Ini Termasuk Salat Sunnah (Bag.4)

Ini Termasuk Salat Sunnah (Bag.4)

 

  1. Salat Istikharah

Apa itu istikharah?

Imam Al-Munawi berkata:

والاستخارة طلب الخيرة في الأمور منه تعالى وحقيقتها تفويض الاختيار إليه سبحانه

“Istikharah adalah meminta pilihan kepada-Nya dalam berbagai urusan. Hakekatnya yaitu menyerahkan pilihan kepada-Nya.” (Faidh Al-Qadir)

  1. Bagaimana cara istikharah?

Jabir bin ‘Abdillah berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ القُرْآنِ، يَقُولُ:

“Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kami istikharah dalam semua perkara, sebagaimana beliau mengajarkan kepada kami surat Al Qur’an. Beliau bersabda:

إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الفَرِيضَةِ، ثُمَّ لِيَقُلْ:

“Jika salah seorang dari kalian bertekad melakukan sesuatu, maka hendaknya ia mengerjakan salat dua rakaat selain yang wajib, lalu mengucapkan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ العَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الغُيُوبِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, dan aku memohon kemampuan kepada-Mu dengan kemampuan-Mu, dan aku juga memohon karunia-Mu yang besar, karena sesungguhnya Engkau Maha Mampu sedangkan aku tidak mampu, Engkau Maha mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha Mengetahui segala yang gaib.

اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي – أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ – فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي، ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ

Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini adalah baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku -atau berkata: baik di duniaku atau akhiratku-, maka tetapkanlah itu untukku dan mudahkanlah itu bagiku, lalu berkatilah itu untuku.

وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي – أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِي الخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ أَرْضِنِي

Dan jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku, -atau berkata; buruk di duniaku atau akhiratku-, maka jauhkanlah aku dari itu dan jauhkanlah itu dariku, dan tetapkanlah untukku kebaikan di mana pun itu, kemudian jadikanlah aku rida terhadapnya.”

قَالَ: «وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ»

Nabi ﷺ bersabda, “Lalu hendaknya ia menyebutkan hajatnya.” (HR. Bukhari)

Apa maksud mengerjakan salat dua rakaat selain yang wajib di sini?

Imam An-Nawawi berkata:

تكون الصلاة ركعتين من النافلة، والظاهر أنها تحصل بركعتين من السنن الرواتب، وبتحية المسجد وغيرها من النوافل

“Salat ini adalah 2 rakaat salat sunnah. Yang tampak bahwa itu terwujud dengan dua rakaat sunnah rawatib, tahiyatulmasjid, dan salat sunnah lainnya.” (Al-Adzkar)

  1. Apakah dianjurkan musyawarah terlebih dahulu sebelum istikharah?

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

ما ندم من استخار الخالق، وشاور المخلوقين، وثبت في أمره.

“Tidak akan menyesal orang yang beristikharah kepada Khalik (Allah) dan bermusyawarah dengan para makhluk (manusia), serta tetap teguh dalam urusannya.” (Al-Wabil Ash-Shayyib Min Al-Kalim Ath-Thayiib)

Imam An-Nawawi berkata:

يُسْتَحَبُّ أَنْ يَسْتَشِيرَ قَبْلَ الاسْتِخَارَةِ مَنْ يَعْلَمُ مِنْ حَالِهِ النَّصِيحَةَ وَالشَّفَقَةَ وَالْخِبْرَةَ , وَيَثِقُ بِدِينِهِ وَمَعْرِفَتِهِ . قَالَ تَعَالَى:

“Dianjurkan sebelum istikharah seseorang bermusyawarah dengan orang yang dari keadaannya ia tahu ketulusan, kasih, dan pengalamannya. Dan ia juga percaya kepada agamanya dan pengetahuannya. Allah berfirman:

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali-‘Imran: 159)

وَإِذَا اسْتَشَارَ وَظَهَرَ أَنَّهُ مَصْلَحَةٌ , اسْتَخَارَ اللَّهَ تَعَالَى فِي ذَلِكَ

Jika telah bermusyawarah, dan tampak bahwa itu adalah maslahat, maka hendaknya ia beristikharah kepada Allah dalam hal demikian.”

  1. Apakah hasil dari istikharah adalah mimpi?

Syekh Abu Malik Kamal berkata:

ليس من شرط الاستخارة أن يرى صاحبها رؤيا في منامه كما يعتقده كثير من العوام, وإنما تكون بما ينشرح له الصدر, أو يأول له الأمر بطبيعته وفق ما اختاره الله تعالى.

“Bukan syarat istikharah yaitu orang yang melakukannya bermimpi dalam tidurnya sebagaimana yang diyakini banyak orang awam. Akan tetapi hasil dari istikharah yaitu terwujudnya sesuatu yang membuat dada terasa lapang atau urusannya itu secara alami  menjadi sesuai dengan yang Allah pilih.” (Shahih Fiqh As-Sunnah)

  1. Apakah boleh istikharah berulang kali?

Syekh DR. Husamuddin berkata:

يصح بل يستحب تكرار الاستخارة كما ذهب إليه جمهور الفقهاء لكون ذلك نوعاً من الإلحاح الذي يحبه الله سبحانه وتعالى

“Sah, bahkan dianjurkan untuk mengulang-ulang istikharah, sebagaimana itu merupakan pendapat mayoritas ahli fikih. Karena, istikharah itu semacam permohonan mendesak yang dicintai Allah.” (http://yasaloonak.net)

 

  1. Salat Taubat

Nabi ﷺ bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا، فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ، ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ:

“Tidaklah seorang hamba melakukan suatu dosa, lalu bersuci dengan baik, kemudian melaksanakan salat dua rakaat dan memohon ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.”

Kemudian Nabi ﷺ membaca ayat:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Maka, siapa pun yang terjatuh dalam dosa, jangan sampai berputus asa dari ampunan-Nya. Segeralah jemput ampunan-Nya dengan melaksanakan salat 2 rakaat karena-Nya.

 

Siberut, 8 Rajab 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah Fii Fiqh Al-Kitab wa As-Sunnah Al-Muthahharah karya Husain bin ‘Audah Al-‘Awayisyah.
  2. Shahih Fiqh As-Sunnah wa Adillatuh wa Taudhih Madzahib Al-Aimmah karya Syekh Abu Malik Kamal.
  3. http://islamqa.info/ar/ref/11981
  4. http://yasaloonak.net