Tathoyyur

Tathoyyur

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ

Tathoyyur itu syirik. Tathoyyur itu syirik. Tathoyyur itu syirik.”

Ibnu Mas’ud رضي الله عنه berkata setelah menyampaikan hadis ini:

وما منا إلا ولكن الله يذهبه بالتوكل

“Dan tidaklah seorang pun dari kita kecuali (merasakan tathoyyur). Akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Orang-orang Arab di zaman Jahiliyah, kalau mereka hendak bepergian, mereka melepaskan burung dahulu.

Kalau burung itu terbang arah kanan, mereka pun optimis, dan merasa akan beruntung, karena itu mereka jadi berangkat.

Tapi kalau burung itu terbang ke arah kiri, mereka pun pesimis, dan merasa akan sial, karena itu mereka membatalkan kepergian mereka.

Itulah yang namanya tathoyyur.

Tathoyyur secara bahasa berasal dari kata طير yaitu burung.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:

وَأَصْلُ التَّطَيُّرِ أَنَّهُمْ كَانُوا فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَعْتَمِدُونَ عَلَى الطَّيْرِ

“Asalnya tathoyyur yaitu dulu orang-orang di zaman jahiliah bergantung pada burung.” (Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)

Itu pengertian tathoyyur secara bahasa.

Adapun pengertian tathoyyur secara istilah yaitu:

هي التَّشَاؤُمُ بِالشَّيْءِ

“Merasa sial karena sesuatu.” (‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud)

Dan sesuatu di sini umum. Bukan cuma hewan saja. Melainkan bisa juga manusia, tempat, waktu, hari, tanggal, bulan dan semacamnya.

Seperti keyakinan orang tertentu kalau keluar rumah di pagi hari lalu melihat orang yang bermuka cacat, tiba-tiba ia merasa akan sial. Itu namanya tathoyyur.

Seperti keyakinan orang-orang jahiliah bahwa bulan Shafar adalah bulan sial. Membawa sial. Begitu pula Syawwal menurut mereka adalah bulan sial. Itu namanya tathoyyur.

Seperti keyakinan orang-orang kafir di zaman ini bahwa no 13 adalah nomor sial. Itu namanya tathoyyur.

Semua contoh yang sudah disebutkan tadi adalah tathoyyur. Dan semua itu syirik.

 

Faidah yang bisa kita petik dari hadis di atas:

 

  1. Tathoyyur itu syirik

Sebab, seseorang yang melakukan tathoyyur telah meyakini sesuatu sebagai sebab kesialan, padahal Allah dan rasul-Nya tidak menetapkan itu sebagai sebab kesialan. Seakan-akan ia menandingi Allah dalam menentukan mana yang menyebabkan sial atau tidak.

Selain itu juga, orang yang melakukan tathoyyur sudah terjatuh pada syirik. Karena, di dalam hatinya ada ketergantungan kepada selain Allah.

 

  1. Disyariatkan mengulang-mengulang pernyataan penting, agar dihafal dan diperhatikan.

Dan itulah yang sering dilakukan oleh nabi kita ﷺ.

‘Abdullah bin Al-Mutsanna berkata:

حَدَّثَنَا ثُمَامَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ كَانَ «إِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلاَثًا، حَتَّى تُفْهَمَ عَنْهُ،

“Tsumamah bin ‘Abdullah menceritakan kepada kami dari Anas dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau jika mengucapkan suatu kalimat mengulanginya sampai 3 kali supaya dipahami.” (HR. Bukhari)

 

  1. Tathoyyur akan hilang dengan bertawakal kepada Allah.

Termasuk bagian dari tawakal kepada Allah adalah berdoa kepada-Nya.

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ، فَقَدْ أَشْرَكَ

“Siapa yang mengurungkan hajatnya karena tathoyyur, maka ia telah berbuat syirik.”

Para sahabat bertanya:

 يَا رَسُولَ اللهِ، مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ؟

“Wahai Rasulullah, apa yang bisa menebusnya?”

Rasulullah ﷺ menjawab:

 أَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمْ:

“Hendaknya ia berdoa:

اللهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ، وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

“Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari-Mu, dan tidak ada kesialan kecuali kesialan dari-Mu, dan tidak ada yang berhak disembah kecuali diri-Mu.” (HR. Ahmad)

 

  1. Islam mengajarkan umatnya untuk optimistis.

Nabi ﷺ bersabda:

لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ

“Tidak ada penyakit menular dan tidak ada tathoyyur, dan  yang membuatku kagum adalah fa’l.”

Para sahabat bertanya:

 وَمَا الْفَأْلُ؟

“Apakah fa’l itu?”

Beliau ﷺ menjawab:

الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ

“Kata-kata yang baik.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seperti kita menjenguk orang yang sakit lalu kita katakan kepadanya, “Engkau agak baikan sekarang.”

Atau kita berkata kepada orang yang sedang menjalankan suatu usaha, “Insya Allah usahamu akan sukses. Insya Allah usahamu akan lancar.”

Dan kata-kata lain yang menunjukkan optimisme. Harapan baik. Prasangka baik kepada Allah.

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

وظاهر الحديث: الكلمة الطيبة في كل شيء; لأن الكلمة الطيبة في الحقيقة تفتح القلب وتكون سببا لخيرات كثيرة، حتى إنها تدخل المرء في جملة ذوي الأخلاق الحسنة.

“Yang tampak dari hadis ini yaitu kata-kata baik dalam segala sesuatu. Sebab, kata-kata baik, pada hakikatnya, membuka hati dan menjadi sebab bagi kebaikan yang banyak, sampai-sampai itu memasukkan seseorang ke dalam golongan orang yang memiliki akhlak yang baik.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)

Berarti, seorang muslim harus selalu optimis dan jangan pesimis.

Syekh Ibnu ‘Utsaimin berkata:

ومنه ما يحصل لبعض الناس إذا شرع في عمل، ثم حصل له في أوله تعثر تركه وتشاءم; فهذا غير جائز

“Termasuk perasaan sial, yaitu yang terjadi pada sebagian orang, jika memulai suatu pekerjaan, lalu mengalami kesulitan di awalnya, ia pun meninggalkan pekerjaan tersebut dan pesimis. Ini tidak boleh.

بل يعتمد على الله ويتوكل عليه، وما دمت أنك تعلم أن في هذا الأمر خيرا; فغامر فيه، ولا تشاءم; لأنك لم توفق فيه لأول مرة; فكم من إنسان لم يوفق في العمل أول مرة، ثم وفق في ثاني مرة أو ثالث مرة؟!

Bahkan, hendaknya ia bersandar dan bergantung kepada Allah. Selama engkau tahu bahwa ada kebaikan dalam urusan tersebut, maka masuklah ke dalamnya dan jangan pesimis. Sebab, kalau engkau belum mendapat hasil yang baik ketika kali pertama, maka berapa banyak orang yang tidak mendapat hasil yang baik dalam pekerjaan untuk kali pertama, lalu akhirnya mendapatkan hasil yang baik pada kali kedua atau kali ketiga!

ويقال: إن الكسائي – إمام النحو – طلب النحو عدة مرات، ولكنه لم يوفق، فرأى نملة تحمل نواة تمر، فتصعد بها إلى الجدار، فتسقط، حتى كررت ذلك عدة مرات، ثم صعدت بها إلى الجدار وتجاوزته;

Diceritakan bahwa Imam Al-Kisai-seorang imam ahli Nahwu-belajar Nahwu berkali-kali tapi tidak mendapatkan hasil yang baik. Lalu ia melihat seekor semut membawa biji kurma. Semut itu menaiki tembok dengan membawa kurma tadi, namun jatuh. Ia naik lagi membawa itu, namun jatuh lagi sampai berkali-kali. Lalu ia terus naik lagi dengan membawa itu, dan ternyata berhasil melewati tembok itu.

فقال: سبحان الله! هذه النملة تكابد هذه النواة حتى نجحت، إذن أنا سأكابد علم النحو حتى أنجح.

Al-Kisai pun berkata, “Maha Suci Allah! Semut ini berjuang membawa biji ini sampai berhasil. Kalau begitu aku akan berjuang mempelajari ilmu Nahwu sampai aku berhasil!”

فكابد; فصار إمام أهل الكوفة في النحو.

Ia pun bersungguh-sungguh mempelajari Nahwu hingga akhirnya ia menjadi imam dalam ilmu Nahwu di kota Kufah.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)

Siberut, 28 Dzulqa’dah 1441

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
  2. Al-Qaul Al-Mufiid Alaa Kitab At-Tauhid karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin.
  3. Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari karya Al-Hafizh Ibnu Hajar.
  4. ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud karya Imam Al-‘Azhim Abadi.