Murung dan sedih. Biasanya itulah keadaan orang yang sedang mengalami musibah. Bahkan, tidak jarang, dalam keadaan demikian, sebagian orang sampai mengeluarkan umpatan dan cacian!
Namun, adakah orang yang mendapat musibah dari-Nya, tetapi malah memuji-Nya?
Al-Qadhi Syuraih, seorang ulama tabiin, berkata:
إِنِّي لأُصَابُ بِالمُصِيْبَةِ، فَأَحْمَدُ اللهَ عَلَيْهَا أَرْبَعَ مَرَّاتٍ
“Sesungguhnya, aku tertimpa musibah, maka aku pun memuji Allah atas musibah tersebut sebanyak empat kali:
أَحْمَدُ إِذْ لَمْ يَكُنْ أَعْظَمَ مِنْهَا
Aku memuji-Nya, karena aku tidak mendapatkan musibah yang lebih berat dari musibah yang kurasakan itu.
وَأَحْمَدُ إِذْ رَزَقَنِي الصَّبْرَ عَلَيْهَا
Aku memuji-nya, karena Dia telah memberiku kesabaran untuk menghadapi musibah tersebut.
وَأَحْمُدُ إِذْ وَفَّقَنِي لِلاسْتِرْجَاعِ لِمَا أَرْجُو مِنَ الثَّوَابِ
Aku juga memuji-Nya, karena Dia telah memberiku petunjuk agar mengucapkan innaa lillaah wa innaa ilaihi raji’uun, karena pahala yang kuharapkan dari musibah tersebut.
وَأَحْمَدُ إِذْ لَمْ يَجْعَلْهَا فِي دِيْنِي
Dan aku juga memuji-Nya, karena musibah yang kurasakan ini ternyata tidak menimpa agamaku.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Itulah kata-kata hikmah yang sangat bagus kita renungkan dan kita praktekkan.
Al-Qadhi Syuraih tertimpa musibah, tetapi ia malah memuji Allah.
Ia memuji Allah bukan hanya sekali, tidak juga dua kali, bahkan sampai empat kali!
Apa saja pujiannya itu?
“Aku memuji-Nya karena aku tidak mendapatkan musibah yang lebih berat dari musibah yang kurasakan itu.”
Ya, ia memuji Allah. Sebab, ia tidak mendapatkan musibah yang lebih berat dari musibah yang sudah ia rasakan itu.
Bagaimana tidak memuji-Nya?
Kalau kita mau merenungkan, ternyata masih banyak orang yang lebih menderita daripada kita. Dan masih banyak orang yang lebih susah daripada diri kita.
Nabi ﷺ bersabda:
انْظُرُوا إِلَى منْ أَسفَل منْكُمْ وَلا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هَوَ فَوقَكُم فهُوَ أَجْدرُ أَن لاَ تَزْدَرُوا نعمةَ اللَّه عَليْكُمْ
“Lihatlah orang yang lebih rendah darimu, dan jangan melihat orang yang ada di atasmu. Karena sesungguhnya itu lebih pantas agar kamu tidak meremehkan nikmat yang telah Allah berikan kepadamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Lalu pujian Al-Qadhi Syuraih berikutnya kepada Allah yaitu:
“Aku pun memuji-nya karena Dia telah memberiku kesabaran untuk menghadapi musibah tersebut.”
Ya, ia memuji Allah. Sebab, Allah telah memberikan kepadanya kesabaran untuk menghadapi musibah tersebut.
Bagaimana tidak memuji-Nya?
Dengan bersabar, terasa ringanlah musibah yang menerpa dirimu.
Dengan bersabar, terasa lapanglah dadamu.
Bagaimana tidak ringan?
Allah telah berfirman:
وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfaal: 46)
Dan bagaimana tidak lapang?
Allah telah berfirman:
وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
“Allah mencintai orang-orang yang bersabar.” (QS. Ali-Imran: 146)
Lalu pujian Al-Qadhi Syuraih berikutnya kepada Allah yaitu:
“Aku juga memuji-Nya, karena Dia telah memberiku petunjuk agar mengucapkan innaa lillah wa innaa ilaihi raji’un, karena pahala yang kuharapkan dari musibah tersebut.”
Ya, ia memuji Allah. Sebab, Allah telah memberinya petunjuk sehingga bisa mengucapkan innaa lillahi wa innaa ilaihi raji’un ketika mendapatkan musibah.
Bagaimana tidak memuji-Nya?
Allah telah berfirman:
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Siapa orang-orang yang sabar itu?
Allah melanjutkan:
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“(yaitu) orang-orang yang bila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami akan kembali).” (QS. Al-Baqarah: 156)
Itulah orang-orang sabar yang sebenarnya. Mereka menyadari bahwa diri mereka milik Allah dan akan kembali Allah. Karena itu, untuk apa menolak keputusan-Nya? Dan untuk apa memprotes ketentuan-Nya?
Lantas, apa berita gembira bagi orang-orang sabar itu?
Allah melanjutkan:
أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 157)
Ya, keberkatan dari Allah, rahmat-Nya dan petunjuk dari-Nya.
Adakah kenikmatan yang lebih besar daripada 3 nikmat ini?
Lalu pujian Al-Qadhi Syuraih berikutnya kepada Allah yaitu:
“Dan aku juga memuji-Nya, karena musibah yang kurasakan ini ternyata tidak menimpa agamaku.”
Ya, ia memuji Allah. Sebab, musibah yang diberikan oleh Allah hanya menimpa dunianya dan bukan agamanya. Musibah itu hanya mengenai fisiknya, dan bukan akidah, dan keyakinannya.
Bagaimana tidak memuji-Nya?
Separah apa pun kerusakan yang menimpa fisik, harta, dan jabatan seseorang, tetap saja masih jauh lebih ringan dibandingkan kerusakan yang menimpa agama, akidah, dan keyakinannya!
Yang pertama menyebabkan kerusakan dunia semata, sedangkan yang kedua menyebabkan kerusakan akhirat dan juga dunia!
Karena itu, di antara doa yang sering Nabi ﷺ ucapkan:
وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا
“Ya, Allah janganlah engkau menimpakan musibah kepada agama kami.” (HR. Tirmidzi)
Siberut, 29 Rabi’ul Tsani
Abu Yahya Adiya






