.
Seperti orang yang berfatwa membolehkan komunisme, membolehkan bunga bank, dan membolehkan perkara lain yang jelas-jelas haram.
- Semua yang ada di dunia ini adalah rendah.
Allah berfirman:
قل متاع الدنيا قليل والآخرة خير لمن اتقى
“Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. An-Nisā’: 77)
Nabi ﷺ bersabda:
وَاللهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ؟
“Demi Allah, tidaklah perbandingan dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian yang mencelupkan jarinya ke laut maka perhatikanlah apa yang ia dapat?” (HR. Muslim)
- Wajibnya bertakwa kepada Allah
Siberut, 8 Żulqa’dah 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Tafsīr Al-Fatiḥah wa Al-Baqarah karya Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-Uṡaimīn.
- Taisīr Al-Karīm Ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām Al-Mannān karya Syekh Abdurraḥmān As-Sa’dī.






