Ini Termasuk Salat Sunnah (Bag. 2)

Ini Termasuk Salat Sunnah (Bag. 2)

Awal waktu salat Duha adalah sejak matahari meninggi setinggi tombak.

Dan akhir waktu salat Duha adalah sebelum tergelincirnya matahari.

Kalau dihitung dengan menit, kapankah awal waktu salat Duha?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

وبالدَّقائق المعروفة: حوالي اثنتي عشرة دقيقة، ولنجعله ربع ساعة خمس عشرة دقيقة؛ لأنه أحوط فإذا مضى خمس عشرة دقيقة من طلوع الشَّمس، فإنه يزول وقت النَّهي، ويدخل وقت صلاة الضُّحى.

“Dan dengan menit yang diketahui yaitu sekitar 12 menit dan kita jadikan seperempat jam yaitu 15 menit, sebab itu lebih berhati-hati. Karena itu, jika telah lewat 15 menit sejak matahari terbit, maka telah hilanglah waktu larangan dan masuklah waktu salat Duha.” (Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘Alaa Zaad Al-Mustaqni’)

Dan kalau dihitung dengan menit, kapankah akhir waktu salat Duha?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin berkata:

أي: قبل زوال الشَّمس بزمنٍ قليل حوالي عشر دقائق، لأن ما قبيل الزَّوال وقت نهي ينهى عن الصَّلاة فيه، لأنه الوقت الذي تُسْجَرُ فيه جهنَّم

“Yaitu sedikit waktu sebelum tergelincir matahari, yakni sekitar 10 menit. Karena, menjelang tergelincir matahari adalah waktu terlarang untuk salat. Sebab, ketika itu Jahannam sedang dipanaskan.” (Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘Alaa Zaad Al-Mustaqni’)

Berarti, waktu salat Duha kalau dihitung dengan menit yakni 15 menit setelah terbit matahari sampai 10 menit sebelum matahari tergelincir.

Dan waktu yang paling baik untuk melaksanakan salat Duha adalah akhir waktu. Sebab, Nabi ﷺ telah bersabda:

صلاة الأوَّابينَ حين تَرْمَضُ الفِصَالُ

“Salatnya orang-orang yang bertobat adalah tatkala anak-anak unta bangun karena kepanasan.” (HR. Muslim)

Dan itu terjadi di akhir waktu.

 

  1. Salat Malam

Salat malam adalah salat sunnah mutlak yang dilaksanakan di malam hari.

Nabi ﷺ bersabda:

وَأَفْضَلُ الصَّلاةِ بعدَ الفَرِيضَةِ صَلاةُ اللَّيْل

“Sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim)

 

Kapan Awal dan Akhir Waktu Salat Malam?

Malam bermula dengan tenggelamnya matahari dan berakhir dengan terbitnya fajar sidik. Berarti, itu pula waktu salat malam.

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

واللَّيلُ يدخل مِن غروب الشَّمس، فالصَّلاة مثلاً بين المغرب والعِشاء أفضل مِن الصَّلاة بين الظُّهر والعصر؛ لأنها صلاة ليل فهي أفضل.

“Dan malam masuk dari sejak tenggelamnya matahari. Salat antara Magrib dan Isya contohnya itu lebih baik utama daripada salat antara Zuhur dan Asar. Sebab, itu adalah salat malam, dan itu lebih utama.” (Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘Alaa Zaad Al-Mustaqni’)

 

Kapan Waktu Salat  Malam Yang Paling Utama?

Nabi ﷺ bersabda:

وَأَحَبُّ الصَّلاةِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى صَلاةُ دَاوُدَ: كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيلِ، وَيَقُومُ ثُلُثَهُ، وَيَنَامُ سُدُسَهُ

“Salat yang paling dicintai Allah adalah salat Daud. Ia tidur di pertengahan malam, lalu bangun di sepertiga malam terakhir, kemudian tidur di seperenam malam terakhir.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa waktu salat malam yang paling utama yaitu sepertiga malam terakhir. Itulah waktu salat yang paling Allah cintai. Dan di waktu itu pula Allah turun ke langit dunia.

Nabi ﷺ juga bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ:

“Tuhan kita turun setiap malam ke langit dunia tatkala tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata:

مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Kukabulkan doanya. Siapa yang meminta kepada-Ku, Niscaya Kuberi permintaannya. Dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku, Niscaya Kuampuni ia.” (HR. Muslim)

 

Bagaimana Cara Melaksanakan Salat Malam?

Nabi ﷺ ditanya tentang cara salat malam, maka beliau pun bersabda:

صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ، صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Salat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir keburu Subuh, maka hendaknya ia melaksanakan salat 1 rakaat maka itu menjadi witir bagi salat yang telah ia kerjakan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa jumlah minimal rakaat salat malam adalah 2 rakaat. Sedangkan jumlah maksimalnya tidak terbatas. Sebab, seandainya itu ada batasnya, tentu itu akan dijelaskan oleh Nabi ﷺ. Itu adalah pendapat mayoritas ulama.

 

  1. Salat Witir

Salat witir yaitu salat yang berjumlah ganjil yang dilaksanakan di malam hari.

Nabi ﷺ berkata:

إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الوِتْرَ، فَأَوْتِرُوا يَا أَهْلَ القُرْآنِ

“Sesungguhnya Allah itu witir (satu), mencintai witir, maka salat witirlah wahai ahli Quran!” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

 

Kapan Awal dan Akhir Waktu Salat Witir?

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ أَمَدَّكُمْ بِصَلَاةٍ هِيَ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ: الوِتْرُ، جَعَلَهُ اللَّهُ لَكُمْ فِيمَا بَيْنَ صَلَاةِ العِشَاءِ إِلَى أَنْ يَطْلُعَ الفَجْرُ

“Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada kalian salat yang lebih baik dari unta merah yaitu witir. Allah menjadikannya untuk kalian antara salat Isya dan terbitnya fajar.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Hadis ini menunjukkan bahwa waktu salat Witir adalah sejak selesai salat Isya sampai terbit fajar sidik.

Karena itu, siapa yang selesai melaksanakan salat Isya, maka ia boleh melaksanakan salat Witir, walaupun salat Isya itu dilaksanakan di waktu Magrib (yaitu karena dijamak dengan salat Magrib). Dan salat witir bisa dilaksanakan selama belum terbitnya fajar sidik. Jika telah terbit fajar sidik, maka habislah waktu salat Witir.

 

Kapan Waktu Salat  Witir Yang Paling Utama?

Waktu salat Witir yang paling utama adalah seperti waktu salat malam yang paling utama, yaitu sepertiga malam terakhir.

 

Bagaimana Cara Melaksanakan Salat Witir?

Nabi ﷺ bersabda:

الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ

“Witir adalah keharusan bagi setiap muslim. Siapa yang ingin melaksanakan witir dengan 5 rakaat, hendaknya ia melakukannya. Siapa yang ingin melaksanakan witir dengan 3 rakaat, hendaknya ia melakukannya. Siapa yang ingin melaksanakan witir dengan 1 rakaat, hendaknya ia melakukannya.” (HR. Abu Daud dan An-Nasai)

Ummu Salamah berkata:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُوتِرُ بِخَمْسٍ، أَوْ سَبْعٍ، لَا يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِكَلَامٍ، وَلَا تَسْلِيمٍ

“Nabi ﷺ melaksanakan salat Witir sebanyak 5 rakaat atau 7 rakaat, tanpa beliau selingi itu dengan perkataan dan tidak pula salam.” (HR. Muslim)

‘Aisyah ditanya tentang salat Witir Nabi ﷺ, maka ia menyebutkan:

وَيُصَلِّي تِسْعَ رَكَعَاتٍ

“Beliau melaksanakan salat witir 9 rakaat.” (HR. Muslim)

‘Aisyah berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُصَلِّي فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ – وَهِيَ الَّتِي يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ – إِلَى الْفَجْرِ، إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ، وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ،

“Rasulullah ﷺ melaksanakan salat di antara waktu selesainya salat Isya-yang disebut oleh orang-orang sebagai ‘Atamah- sampai terbitnya fajar yaitu sebelas rakaat. Beliau salam di setiap dua rakaat dan menutup dengan satu rakaat.” (HR. Muslim)

Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa jumlah minimal rakaat salat Witir adalah 1 rakaat. Sedangkan maksimalnya yaitu 11 rakaat.

Berarti, seseorang bisa melaksanakan salat Witir dengan 1 rakaat, 3 rakaat, 5 rakaat, 7 rakaat, 9 rakaat dan 11 rakaat. Namun, bagaimana cara melaksanakan semua itu?

 

(bersambung)

 

Siberut, 24 Jumada Ats-Tsaniyah 1442

Abu Yahya Adiya