Akibat Memuji Diri Sendiri

Akibat Memuji Diri Sendiri

“Saya lebih kompeten daripada dia!”

“Kenapa dia yang dapat penghargaan? Kan saya yang lebih banyak berkorban!”

“Masa saya disamakan dengan orang yang najis seperti itu?!”

Apa penilaian kita terhadap seseorang yang memuji dirinya sendiri?

Allah Ta’ala berfirman:

فلا تزكوا أنفسكم هو أعلم بمن اتقى

“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Apa maksud menganggap diri kalian suci?

Imam Ibnu Katsir menjelaskan:

تَمْدَحُوهَا وَتَشْكُرُوهَا وَتُمَنُّوا بِأَعْمَالِكُمْ،

“Yaitu kalian memuji dan berterima kasih kepada diri kalian sendiri dan merasa punya jasa karena amalan kalian.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)

Syekh Jamaluddin Al-Qasimi menjelaskan:

تشهدوا لها بأنها زكية بريئة من الذنوب والمعاصي

“Yaitu bersaksi bahwa diri kalian suci dan bersih dari dosa dan maksiat.” (Mahasin At-Ta’wiil)

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin menjelaskan:

فنهى الله سبحانه وتعالى عباده أن يزكوا أنفسهم يعني أن يمدحوها افتخارا على الخلق، فيقول مثلا لصاحبه:

“Allah melarang hamba-hamba-Nya menganggap suci diri mereka, yakni memujinya dalam rangka membanggakan diri di hadapan orang lain. Misalnya berkata kepada temannya:

أنا أعلم منك، أنا أكثر منك طاعة، أنا أكثر منك مالا.

“Aku lebih berilmu darimu. Aku lebih taat darimu. Aku lebih berharta darimu.”

وما أشبه ذلك، فهذا – نسأل الله العافية – تزكية للنفس ونوع من الافتخار

Dan ucapan semacamnya. Ini-kita memohon kepada Allah keselamatan-adalah perbuatan menganggap suci diri sendiri dan bentuk membanggakan diri.” (Syarh Riyadhush Shalihin)

Orang yang memuji diri sendiri sudah melanggar larangan Tuhannya. Ia menyangka bahwa dengan memuji dirinya sendiri akan bertambahlah kemuliaannya dan makin tinggilah kedudukannya. Kenyataannya?

Justru sebaliknya!

Imam Malik berkata:

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا ذَهَبَ يَمدَحُ نَفْسَه، ذَهَبَ بَهَاؤُهُ.

“Sesungguhnya jika seseorang memuji dirinya, maka hilanglah kewibawaannya.” (Siyar A’lam An-Nubala)

Ya, mulai hilanglah kewibawaannya. Hilanglah kemuliaannya. Bagaimana tidak hilang, tidak mungkin seseorang memuji dirinya sendiri kecuali karena beranggapan bahwa dirinya punya kelebihan daripada orang lain.

Ia merasa dirinya lebih saleh dan lebih baik daripada orang lain.

Ia merasa dirinya lebih berilmu dan lebih pintar daripada orang lain.

Ia merasa dirinya lebih mulia dan lebih terhormat daripada orang lain.

Ada penyakit ujub pada dirinya!

Padahal….

Ketika seseorang merasa makin baik daripada orang lain, berarti makin rusaklah dirinya.

Ketika ia merasa makin berilmu daripada orang lain, berarti makin bodohlah dirinya.

Dan ketika merasa makin mulia daripada orang lain, berarti makinlah rendahlah ia.

Imam Masruq Al-Ajda’ berkata:

 وَكَفَى بِالْمَرْءِ جَهْلًا أَنْ يُعْجَبَ بِعَمَلِهِ

“Cukuplah seseorang dikatakan bodoh jika ia merasa kagum terhadap amalannya.” (Jami’ Bayan Al-Ilm Wa Fadhlih)

Para ulama terdahulu berkata:

إِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ دَلِيلٌ عَلَى ضِعْفِ عَقْلِهِ

“Rasa kagum seseorang kepada dirinya adalah tanda kelemahan akalnya.” (Jami’ Bayan Al-Ilm Wa Fadhlih)

 

Padang, 5 Syawwal 1442

Abu Yahya Adiya