Allah berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت
“Dan sungguh, Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): “Beribadahlah kepada Allah dan jauhilah tagut!” (QS. An Nahl: 36)
Menjauhi tagut artinya mengingkarinya, tidak memujanya, apalagi menyembahnya, dengan cara apapun dan dalam bentuk apapun.
Itulah yang dimaksud dengan menjauhi tagut. Namun, apa yang dimaksud dengan tagut?
Imam Ibnul Qayyim berkata:
وَالطَّاغُوتُ: كُلُّ مَا تَجَاوَزَ بِهِ الْعَبْدُ حَدَّهُ مِنْ مَعْبُودٍ أَوْ مَتْبُوعٍ أَوْ مُطَاعٍ
“Tagut adalah segala sesuatu yang diperlakukan secara berlebihan baik dengan cara diibadahi, diikuti maupun dipatuhi.” (I’laam Al-Muwaqqi’iin)
Karena itu, siapa yang diibadahi dan disembah selain Allah dalam keadaan rida, maka ia bisa dikategorikan sebagai tagut. Sebab, ia telah diperlakukan secara berlebihan dan melampaui batas.
Ada beberapa faidah yang bisa kita petik dari ayat tadi:
- Tujuan diutusnya para rasul yaitu untuk mengajak umat manusia agar mengesakan Allah dan menjauhi syirik.
Ya, seluruh rasul tanpa terkecuali dari Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad diutus kepada umat mereka agar mereka mengesakan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun dan dengan siapapun, entah itu malaikat, jin, orang saleh, apalagi hewan dan benda mati!
- Walaupun syariat masing-masing rasul berbeda satu sama lain, tapi agama mereka satu dan sama yaitu islam, agama tauhid.
Karena itu, tidak ada seorang rasul pun yang mengajarkan kepada umatnya bahwa Allah itu berbilang, membutuhkan istri, anak dan perantara dalam beribadah kepada-Nya. Tidak seorang rasul pun yang mengajarkan kepada umatnya untuk menyekutukan Allah!
- Tauhid tidak akan terwujud kecuali dengan meniadakan peribadatan kepada selain Allah dan menetapkan peribadatan hanya untuk Allah.
Makanya dalam ayat tadi Allah tidak hanya memerintahkan para rasul agar berkata: “beribadahlah kepada Allah!”, melainkan ditambah juga dengan: “jauhilah tagut!”
Kita tidak dianggap menauhidkan Allah sampai beribadah hanya kepada Allah dan mengingkari peribadatan kepada selain Allah.
Kita tidak dianggap mengesakan Allah sampai beribadah hanya kepada Allah dan menyatakan salah dan batilnya sembahan selain Allah.
Allah berfirman:
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا
“Siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, ia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus.” (QS. Al-Baqarah: 256)
Siberut, 6 Sya’ban 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhash fi Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Dr Saleh Al-Fauzan.
- I‘Laam Al-Muwaqqi‘iin ‘An Rabb Al-‘Alamiin karya Imam Ibnul Qayyim.






