Apa Keutamaan Bahasa Arab?

Apa Keutamaan Bahasa Arab?

“Cintailah orang-orang Arab karena tiga sebab: aku adalah orang Arab, Al-Quran berbahasa Arab dan bahasa penduduk surga adalah bahasa Arab.”

Itulah hadis yang menunjukkan keutamaan bahasa Arab, tapi sayangnya…

Dalam sanad hadis tadi ada perawi yang bernama Yahya bin Yazid.

Imam Ibnu Hibban berkomentar tentangnya:

يحيى بن يزِيد كَانَ مِمَّن سَاءَ حفظه حَتَّى كَانَ يروي المقلوبات عَن الثِّقَات وَيَأْتِي بِالْمَنَاكِيرِ عَن أَقوام مشاهير فَلَمَّا كثر ذَلِك فِي أخباره بَطل الِاحْتِجَاج بآثاره

“Yahya bin Yazid termasuk orang yang buruk hafalannya, sampai-sampai ia meriwayatkan hadis-hadis maqlub dari orang-orang yang terpercaya dan ia mendatangkan hadis-hadis mungkar dari orang-orang yang terkenal. Tatkala itu banyak dalam riwayatnya, maka batallah berdalil dengannya.” (Al-Majruhiin)

Al-‘Uqaili mengomentari hadis tadi:

مُنْكَرٌ لَا أَصْلَ لَهُ

“Hadis mungkar, tidak ada asalnya.” (Adh-Dhu’afa Al-Kabir)

Imam Ibnul Jauzi memasukkan hadis ini ke dalam kitabnya Al-Maudhu’aat (hadis-hadis palsu).

Imam Adz-Dzahabi mengomentari hadis tadi:

هذا موضوع. قال أبو حاتم:

“Ini palsu. Abu Hatim berkata (tentang hadis ini):

هذا كذب.

“Ini dusta.” (Mizan Al-I’tidal)

Hadis tadi tidak sahih dari Nabi ﷺ. Namun, bukan berarti bahasa Arab adalah bahasa yang biasa.

Bukankah Al-Quran turun dengan bahasa Arab?

Bukankah nabi kita berbicara dengan bahasa Arab?

Bukankah itu keistimewaan bagi bahasa Arab?

Ya, itu kemuliaan. Bahkan mempelajarinya adalah kewajiban.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

وأيضا فإن نفس اللغة العربية من الدين، ومعرفتها فرض واجب، فإن فهم الكتاب والسنة فرض، ولا يفهم إلا بفهم اللغة العربية

“Sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri termasuk bagian dari agama dan mengetahuinya adalah kewajiban. Karena sesungguhnya memahami Al-Quran dan As-Sunnah adalah kewajiban, dan itu tidak bisa dipahami kecuali dengan memahami bahasa Arab.” (Iqtidha Ash-Shirath Al-Mustaqim Limukhalafah Ashhaab Al-Jahim)

Lalu beliau menyebutkan perkataan ‘Umar bin Al-Khaththab:

تعلموا العربية فإنها من دينكم

“Pelajarilah bahasa Arab, karena sesungguhnya itu termasuk bagian dari agama kalian.” (Iqtidha Ash-Shirath Al-Mustaqim Limukhalafah Ashhaab Al-Jahim)

Kalau memang bahasa Arab adalah bagian dari agama kita, maka sudah sepantasnya kita bangga mempelajarinya dan mengucapkannya. Jangan malah minder dan rendah diri karena mempelajarinya dan mengucapkannya.

Imam Asy-Syafi’i berkata:

فلا نحب أن يسمي رجل يعرف العربية تاجرا، إلا تاجرا، ولا ينطق بالعربية فيسمى شيئا بأعجمية

“Kita tidak suka seseorang yang mengetahui bahasa Arab menamai tajir (pedagang) kecuali dengan kata tajir dan tidak suka seseorang yang bisa berbicara dengan bahasa Arab menamai sesuatu dengan selain bahasa Arab.

وذلك أن اللسان الذي اختاره الله عز وجل لسان العرب، فأنزل به كتابه العزيز، وجعله لسان خاتم أنبيائه محمد صلى الله عليه وسلم:

Yang demikian itu karena bahasa yang Allah pilih adalah bahasa Arab. Allah menurunkan kitab-Nya yang mulia dengan bahasa Arab. Dan Dia menjadikan itu sebagai bahasa penutup para nabi-Nya, Muhammad ﷺ.

ولهذا نقول: ينبغي لكل أحد يقدر على تعلم العربية أن يتعلمها؛ لأنه اللسان الأولى بأن يكون مرغوبا فيه من غير أن يحرم على أحد أن ينطق بأعجمية

Karena itu, kita katakan bahwa sepantasnya bagi setiap orang yang sanggup mempelajari bahasa Arab untuk mempelajarinya. Sebab, itulah bahasa yang paling pantas untuk diminati tanpa mengharamkan atas seorang pun berbicara dengan selain bahasa Arab.”

Setelah menyebutkan perkataan Imam Imam Asy-Syafi’i ini, Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

فقد كره الشافعي لمن يعرف العربية، أن يسمي بغيرها، وأن يتكلم بها خالطا لها بالعجمية، وهذا الذي قاله الأئمة مأثور عن الصحابة والتابعين.

“Sungguh, Asy-Syafi’i tidak suka jika orang yang mengetahui bahasa Arab menamai sesuatu dengan selain bahasa Arab dan juga mengucapkan bahasa Arab dengan mencampurnya dengan selain bahasa Arab. Yang dikatakan oleh para imam ini adalah yang diriwayatkan dari para sahabat dan tabiin.” (Iqtidha Ash-Shirath Al-Mustaqim Limukhalafah Ashhaab Al-Jahim)

Setelah itu Syekhul Islam menyebutkan riwayat dari para sahabat Nabi dan tabiin yang mencela orang yang berbicara dengan selain bahasa Arab, padahal ia mampu berbicara dengan bahasa Arab.

Dan itu juga perkataan para ulama yang mengikuti mereka dengan baik.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

لَوْ قِيلَ: تُكْرَهُ الْعُقُودُ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ لِغَيْرِ حَاجَةٍ كَمَا يُكْرَهُ سَائِرُ أَنْوَاعِ الْخِطَابِ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ لِغَيْرِ حَاجَةٍ: لَكَانَ مُتَوَجِّهًا كَمَا قَدْ رُوِيَ عَنْ مَالِكٍ وَأَحْمَد وَالشَّافِعِيِّ مَا يَدُلُّ عَلَى كَرَاهَةِ اعْتِيَادِ الْمُخَاطَبَةِ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ لِغَيْرِ حَاجَةٍ

“Kalau dikatakan bahwa akad dengan selain bahasa Arab tanpa ada kebutuhan adalah makruh, sebagaimana berbagai macam perkataan dengan selain bahasa Arab tanpa ada kebutuhan adalah makruh, maka itu bisa dibenarkan. Sebagaimana diriwayatkan dari Malik, Ahmad, Asy-Syafi’i perkataan yang menunjukkan makruhnya sering berbicara dengan selain bahasa Arab tanpa ada kebutuhan.” (Majmu’ Al-Fatawa)

Maka, sudah sepantasnya kita mempelajari bahasa Arab dan bangga mempelajarinya, karena itu bagian dari agama kita.

 

Siberut, 9 Syawwal 1444

Abu Yahya Adiya