Berubah menjadi anjing. Itulah yang dikhawatirkan oleh sahabat Nabi, ‘Abdullah bin Mas’ud.
‘Abdullah bin Mas’ud berkata:
لو سخرت من كلب, لخشيت أن أكون كلبا
“Kalau aku mengejek anjing, aku takut aku berubah menjadi anjing.” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah)
Sedangkan sahabat Nabi lainnya, yaitu Abu Musa Al-Asy’ari, khawatir kalau dirinya akan menyusu pada kambing.
Abu Musa Al-Asy’ari berkata:
لو رأيت رجلاً يرضع شاة في الطريق فسخرت منه، خفت أن لا أموت حتى أرضعها
“Kalau aku melihat seseorang di jalan sedang menyusu pada kambing, lalu aku mengejeknya, maka aku khawatir, aku tidak akan mati sampai aku menyusu pula padanya.” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah)
Apa yang ingin mereka ajarkan lewat ucapan mereka tadi?
Pelajaran apa yang ingin mereka sampaikan lewat ucapan mereka tadi?
Mereka mengajarkan kepada kita satu akhlak yang mulia. Apa itu?
Mencegah lidah agar tidak latah dan gegabah.
Menahan lisan dari cemoohan dan ejekan.
Menjaga mulut agar jangan mengucapkan kata-kata yang tidak patut.
‘Abdullah bin Mas’ud takut berubah menjadi anjing kalau mencemooh anjing.
Abu Musa Al-Asy’ari khawatir menyusu pada kambing kalau mengejek orang yang menyusu pada kambing.
Nah, kalau mencemooh hewan saja tercela, maka apalagi kalau mencemooh manusia!
Kalau mengejek hewan saja bisa mendapatkan hukuman, maka apalagi kalau mengejek saudara seiman!
Maka, jangan mengejek siapa pun, walau pelaku maksiat sekali pun!
Akibat Mengejek Pelaku Maksiat
Nabi ﷺ bersabda:
لاَ تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لأَخِيكَ فَيَرْحَمَهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ
“Jangan engkau bergembira atas kesalahan saudaramu, sebab bisa jadi Allah akan merahmati saudaramu itu, sedangkan engkau sendiri akan diberi cobaan oleh-Nya.” (HR. Tirmidzi)
Inilah tuntunan yang mulia dari nabi kita yang mulia. Beliau memberikan tuntutan:
Jangan mencemooh orang yang tertimpa suatu musibah. Sebab, bisa saja engkau pun akan tertimpa musibah yang sama.
Jangan mengejek orang lain yang terjatuh dalam suatu kesalahan. Sebab, bisa saja engkau pun akan terjatuh dalam kesalahan yang sama.
Itu mungkin saja terjadi, dan sudah terjadi.
Ada orang yang mengolok-olok pelaku korupsi, ternyata di kemudian hari ia masuk penjara karena kasus korupsi.
Dan ada orang yang mengejek temannya yang terjatuh dalam zina, ternyata di kemudian hari, orang yang mengejek ini terjatuh dalam perbuatan yang sama.
Ibrahim An-Nakha’i berkata:
إني لأرى الشيء أكرهه فما يمنعني أن أتكلم فيه إلا مخافة أن أبتلى بمثله
“Sungguh, aku melihat sesuatu yang tidak kusukai, akan tetapi tidak ada yang menghalangiku untuk mengucapkannya kecuali karena aku takut kalau yang serupa dengannya akan menimpa diriku.” (Syu’ab Al-Iman)
Ejekan Mudah Dipertanggungjawabkan?
Cemoohan, ejekan, olok-olokan memang mudah diucapkan, tapi apakah mudah untuk dipertanggungjawabkan?
Nabi ﷺ bersabda:
وَإِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
“Sesungguhnya ada seorang hamba yang mengucapkan suatu kalimat yang dimurkai Allah tanpa dipikirkan akibatnya, ternyata dengan sebab itu ia terseret ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pernahkah terpikirkan oleh kita, bahwa mungkin saja satu ejekan yang keluar dari lisan kita ternyata menyeret kita ke neraka?
Pernahkah terpikirkan oleh kita, bahwa bisa saja cemoohan yang kita anggap biasa ternyata membuat kita benar-benar sengsara?
Maka, marilah jaga lisan kita.
Kalau memang kita tidak sanggup menggunakannya untuk meraih pahala, maka jangan gunakan itu untuk melakukan dosa.
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi berkata:
ليكن حظ المؤمن منك ثلاث خصال:
“Hendaknya engkau menunaikan 3 hak seorang mukmin terhadap dirimu:
إن لم تنفعه فلا تضره
Jika engkau tidak bisa memberikan manfaat kepadanya, maka jangan memberikan bahaya kepadanya.
وإن لم تسره فلا تغمه
Kalau engkau tidak bisa membuatnya bahagia, maka jangan membuatnya berduka.
وإن لم تمدحه فلا تذمه
Kalau engkau tidak bisa memujinya, maka janganlah engkau mencelanya.” (Wafayaat Al-A’yaan)
Siberut, 23 Rabi’ul Awwal 1442
Abu Yahya Adiya






