Setelah membongkar kedustaan orang-orang munafik dalam hal keimanan dan menyingkap makar mereka dalam menipu orang-orang yang beriman, Allah menyebutkan sifat buruk mereka yang lain:
- وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”
Apabila orang-orang munafik itu diingatkan untuk tidak berbuat kerusakan, yaitu melakukan kekafiran, kemaksiatan, dan bekerja sama dengan orang-orang kafir untuk menghabisi orang-orang yang beriman, maka mereka akan berkata, “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”
Artinya, kami tidak berbuat kerusakan, justru kami melakukan perbaikan! Kalau mereka menganggap perbuatan mereka sebagai perbaikan, berarti perbuatan selain mereka mereka anggap sebagai perusakan. Kalau demikian, orang-orang yang beriman menurut mereka adalah perusak! Mereka menggabungkan antara rusaknya perbuatan mereka dengan rusaknya pengakuan mereka.
Kalau seseorang sudah merusak, tapi sadar dirinya merusak, maka kerusakannya masih ringan. Namun, kalau seseorang sudah merusak, tapi tidak sadar kalau dirinya merusak, maka kerusakannya sangatlah parah!
Maka Allah membantah mereka:
- أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ
Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.
Ya, sebenarnya merekalah yang berbuat kerusakan. Orang yang berbuat nifaklah yang berbuat kerusakan di muka bumi. Bukan orang yang benar-benar beriman.
Orang yang menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimananlah yang berbuat kerusakan di muka bumi. Bukan orang-orang yang tulus beriman.
Orang yang menyembunyikan dosa dan menampakkan kesalehanlah yang berbuat kerusakan di muka bumi. Bukannya orang-orang yang benar-benar saleh.
Faidah yang bisa kita petik dari dua ayat tadi:
- Seseorang dianggap membuat kerusakan di muka bumi tatkala bermaksiat kepada Allah.
Sebagaimana orang-orang munafik dikatakan oleh Allah sebagai orang-orang yang membuat kerusakan, karena mereka bermaksiat kepada Allah dengan perbuatan dan tindak-tanduk mereka.
Kalau demikian, orang yang melakukan dosa dan maksiat sebenarnya telah merusak dan melakukan kerusakan.
Allah berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. Ar-Rūm: 41)
Ibnu Mas’ūd berkata:
إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ أَذِنَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَلَاكِهَا
“Jika zina dan riba tersebar di suatu kampung, maka Allah mengizinkan agar daerah itu dibinasakan.” (Ad-Dā‘u wa Ad-Dawā‘)
’Alī bin Abī Ṭālib berkata:
ما نزل بلاءٌ إلاَّ بذنب، ولا رُفع إلاَّ بتوبة
“Tidaklah turun bencana kecuali karena dosa. Dan tidaklah bencana diangkat, kecuali karena tobat.” (Ad-Dā‘u wa Ad-Dawā‘)
- Seseorang dianggap memperbaiki kehidupan di muka bumi tatkala beriman dan bertakwa kepada Allah.
Allah berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Seandainya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka.” (QS. Al-A’rāf: 96)
Ibnu Al-Munkadir berkata:
إِنَّ اللَّهَ لَيَحْفَظُ بِالرَّجُلِ الصَّالِحِ وَلَدَهُ وَوَلَدَ وَلَدِهِ وَالدُّوَيْرَاتِ الَّتِي حَوْلَهُ فَمَا يَزَالُونَ فِي حِفْظٍ مِنَ اللَّهِ وَسِتْر
“Sesungguhnya karena kesalehan seseorang, Allah menjaga anaknya, cucunya dan lingkungan sekitarnya. Mereka senantiasa mendapatkan penjagaan dan perlindungan dari Allah karena kesalehannya tersebut.” (Jāmi’ Al-’Ulūm wa Al-Ḥikam)
- Yang menjadi ukuran di dunia adalah pembuktian dan bukan pengakuan.
Siberut, 19 Rabī’u Aṡ-Ṡānī 1442
Abu Yahya Adiya






