Di antara adab dalam berdoa yaitu yang disebutkan dalam hadis berikut ini:
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ
“Sesungguhnya Allah itu Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia malu jika ada seseorang yang mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, kemudian mengembalikan kedua tangannya dalam keadaan kosong dan hampa.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:
- Allah memiliki sifat pemalu dan pemurah, sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Dan sifat-Nya tidak serupa dengan sifat makhluk-Nya.
Imam Ash-Shan’ani berkata:
وَصْفُهُ تَعَالَى بِالْحَيَاءِ يُحْمَلُ عَلَى مَا يَلِيقُ بِهِ كَسَائِرِ صِفَاتِهِ نُؤْمِنُ بِهَا وَلَا نُكَيِّفُهَا وَلَا يُقَالُ إنَّهُ مَجَازٌ وَتُطْلَبُ لَهُ الْعِلَاقَاتُ هَذَا مَذْهَبُ أَئِمَّةِ الْحَدِيثِ وَالصَّحَابَةِ وَغَيْرِهِمْ
“Menyifatkan-Nya dengan malu dibawa kepada apa yang layak bagi-Nya, seperti sifat-sifat-Nya yang lain. Kita meyakininya, tidak menentukan hakekatnya, dan tidak dikatakan bahwa itu kiasan dan dicari hubungannya. Itu adalah pendapat para ulama ahli hadis, para sahabat Nabi, dan selain mereka.” (Subulussalam)
- Nama-nama Allah itu musytak (memiliki kata dasar).
Syekh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad berkata:
قوله: [(يستحي من عبده)]. هذه صفة مأخوذة من حيي؛ لأن أسماء الله كلها مشتقة ليس فيها اسم جامد
“Sabda beliau ‘Dia malu jika ada seorang hamba’. Ini adalah sifat yang diambil dari kata pemalu. Sebab, nama-nama Allah semuanya musytak (memiliki kata dasar), dan tidak ada yang jamid (tidak memiliki kata dasar).” (Syarh Sunan Abi Daud)
- Allah ada di atas. Sebagaimana ditunjukkan oleh sabda Nabi ﷺ tadi: “mengangkat kedua tangannya kepada-Nya.”
Karena itu, tidaklah salah jika Imam Adz-Dzahabi memasukkan hadis tadi ke dalam kitab Al-‘Uluww Li Al-‘Aliyy Al-Ghaffar. Kitab tersebut ditulis oleh beliau untuk menetapkan ketinggian Allah di atas langit-Nya, di atas Arsy-Nya.
- Di antara adab dalam berdoa yaitu mengangkat tangan. Dan itu salah satu sebab dikabulkan doa.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
ومد اليدين إلى السماء من أسباب إجابة الدعاء
“Mengangkat tangan ke atas termasuk sebab dikabulkannya doa.” (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah)
- Terlarangnya istigasah dan meminta tolong kepada orang mati.
Dr. Syamsuddin Al-Afghani berkata:
لقد استدل كثير من علماء الحنفية بهذا الحديث على إبطال عقيدة القبورية في استغاثتهم بغير الله تعالى من الأحياء الغائبين والأموات عند نزول النوازل وإلمام الملمات
“Sungguh, banyak ulama Hanafiyyah berdalil dengan hadis ini untuk menyatakan batilnya akidah para penyembah kubur dalam hal istigasah mereka kepada selain Allah tatkala terjadi musibah dan bencana, baik kepada orang yang masih hidup tapi tidak ada di hadapan, maupun kepada orang yang sudah mati.” (Juhud ‘Ulama Al-Hanafiyyah Fii Ibthal ‘Aqaid Al-Quburiyyah)
Siberut, 4 Syawwal 1444
Abu Yahya Adiya






