Qotadah berkata:
خَلَقَ هَذِهِ النُّجُومَ لِثَلاَثٍ:
“Allah menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga hikmah:
جَعَلَهَا زِينَةً لِلسَّمَاءِ، وَرُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ، وَعَلاَمَاتٍ يُهْتَدَى بِهَا
Dia menjadikan itu sebagai hiasan langit, sebagai alat pelempar syetan, dan sebagai tanda untuk petunjuk (arah dan sebagainya).
فَمَنْ تَأَوَّلَ فِيهَا بِغَيْرِ ذَلِكَ أَخْطَأَ، وَأَضَاعَ نَصِيبَهُ، وَتَكَلَّفَ مَا لاَ عِلْمَ لَهُ بِهِ
Karena itu, siapa yang berpendapat selain itu, maka ia telah melakukan kesalahan, dan menyia-nyiakan nasibnya, serta membebani dirinya dengan hal yang di luar batas pengetahuannya.” (Shahih Bukhari)
Dia menjadikan itu sebagai hiasan langit, sebagai alat pelempar syetan. Ucapannya berdasarkan firman Allah:
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ
“Sungguh, Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan.” (QS. Al-Mulk: 5)
dan sebagai tanda untuk petunjuk. Ucapannya ini berdasarkan firman Allah:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُواْ بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang untuk kalian, agar kalian menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut.” (QS. Al-An’aam: 97)
Maka siapa yang berpendapat selain itu maksudnya, siapa yang berpendapat bahwa tujuan diciptakannya bintang bukan hanya 3 tadi: bukan cuma sebagai hiasan langit, bukan cuma sebagai pelempar setan, dan juga bukan cuma sebagai petunjuk arah, melainkan juga untuk mengetahui jodoh seseorang, mengetahui kejadikan yang akan terjadi di masa datang, dan untuk mengetahui perkara gaib lainnya….
Maka ia telah melakukan kesalahan karena ia sudah menebak, menduga-duga, dan mengira-ngira dalam perkara gaib.
menyianyiakan nasibnya yaitu menyia-nyiakan umurnya. Sebab, ia telah menyibukkan diri dalam perkara yang tidak bermanfaat bagi dirinya, bahkan membahayakan dirinya.
Membebani dirinya dengan hal yang di luar batas pengetahuannya karena, perkara gaib itu tidak diketahui dan mustahil diketahui oleh manusia. Perkara gaib hanya diketahui oleh Allah.
Syekh ‘Abdurrahman bin Hasan berkata:
فتأمل ما أنكره هذا الإمام مما حدث من المنكرات في عصر التابعين. وما زال الشر يزداد في كل عصر بعدهم حتى بلغ الغاية في هذه الأعصار، وعمت به البلوى في جميع الأمصار فمقل ومستكثر، وعز في الناس من ينكره، وعظمت المصيبة به في الدين. فإنا لله وإنا إليه راجعون.
“Perhatikanlah kemungkaran yang terjadi di masa tabiin yang diingkari oleh imam ini. Dan keburukan terus bertambah pada setiap masa setelah mereka, hingga puncaknya pada masa ini dan bencana itu telah menyebar ke semua kota, baik sedikit maupun banyak. Dan sedikit orang yang mengingkarinya dan dengan sebab itu makin membesarlah musibah dalam agama ini. Maka kita ini milik Allah dan hanya kepada-Nya lah kita akan kembali.” (Fath Al-Majid Syarh Kitab At-Tauhid)
Faidah yang bisa kita petik dari riwayat ini:
- Allah menciptakan bintang hanya untuk 3 tujuan: hiasan langit, pelempar setan, dan petunjuk waktu dan arah.
Kalau memang diciptakannya bintang hanya untuk 3 tujuan yaitu hiasan, pelempar setan, dan petunjuk arah, berarti….
- Haramnya astrologi yaitu ilmu nujum yakni ilmu perbintangan yang dipakai untuk meramal dan mengetahui nasib orang atau kejadian yang ada di muka bumi.
“Kalau bintangnya Sagitarius, berarti jodohnya wanita yang berbintang Leo.”
“Kalau bintangnya Scorpio, berarti hari sialnya hari Rabu.”
“Kalau menikah ketika munculnya bintang ini, maka pernikahannya akan bahagia.”
“Kalau menikah ketika munculnya bintang itu, maka pernikahannya akan sengsara.”
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُوم اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ
“Siapa yang mempelajari ilmu nujum (perbintangan), maka ia telah mempelajari sebagian ilmu sihir. Semakin bertambah (ia mempelajari ilmu nujum), semakin bertambah pula (dosanya).” (HR. Ahmad dan Abu Daud)
Ilmu nujum di sini maksudnya yaitu ilmu astrologi. Ilmu perbintangan yang dipakai untuk meramal dan mengetahui nasib orang atau kejadian yang ada di muka bumi.
Kalau memang astrologi terlarang, lantas bagaimana dengan astronomi yaitu ilmu falak yakni ilmu yang mempelajari tentang peredaran bintang, bulan, matahari, dan planet lainnya?
Imam Qotadah dan Sufyan bin ‘Uyainah tidak membolehkan secara mutlak mempelajari astronomi atau ilmu falak. Seperti yang diungkapkan oleh Harb Al-Karmani dari mereka berdua.
Adapun Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih bahkan mayoritas ulama berpendapat bahwa bolehnya astronomi atau ilmu falak jika bertujuan untuk mengetahui arah kiblat, waktu salat, mengetahui musim, penunjuk jalan dan semacamnya.
Nah, jika para ulama saja ada yang melarang astronomi atau ilmu falak karena khawatir mengantarkan pada yang haram, padahal ada maslahat padanya, maka bagaimana pula dengan astrologi atau ilmu nujum, yang isinya kekufuran dan kemusyrikan?!
Maka, jangan hubungkan bintang tertentu dengan jodoh seseorang, kelahiran seseorang, kematian seseorang, dan nasib seseorang!
Dan jangan hubungkan bintang tertentu dengan kemakmuran atau kehancuran yang ada di muka bumi!
Jangan percaya dengan ilmu nujum. Jangan percaya dengan astrologi. Jangan percaya dengan sihir!
- Siapa yang mencari petunjuk dari selain Al-Quran dan As-Sunnah, maka ia tidak akan mendapatkannya, dan telah menyia-nyiakan waktunya, serta membebani dirinya dengan hal yang di luar batas pengetahuannya.
Siberut, 29 Dzulqa’dah 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
- Fath Al-Majiid Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh ‘Abdurrahman bin Hasan.






