Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Kuciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Faidah yang bisa dipetik dari ayat ini:
- Hikmah diciptakannya jin dan manusia adalah agar beribadah kepada Allah.
Manusia hidup di dunia ini bukan cuma untuk minum dan makan layaknya hewan.
Manusia hidup di dunia ini bukan hanya untuk melampiaskan syahwat, memuaskan nafsu, bermain-main, dan bersenang-senang layaknya binatang.
Kita diciptakan Allah di dunia ini untuk tujuan yang agung, yaitu beribadah kepada Allah dan mengabdi kepada-Nya. Dan hikmah itulah yang sebenarnya tertancap dalam fitrah manusia ketika lahir ke dunia.
Suatu hari anak-anak kecil berkata kepada Yahya-alaihissalam-yang ketika itu masih kecil:
اذْهَبْ بِنَا نَلْعَبْ
“Ayo pergi bersama kami. Kita bermain.”
Yahya-alaihissalam-menjawab:
مَا لِلَّعِبِ خُلِقْنا
“Bukan untuk bermain kita diciptakan.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)
- Sang Penciptalah yang berhak diibadahi. Adapun yang tidak bisa menciptakan, ia tidak layak diibadahi.
Sehebat apa pun makhluk, tetap saja ia tidak bisa menciptakan apa-apa, walaupun seekor lalat. Maka, untuk apa tunduk kepadanya?
Sekuat apa pun makhluk, tetap saja ia sangat lemah di hadapan kekuasaan Allah. Maka, untuk apa menghinakan diri di hadapannya?
Tunduklah hanya kepada-Nya. Hinakanlah dirimu hanya kepada-Nya. Beribadahlah hanya kepada-Nya.
- Adanya hikmah dalam perbuatan Allah.
Allah melakukan sesuatu karena ada hikmahnya. Dan ketika Allah menetapkan sesuatu pasti ada hikmahnya. Sebab, kalau Dia melakukan sesuatu atau menetapkan sesuatu tanpa ada hikmah dan tujuan, berarti Dia sudah melakukan perkara sia-sia. Sedangkan Dia itu Hakim (Maha Bijaksana dan memiliki hikmah) dan disucikan dari perkara sia-sia.
Itulah keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah. Berbeda dengan pendapat sekte Asy’ariyyah yang menyatakan, “Allah menetapkan sesuatu tanpa hikmah. Dia memerintahkan sesuatu tanpa tujuan. Apa yang Dia tetapkan dan Dia perintahkan semata-mata karena kehendak-Nya.”
Makanya, menurut mereka, Allah boleh saja menyuruh hamba-Nya untuk menyekutukan-Nya! Dan Allah juga-menurut mereka-boleh melarang hamba-Nya untuk mengesakan-Nya!
Kita berlindung kepada Allah dari berbagai kesesatan dan penyimpangan.
Siberut, 5 Sya’ban 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhash fi Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Dr Saleh Al-Fauzan.
- Ma‘alim Ushul Fiqh ‘Inda Ahli As-Sunnah wa Al-Jama‘ah karya Syekh Dr Muhammad bin Husain Al-Jizani.






