Meninggikan Kubur Lebih dari Sejengkal

Meninggikan Kubur Lebih dari Sejengkal

“Aku mendengar Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk meratakan kubur. ” (HR. Muslim)

Itulah kabar dari Fadhalah bin ‘Ubaid. Dan itu pula pesan yang Nabi ﷺ berikan kepada ‘Ali bin Abu Thalib:

وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ

“Dan jangan engkau meninggalkan kubur yang meninggi kecuali engkau ratakan. “(HR. Muslim)

Imam An-Nawawi berkata:

فِيهِ أَنَّ السُّنَّةَ أَنَّ الْقَبْرَ لَا يُرْفَعُ عَلَى الْأَرْضِ رَفْعًا كَثِيرًا وَلَا يُسَنَّمُ بَلْ يُرْفَعُ نَحْوَ شِبْرٍ وَيُسَطَّحُ وَهَذَا مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَمَنْ وَافَقَهُ

“Dalam hadis ini terkandung faidah bahwa yang sunnah adalah tidak meninggikan kubur dari tanah secara berlebihan, dan tidak membuatnya seperti punuk unta, bahkan ditinggikan hanya sejengkal dan dihamparkan. Dan ini adalah pendapat Asy-Syafi’i dan orang yang sependapat dengannya.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)

Pernyataan Imam An-Nawawi itu berdasarkan hadis dalam Shahih Ibnu Hibban dari Jabir bin ‘Abdillah:

وَرُفِعَ قَبْرُهُ مِنَ الْأَرْضِ نَحْوًا مِنْ شِبْرٍ

“Kubur Nabi ditinggikan sekitar sejengkal dari permukaan tanah.”

Karena itu, tidak meninggikan kubur lebih dari sejengkal dari permukaan tanah adalah perbuatan yang sesuai dengan petunjuk nabi kita.

Mu’awiyah bin Abi Sufyan berkata:

إن تسوية القبور من السنة، وقد رفعت اليهود والنصارى، فلا تشبهوا بهم

“Sesungguhnya meratakan kubur termasuk sunnah. Sungguh, kaum Yahudi dan Nashrani telah meninggikan kubur, maka jangan kalian menyerupai mereka!” (Iqtidha Ash-Shirath Al-Mustaqim Limukhaalafah Ashhaab Al-Jahiim)

Kalau hanya meninggikan kubur lebih dari sejengkal saja bukanlah petunjuk nabi kita dan kebiasaan orang-orang yang memusuhi kita, maka bagaimana pula kalau melakukan lebih dari itu?

Jabir bin ‘Abdillah berkata:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah ﷺ melarang mengapuri kuburan, duduk di atasnya, dan membuat bangunan di atasnya.” (HR. Muslim)

Ya, membuat bangunan di atasnya. Karena itu Imam Asy-Syafi’i berkata:

وَرَأَيْتُ الْأَئِمَّةَ بِمَكَّةَ يَأْمُرُونَ بِهَدْمِ مَا يُبْنَى

“Aku melihat para ulama di Mekah menyuruh menghancurkan apa yang dibangun di atas kubur.” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)

Imam Al-Munawi berkata:

وأفتى جمع شافعيون بوجوب هدم كل بناء بالقرافة حتى قبة إمامنا الشافعي رضي الله عنه التي بناها بعض الملوك

“Segolongan ulama Syafi’iyyah berfatwa tentang wajibnya menghancurkan segala bangunan di Qorofah (tanah pekuburan), sekalipun kubah Imam kita sendiri yaitu Asy-Syafi’i yang dibangun oleh sebagian penguasa.” (Faidh Al-Qadir)

Mungkin ada yang bertanya, “Bagaimana dengan kuburan Nabi ﷺ? Bukankah ada kubah di atasnya?”

Imam Ash-Shan’ani menjawab:

هذا جهلٌ عظيمٌ بحقيقةِ الحالِ ، فإن هذه القبةَ ليس بناؤها منهُ ﷺ ولا من أصحابهِ ، ولا من تابعيهم ، ولا من تابعِ التابعين ، ولا علماء الأمةِ وأئمة ملتهِ ، بل هذه القبةُ المعمولةُ على قبرهِ ﷺ من أبنيةِ بعضِ ملوكِ مصر المتأخرين ، وهو قلاوون الصالحي المعروف بالملكِ المنصورِ في سنةِ ثمانٍ وسبعين وست مئة ، ذكرهُ في ” تحقيقِ النصرةِ بتلخيصِ معالمِ دارِ الهجرةِ ” ، فهذه أمورٌ دولية لا دليليةٌ

“Ini merupakan kebodohan yang besar tentang keadaan yang sebenarnya. Karena sesungguhnya membangun kubah itu tidak diperintahkan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya dan tidak pula oleh para tabiin serta tabi’it tabiin. Dan tidak pula diperintahkan oleh para ulama umat dan pemimpin agamanya. Bahkan, kubah yang dibangun di atas kubur beliau ﷺ adalah termasuk bangunan yang didirikan oleh raja Mesir belakangan yaitu Qaluun Ash-Shalihi yang dikenal dengan Raja Al-Manshur di tahun 678 H. Itu disebutkan dalam Tahqiq An-Nushrah Bitalkhish Ma’alim Daar Al-Hijrah. Ini adalah urusan negara, tidak ada kaitannya dengan dalil.” (Tathhiir Al-I’tiqad ‘An Adraan Al-Ilhad)

 

Siberut, 13 Sya’ban 1446
Abu Yahya Adiya