Tujuan Datangnya Musibah

Tujuan Datangnya Musibah

Orang kafir kena musibah berkali-kali lalu tidak sadar, itu wajar. Sedangkan seorang muslim kena musibah berkali-kali lalu tidak juga sadar? Itu tidak wajar!

Karena, apa tujuan Allah memberikan musibah kepada hamba-hamba-Nya?

Allah berfirman:

وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali.” (QS. Al-A’raaf: 168)

Ya, agar mereka kembali. Kembali kepada siapa dan untuk apa?

Imam Ath-Thabari menjelaskan:

ليرجعوا إلى طاعة ربهم وينيبوا إليها، ويتوبوا من معاصيه

“Agar mereka kembali lagi menaati Tuhan mereka dan bertobat dari mendurhakai-Nya.” (Jami’ Al-Bayan Fii Tawiil Al-Quran)

Dan Allah berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. Ar-Ruum: 41)

Ya, agar mereka kembali. Kembali kepada siapa dan untuk apa?

Imam Ath-Thabari menjelaskan:

كي ينيبوا إلى الحقّ، ويرجعوا إلى التوبة، ويتركوا معاصي الله.

“Agar mereka kembali kepada kebenaran dan bertobat serta meninggalkan kemaksiatan kepada Allah.” (Jami’ Al-Bayan Fii Tawiil Al-Quran)

Dan Allah berfirman:

وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan sungguh, Kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia) sebelum siksa yang lebih besar (di akhirat); agar mereka kembali.” (QS. As-Sajdah: 21)

Ya, agar mereka kembali. Kembali kepada siapa dan untuk apa?

Imam Ath-Thabari menjelaskan:

كي يرجعوا ويتوبوا بتعذيبهم العذاب الأدنى

“Agar mereka kembali dan bertobat karena siksa dunia yang menimpa mereka.” (Jami’ Al-Bayan Fii Tawiil Al-Quran)

Allah memberikan musibah kepada hamba-hamba-Nya agar mereka kembali kepada-Nya, menaati-Nya dan tidak mendurhakai-Nya.

Karena itu, jika kita harus menghadapi penyakit, kehilangan orang yang kita cintai dan harta yang kita sayangi, serta musibah lainnya, maka sadarilah bahwa itu adalah teguran dari-Nya.

Ya, teguran dari-Nya. Agar kita sadar akan kelalaian kita. Agar kita menghentikan dosa kita.

Dan itu juga merupakan penghapus dosa kita.

Nabi ﷺ bersabda:

مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim merasakan letih, sakit, sedih, pedih, gangguan, dan kegundahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan dengan sebab semua itu Allah menghapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, hentikanlah perbuatan dosa dan sambutlah musibah yang Dia berikan dengan lapang dada.

Kalaupun mata, lisan, tangan, dan anggota badan kita memang sudah terjaga dari dosa, maka tetap sambutlah pemberian-Nya dengan lapang dada. Karena, Allah sedang mengangkat derajat kita.

Nabi ﷺ bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً، أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً

“Tidaklah seorang mukmin mendapatkan musibah berupa tertusuk duri atau lebih parah dari itu kecuali dengan sebab itu Allah mengangkat derajatnya atau menghapus dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Siberut, 5 Syawwal 1444

Abu Yahya Adiya