6. Apakah wanita boleh melakukan penyembelihan?
Ibnul Mundzir berkata:
أَجْمَعَ كُلُّ مَنْ نَحْفَظُ عَنْهُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ، عَلَى إبَاحَةِ ذَبِيحَةِ الْمَرْأَةِ وَالصَّبِيِّ. وَقَدْ رُوِيَ «أَنَّ جَارِيَةً لِكَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، كَانَتْ تَرْعَى غَنَمًا بِسِلْعٍ، فَأُصِيبَتْ شَاةٌ مِنْهَا، فَأَدْرَكَتْهَا فَذَكَّتْهَا بِحَجَرٍ فَسَأَلَ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ:
“Semua ulama yang kami hafal telah sepakat akan dibolehkannya sembelihan wanita dan anak kecil. Dan telah diriwayatkan bahwa seorang budak wanita milik Ka’b bin Malik menggembala kambing di sebuah bukit di Madinah. Lalu satu kambing mengalami kecelakaan. Ia pun menemukannya lalu menyembelihnya dengan batu. Ka’b bertanya kepada Nabi ﷺ tentang itu, maka beliau pun bersabda:
كُلُوهَا
“Makanlah itu!” (Al-Mughni)
Imam Ibnu Qudamah berkata:
وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ فَوَائِدُ سَبْعٌ؛
“Dalam hadis ini ada tujuh faidah:
أَحَدُهَا، إبَاحَةُ ذَبِيحَةِ الْمَرْأَةِ
Pertama: bolehnya sembelihan wanita.
وَالثَّانِيَةُ، إبَاحَةُ ذَبِيحَةِ الْأَمَةِ.
Kedua: bolehnya sembelihan budak wanita.
وَالثَّالِثَةُ إبَاحَةُ ذَبِيحَةِ الْحَائِضِ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَمْ يَسْتَفْصِلْ
Ketiga: bolehnya sembelihan wanita yang sedang haid. Sebab, Nabi ﷺ tidak bertanya secara rinci kepadanya.
وَالرَّابِعَةُ، إبَاحَةُ الذَّبْحِ بِالْحَجَرِ.
Keempat: bolehnya penyembelihan dengan batu.
وَالْخَامِسَةُ، إبَاحَةُ ذَبْحِ مَا خِيفَ عَلَيْهِ الْمَوْتُ.
Kelima: bolehnya menyembelih sesuatu yang dikhawatirkan akan mati.
وَالسَّادِسَةُ، حِلُّ مَا يَذْبَحُهُ غَيْرُ مَالِكِهِ بِغَيْرِ إذْنِهِ.
Keenam: halalnya hewan yang disembelih oleh selain pemiliknya dan tanpa izinnya.
وَالسَّابِعَةُ، إبَاحَةُ ذَبْحِهِ لِغَيْرِ مَالِكِهِ عِنْدَ الْخَوْفِ عَلَيْهِ. وَيَشْتَرِطُ أَنْ يَكُونَ عَاقِلًا، فَإِنْ كَانَ طِفْلًا، أَوْ مَجْنُونًا، أَوْ سَكْرَانَ لَا يَعْقِلُ، لَمْ يَصِحَّ مِنْهُ الذَّبْحُ. وَبِهَذَا قَالَ مَالِكٌ.
Ketujuh: kebolehan menyembelih itu oleh selain pemiliknya yakni tatkala dikhawatirkan itu akan mati. Dan disyaratkan orang yang menyembelihnya berakal. Jika ia anak kecil (yang bukan mumayiz) atau gila atau mabuk yang tidak sadar, maka penyembelihan tersebut tidak sah. Itulah pendapat Malik.” (Al-Mughni)
7. Jika suatu hewan disembelih, lalu ditemukan janin di dalamnya, apa yang harus dilakukan?
Syekh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri berkata:
وإن ذُكِّيت أمه وخرج من بطنها حياً وجب أن يذكَّى؛ لأنه انفصل عنها وبه حياة، وإن ذكيت أمه وخرج ميتاً فهو حلال يؤكل بلا تذكية؛ لأن الجنين جزء من أجزاء الأم، والذكاة قد أتت على جميع أعضائها، فيحل أكلها كلها.
عَنْ أَبي سَعِيدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ:
“Jika induknya disembelih dan ia keluar dari perutnya dalam keadaan hidup, maka ia wajib disembelih. Sebab, ia keluar dari induknya dalam keadaan memiliki kehidupan. Namun, jika induknya disembelih dan ia keluar dari perutnya dalam keadaan sudah mati, maka itu halal dan boleh dimakan tanpa penyembelihan. Sebab, janin adalah bagian dari induknya, dan penyembelihan sudah mengenai semua anggota badannya, sehingga dihalalkan memakan seluruh yang ada di dalanya. Dari Abu Sa’id-semoga Allah meridainya-dari Nabi ﷺ, beliau bersabda (HR. Abu Daud dan Tirmidzi):
«ذكَاةُ الجَنِينِ ذكَاةُ أُمِّهِ». أخرجه أبو داود والترمذي
“Penyembelihan janin adalah penyembelihan induknya.” (Mausu’ah Al-Fiqh Al-Islami)
8. Beberapa adab dalam penyembelihan.
Imam Ibnu Qudamah berkata:
وَيُسَنُّ الذَّبْحُ بِسِكِّينٍ حَادٍّ؛ لِمَا رَوَى أَبُو دَاوُد، عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ، قَالَ:
“Disunahkan menyembelih dengan pisau yang tajam, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Syaddad bin Aus. Ia berkata:
«خَصْلَتَانِ سَمِعْتُهُمَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: إنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ»
“Dua perkara yang kudengar dari Rasulullah ﷺ: sesungguhnya Allah menetapkan kebaikan dalam segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Dan jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaknya salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya.”
وَيُكْرَه أَنْ يَسُنَّ السِّكِّينَ وَالْحَيَوَانُ يُبْصِرُهُ. وَرَأَى عُمَرُ رَجُلًا قَدْ وَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى شَاةٍ، وَهُوَ يَحُدُّ السِّكِّينَ، فَضَرَبَهُ حَتَّى أَفْلَتَ الشَّاةَ. وَيُكْرَهُ أَنْ يَذْبَحَ شَاةً وَالْأُخْرَى تَنْظُرُ إلَيْهِ، وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَسْتَقْبِلَ بِهَا الْقِبْلَةَ. وَاسْتَحَبَّ ذَلِكَ ابْنُ عُمَرَ، وَابْنُ سِيرِينَ، وَعَطَاءٌ، وَالثَّوْرِيُّ، وَالشَّافِعِيُّ، وَأَصْحَابُ الرَّأْيِ.
Dan dibenci mengasah pisau dalam keadaan hewan yang akan disembelih melihatnya. ‘Umar menyaksikan seseorang menginjakkan kakinya pada seekor kambing sambil mengasah pisau. Maka ‘Umar pun memukul orang itu sampai kambing itu lepas. Dan dibenci menyembelih kambing dalam keadaan kambing lainnya melihatnya. Dan disukai untuk mengarahkannya ke kiblat ketika menyembelih. Itu disukai oleh Ibnu ‘Umar, Ibnu Sirin, ‘Atha, Ats-Tsauri, Asy-Syafi’i, dan Ashhab Ar-Ra’yi.” (Al-Mughni)
Syekh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri berkata:
يسن لمن أراد أن يذبح الحيوان ما يلي:….
“Disunahkan bagi orang yang ingin menyembelih hewan, perkara berikut ini:…
6 – ترك الذبيحة ترفس بعد الذبح لإراحتها.
6. Membiarkan hewan yang disembelih menyepak setelah ia disembelih agar ia bisa tenang.”
7 – إضافة التكبير بعد التسمية فيقول عند الذبح: (باسم الله والله أكبر).
7. Menambah takbir setelah mengucapkan bismillah, yakni ketika menyembelih mengatakan: “Bismillah wallaahu akbar.”
8 – ذبح بهيمة الأنعام مضجعة على الأرض، ونحر الإبل قائمة معقولة يدها اليسرى.
8. Menyembelih hewan ternak dalam keadaan dibaringkan ke tanah, sedangkan unta dinahar (ditusuk lehernya dari bawah) dalam keadaan ia berdiri dan terikat tangannya yang kiri.
9 – الرفق بالبهيمة، فلا يضرب بها على الأرض، ولا يجرها برجلها إلى المذبح؛ لما فيه من الأذى.
9. Bersikap lembut terhadap hewan ternak. Tidak boleh ia dibanting dan diseret dengan memegang kakinya menuju tempat penyembelihan, karena itu menyakitinya.” (Mausu’ah Al-Fiqh Al-Islami)
9. Penyembelihan yang diharamkan.
Syekh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri berkata:
يحرم في الذكاة ما يلي:
“Diharamkan berikut ini dalam penyembelihan:
1 – ذبح الحيوان مباح الأكل لغير أكله؛ لما فيه من العبث وإضاعة المال.
1. Menyembelih hewan yang boleh dimakan tapi bukan untuk dimakan, karena itu perkara sia-sia dan menyia-nyiakan harta.
2 – الذبح بالسن أو العظم أو الظفر.
2. Menyembelih dengan gigi atau tulang atau kuku.
3 – حبس الحيوان أو ربطه وجعله هدفاً للرماية فيرميه حتى يموت.
3. Menahan hewan atau mengikatnya dan menjadikannya sebagai sasaran lempar lalu dilempar hingga mati.
4 – ذبح الحيوان مع قفاه لغير ضرورة، وتعذيبه قبل ذبحه.
4. Menyembelih hewan hingga tengkuknya tanpa alasan yang mendesak dan menyiksanya sebelum menyembelihnya.
5 – ذكر اسم غير الله عند الذبح.
5. Menyebut nama selain Allah ketika melakukan penyembelihan.” (Mausu’ah Al-Fiqh Al-Islami)
Siberut, 27 Dzulqa’dah 1445
Abu Yahya Adiya






