- Wajibnya berjihad bersama pemimpin yang baik maupun fasik.
Imam Bukhārī berkata:
بَابٌ: الْجِهَادُ مَاضٍ مَعَ الْبَرِّ وَالْفَاجِرِ لِقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ
“Bab: jihad terus berlangsung bersama pemimpin yang baik maupun pendosa, karena sabda Nabi ﷺ:
الْخَيْلُ مَعْقُودٌ فِي نَوَاصِيهَا الْخَيْرُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Kuda terikat pada ubun-ubunnya kebaikan hingga hari kiamat.” (Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī)
Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar berkata:
قوله: (لقول النبي ﷺ الخيل معقود إلخ) سبقه إلى الاستدلال بهذا الإمام أحمد، لأنه ﷺ ذكر بقاء الخير في نواصي الخيل إلى يوم القيامة، وفسره بالأجر والمغنم، المغنم المقترن بالأجر إنما يكون من الخيل بالجهاد، ولم يقيد ذلك بما إذا كان الإمام عادلا فدل على أن لا فرق في حصول هذا الفضل بين أن يكون الغزو مع الإمام العادل أو الجائر.
“Perkataan Bukhārī ‘karena sabda Nabi ﷺ bahwa kuda terikat pada ubun-ubunnya kebaikan dan seterusnya’, Imam Aḥmad telah mendahuluinya dalam menggunakan hadis ini sebagai dalil. Sebab, beliau menyebutkan bahwa kebaikan tetap ada pada ubun-ubun kuda hingga hari kiamat. Beliau menafsirkannya dengan pahala dan rampasan perang. Rampasan perang yang disertai dengan pahala itu hanya diperoleh dari kuda yang digunakan untuk berjihad. Dan beliau tidak membatasi itu dengan syarat bahwa pemimpin haruslah adil. Itu menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan dalam mendapatkan keutamaan ini antara berperang dengan pemimpin yang adil maupun zalim.’ ” (Fatḥu Al-Bārī Syarḥ Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī)
- Wajib menaati pemimpin dalam perkara yang baik
Suatu hari ’Abdullāh bin Ḥużāfah As-Sahmī dan pasukannya menyalakan api unggun. Lalu ia berkata kepada mereka:
أليس لي عليكم السمع والطاعة؟
“Bukankah kewajiban kalian mendengar dan menaatiku?”
Mereka menjawab:
بلى
“Tentu.”
’Abdullāh bertanya kembali:
فما أنا بآمركم بشيء، إلا صنعتموه؟
“Tidaklah kuperintahkan kalian untuk melakukan sesuatu kecuali kalian kerjakan?”
Mereka menjawab:
نعم
“Ya.”
’Abdullāh pun berkata:
فإني أعزم عليكم، إلا تواثبتم في هذه النار
“Sesungguhnya aku benar-benar ingin kalian loncat ke dalam api ini!”
Mendengar perkataan itu, para anggota pasukan pun saling memandang. Apakah perintah sang komandan mesti ditaati atau tidak?
Lalu berdirilah beberapa orang bersiap-siap untuk meloncat ke dalam api besar yang menyala-nyala di depan mereka.
Ketika ’Abdullah mengira bahwa mereka akan melompat ke dalam api, ia pun berkata:
أَمْسِكُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّمَا كُنْتُ أَمْزَحُ مَعَكُمْ
“Tahanlah diri kalian, karena sesungguhnya aku hanya bergurau dengan kalian!”
Ketika rombongan pasukan itu tiba di Madinah, mereka menceritakan kejadian itu kepada Nabi ﷺ. Maka beliau bersabda:
مَنْ أَمَرَكُمْ مِنْهُمْ بِمَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلَا تُطِيعُوهُ
“Siapa yang menyuruh kalian untuk bermaksiat kepada Allah, maka janganlah kalian menaatinya!” (HR. Ibnu Mājah)
Dalam riwayat lain, Nabi bersabda:
لو دَخَلوها ما خَرَجوا منها أبدًا؛ إنَّما الطَّاعةُ في المعروفِ
“Seandainya mereka masuk ke dalamnya, niscaya mereka tidak keluar darinya selama-lamanya. Ketaatan itu hanya dalam perkara baik.” (HR. Bukhārī)
Imam Ibnu Hubairah berkata:
في هذا الحديث من الفقه أنه تجوز طاعة الأمير إلى الحد الذي لا ينتهي إلى معصية الله عز وجل، فإذا انتهى إليها فحينئذ لا طاعة له ولا لغيره
“Dalam hadis ini terdapat faidah fikih bahwa diperbolehkan menaati pemimpin sampai batas yang tidak mengantarkan pada kemaksiatan kepada Allah. Jika mengantarkan pada demikian, maka ketika itu tidak ada ketaatan kepadanya, maupun kepada selainnya.”
Beliau melanjutkan:
وفيه أيضًا أن المأمورين إذا رأوا أميرهم قد أمرهم بما يتحققون أنه معصيه لله عز وجل فواجب عليهم أن لا يطيعوه، ألا تسمع إلى قول رسول الله ﷺ: (لو دخلوها لم يخرجوا منها أبدًا)؟ وفيه أن طاعة الأمير إنما هي فرع على طاعة الله عز وجل التي هي الأصل، فإذا انتهت المراعاة لحفظ فرع من الفروع إلى أن ينتقض ذلك الأصل الذي بنيت الفروع عليه نبا في الحكم فبطل من أصله.
“Dan dalam hadis ini juga terdapat faidah, yakni jika orang-orang yang diperintah melihat pemimpin mereka telah menyuruh mereka untuk melakukan perkara yang mereka pastikan bahwa itu maksiat kepada Allah, maka mereka wajib untuk tidak menaatinya. Tidakkah engkau mendengar perkataan Rasulullah ﷺ ‘Seandainya mereka masuk ke dalamnya, niscaya mereka tidak keluar darinya selama-lamanya’? Dan dalam hadis ini juga terdapat faidah, yakni ketaatan kepada pemimpin hanyalah cabang dari ketaatan kepada Allah yang merupakan pokok. Jika memerhatikan salah satu cabang mengantarkan pada runtuhnya pokok yang menjadi landasan bagi cabang, maka hukum yang dibangun di atasnya menjadi tidak valid dan batal dari dasarnya.” (Al-Ifṣāh ‘an Ma‘ānī As-Sihāh)
- Pemimpin boleh menyamarkan tujuan perang
Imam Asy-Syaukānī berkata:
وأما كونه يشرع للإمام إذا أراد غزوا أن يورى بغير ما يريده فلحديث كعب بن مالك عن النبي ﷺ أنه كان إذا أراد غزوة ورى بغيرها وهو في الصحيحين وغيرهما.
“Adapun mengenai disyariatkannya imam (pemimpin) jika hendak berperang untuk menyembunyikan niat sebenarnya dengan sesuatu yang berbeda dari yang sebenarnya diinginkan, maka itu berdasarkan hadits Ka’b bin Mālik dari Nabi ﷺ bahwa beliau jika hendak melakukan suatu perang, beliau menyembunyikan tujuan sebenarnya dengan sesuatu yang lain, dan hadis ini diriwayatkan dalam Saḥīḥain (Bukhari dan Muslim) serta selain keduanya.” (Ad-Darārī Al-Muḍiyyah Syarḥ Ad-Durar Al-Bahiyyah)
Imam An-Nawawī menyebutkan juga faidah dari Hadis Ka’b bin Mālik tadi:
أَنَّهُ يَنْبَغِي لِأَمِيرِ الْجَيْشِ إِذَا أَرَادَ غَزْوَةً أَنْ يُوَرِّيَ بِغَيْرِهَا لِئَلَّا يَسْبِقَهُ الْجَوَاسِيسُ وَنَحْوُهُمْ بِالتَّحْذِيرِ إِلَّا إِذَا كَانَتْ سُفْرَةً بَعِيدَةَ فَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُعَرِّفَهُمُ الْبُعْدَ لِيَتَأَهَّبُوا
“Sepantasnya bagi pemimpin pasukan, apabila ingin melakukan penyerangan untuk menyamarkannya dengan selainnya, agar tidak didahului oleh para mata-mata dan semacam mereka dengan memberikan peringatan, kecuali jika perjalanan perang tersebut jauh, maka dianjurkan untuk memberi tahu mereka tentang jauhnya perjalanan agar mereka dapat bersiap-siap.” (Al-Minhāj Syarḥ Saḥīḥ Muslim bin Al-Ḥajjāj)
- Bolehnya pemimpin mengirim mata-mata
Imam Asy-Syaukānī berkata:
وأما كونه يشرع له أن يذكي العيون فلحديث جابر في الصحيحين وغيرهما أن النبي ﷺ قال يوم الأحزاب
“Adapun disyariatkan bagi imam (pemimpin) untuk mengirim mata-mata, maka itu berdasarkan hadits Jābir dalam Saḥīḥain (Bukhari dan Muslim) dan lainnya, bahwa Nabi ﷺ berkata pada hari perang Aḥzāb:
من يأتيني بخبر القوم؟
“Siapa yang akan membawakan kabar tentang pasukan musuh kepadaku?”
فقال الزبير:
Maka Zubair menjawab:
أنا
“Aku.”
الحديث وثبت في صحيح مسلم رحمه الله وغيره أن النبي ﷺ بعث عينا ينظر عير أبي سفيان وثبت أنه بعث من يأتيه بمقدار جيش المشركين يوم بدر وغيره وكان يأمر من يستطلع أخبار العدو ويقف في المواضع التي بينه وبينهم وذلك مدون في الكتب الموضوعة في السير والغزوات.
Dan telah sahih dalam Saḥīḥ Muslim-semoga Allah merahmatinya-, dan lainnya, bahwa Nabi ﷺ mengirim mata-mata untuk mengawasi kafilah Abū Sufyān. Juga telah sahih bahwa beliau mengirim orang yang memberinya informasi tentang jumlah pasukan musyrikin pada hari perang Badr dan selainnya. Beliau memerintahkan orang yang mengorek berita musuh dan berdiri di tempat-tempat yang berada di antara beliau dan musuh. Semua ini tercatat dalam buku-buku yang khusus membahas sejarah dan perang.” (Ad-Darārī Al-Muḍiyyah Syarḥ Ad-Durar Al-Bahiyyah)
- Disyariatkan mengatur pasukan dan menetapkan panji dan bendera perang.
Imam Asy-Syaukānī berkata:
وأما كونه يشرع له أن يرتب الجيوش ويتخذ الرايات والألوية فقد وقع منه ﷺ من ترتيب جيوشه عند ملاقاته للعدو ما هو مشهور فكان يأمر بعضا يقف في هذا المكان وآخرين في المكان الآخر وقال للرماه يوم أحد: أنهم يقفون حيث عينه لهم ولا يفارقون ذلك المكان ولو تخطفه هو ومن معه الطير” وقد كانت رايات كما في حديث ابن عباس عند الترمذي وأبي داود قال
“Adapun disyariatkan bagi pemimpin pasukan untuk mengatur pasukan, menetapkan panji-panji dan bendera perang, maka telah masyhur bahwa itu telah dilakukan oleh beliau ﷺ tatkala bertemu musuh. Beliau biasa memerintahkan sebagian pasukan untuk berdiam di suatu tempat, sedangkan yang lainnya di tempat lain. Beliau pernah berkata kepada pasukan pemanah di perang Uhud bahwa mereka hendaknya berdiam di tempat yang telah beliau tentukan untuk mereka dan tidak meninggalkan itu walaupun burung menyambar beliau dan orang yang bersama beliau. Dan panji-panji perang Nabi, sebagaimana dalam hadis Ibnu Abbas dalam Sunan Tirmizi dan Abu Daud, ia berkata:
كانت راية رسول الله ﷺ سوداء ولواؤه أبيض
“Panji perang Rasulullah ﷺ berwarna hitam, sedangkan benderanya berwarna putih.” (Ad-Darārī Al-Muḍiyyah Syarḥ Ad-Durar Al-Bahiyyah)
(bersambung)
Siberut, 7 Rabī’ul Ṡāni 1447
Abu Yahya Adiya






