Ia bergerak bersama 10.000 orang menuju kota itu. Ia akan menghadapi musuh-musuhnya yang dulu meludahinya, melemparinya dengan kotoran hewan, mencekiknya, serta selalu menyakitinya baik dengan lisan maupun perbuatan.
Ketika itu, tak ada sedikit pun perlawanan yang menghadangnya. Seluruh penghuni kota itu mengangkat tangan di hadapannya.
Tidak diragukan lagi, dialah pemenangnya. Dan pantas pula kalau ia disebut raja Arab, karena hampir seluruh jazirah Arab ketika itu ada di genggamannya.
Lalu, bagaimana sikapnya ketika memasuki kota itu?
Tertunduk kepalanya, tertuju ke bawah pandangannya dan dagunya menempel di pakaian perangnya!
Itulah keadaan Nabi ﷺ di hari yang sangat bersejarah, yang dikenal dengan nama Yaumu Fathi Makkah (hari penaklukan kota Mekah).
Ya, beliau berhasil menaklukkan kota Mekah. Beliau berhasil mengalahkan kaum Quraisy yang pernah menyakitinya dan mengusirnya dari kampung halamannya.
Namun, dengan posisinya seperti itu, ternyata beliau tidak membusungkan dada. Beliau tetap tawaduk. Merendahkan hati di hadapan Allah.
Bahkan, ketika Nabi ﷺ berpidato di pintu Ka’bah sedangkan orang-orang Quraisy ada di bawahnya, beliau ﷺ bersabda:
يا معشر قريش، ما ترون أني فاعل بكم؟
“Wahai kaum Quraisy, menurut kalian apa yang akan kulakukan terhadap kalian?”
Kemenangan ada di tangan Nabi ﷺ ketika itu. Beliau mampu melakukan apa pun terhadap mereka ketika itu.
Orang-orang Quraisy menjawab:
خيرا، أخ كريم وابن أخ كريم،
“Kebaikan. Engkau adalah saudara yang mulia dan putra saudara yang mulia. ”
Artinya mereka meminta maaf dan memohon perlakuan yang baik dari Nabi ﷺ.
Lalu beliau ﷺ pun bersabda:
فإني أقول لكم كما قال يوسف لإخوته: لا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ اذهبوا فأنتم الطلقاء.
“Sesungguhnya kukatakan kepada kalian sebagaimana yang dikatakan Yusuf kepada saudara-saudaranya: ‘Hari ini tidak ada cercaan bagi kalian’, pergilah, karena kalian semua bebas!”
Allah Akbar!
Ternyata beliau memaafkan orang-orang yang selama ini menyakiti dan menghina beliau.
Itulah akhlak mulia yang perlu kita tiru dan kita teladani.
Siberut, 27 Dzulhijjah 1441
Abu Yahya Adiya






