Antara Syirik dan Ampunan-Nya

Antara Syirik dan Ampunan-Nya

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh, ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisaa: 48)

Ada beberapa faidah yang bisa kita petik dari ayat ini:

 

  1. Siapa yang terjatuh ke dalam syirik, lalu mati dalam keadaan belum bertobat dari dosanya itu, maka Allah tidak akan mengampuninya.

Dan kalau Allah tidak mengampuninya, berarti di mana tempat kembalinya?

Allah berfirman:

مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ

“Tidaklah pantas orang-orang musyrik memakmurkan masjid Allah, padahal mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Mereka itu sia-sia amal mereka dan mereka akan kekal di neraka.” (QS. At-Taubah: 17)

 

  1. Siapa yang terjatuh ke dalam dosa selain syirik (meminum minuman keras, berdusta, dan memakan riba, dan semacamnya), lalu mati dalam keadaan belum bertobat dari dosanya itu, maka ia di bawah kehendak Allah.

Ya, di bawah kehendak Allah. Kalau Allah mau, ia diampuni sehingga bisa langsung masuk surga. Dan kalau Allah mau, ia tidak diampuni sehingga harus disiksa di neraka. Tapi…

Tidak selama-lamanya. Suatu waktu Allah mengeluarkannya dari neraka lalu memasukkannya ke surga.

 

  1. Syirik adalah dosa yang paling besar di antara dosa-dosa besar lainnya. Lebih besar daripada berzina, mencuri, korupsi dan berbagai dosa besar lainnya.

Dan itu kenyataan yang tidak disadari oleh banyak kaum muslimin.

Suatu hari Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab mengabarkan kepada murid-muridnya bahwa di suatu kampung ada orang yang menyembelih ayam untuk jin ketika menempati rumah baru. Ia menyembelih itu supaya rumahnya aman dan tidak diganggu oleh Jin.

Setelah Syekh mengabarkan demikian, ternyata reaksi murid-muridnya hanya mendoakan laki-laki itu supaya dapat hidayah dan mereka pun diam.

Esok harinya, Syekh bertemu kembali dengan mereka dan berkata, “Aku telah mengecek kabar yang kemarin. Ternyata perkaranya tidak seperti yang sampai kepadaku. Laki-laki itu ternyata tidak menyembelih seekor ayam jantan untuk jin, akan tetapi ia telah berzina dengan ibunya sendiri!”

Spontan para muridnya sangat emosi. Mereka mencela dan terus mencela orang itu. Mereka berkata, “Orang itu harus diingkari, harus dinasehati, harus dihukum!”

Mereka sangat gaduh dan ramai…

Syekh kemudian berkata, “Sungguh aneh kalian ini! Kalian mengingkari orang yang terjatuh pada dosa besar, padahal dosa itu tidak menyebabkan ia keluar dari Islam, namun anehnya kalian tidak mengingkari orang yang melakukan perbuatan syirik, yaitu menyembelih hewan untuk selain Allah!”

Artinya, bagaimana bisa kalian mengingkari perbuatan zina dengan orang tua sendiri, tapi kalian tidak mengingkari perbuatan menyembelih hewan untuk selain Allah?!

Berzina dengan orang tua sendiri memang dosanya sangat besar, tapi menyembelih hewan untuk selain Allah itu dosanya lebih besar lagi.

Sebab, berzina tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam, sedangkan menyembelih hewan untuk selain Allah adalah syirik bisa menyebabkan pelakunya keluar dari Islam!

Siberut, 16 Sya’ban 1441

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Mulakhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan
  2. Irkab Ma’ana karya Dr Muhammad Al-‘Arifi.