Cara Melaksanakan Tawaf

Bagaimana cara Nabi ﷺ melaksanakan tawaf?

 

  1. Berwudu terlebih dahulu jika memang dalam keadaan hadas.

Itu berdasarkan kabar dariUrwah bin Az-Zubair. Ia berkata:

قَدْ حَجَّ النَّبِيُّ ﷺ، فَأَخْبَرَتْنِي عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: «أَنَّهُ أَوَّلُ شَيْءٍ بَدَأَ بِهِ حِينَ قَدِمَ أَنَّهُ تَوَضَّأَ، ثُمَّ طَافَ بِالْبَيْتِ

Nabi ﷺ pernah berhaji. Lalu Aisyah mengabarkan kepadaku bahwa yang pertama kali beliau lakukan ketika datang ke Masjidilharam yaitu berwudu lalu tawaf mengelilingi Kabah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagaimana dengan wanita haid?

Wanita haid tetap melakukan amalan yang dilakukan jamaah haji lainnya, hanya saja ia tidak tawaf.

Nabi ﷺ bersabda kepada Aisyah tatkala ia haid menjelang tawaf:

افْعَلِي كَمَا يَفْعَلُ الحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي

Lakukan apa yang dilakukan oleh orang yang berhaji, hanya saja jangan engkau tawaf sampai engkau suci! (HR. Bukhari dan Muslim)

 

  1. Berjalan menuju Hajar Aswad lalu menciumnya.

Itu berdasarkan kabar dari Umar bin Al-Khaththab. Suatu hari ia mendatangi Hajar Aswad lalu menciumnya kemudian ia berkata:

إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ، لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ، وَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sungguh, aku tahu engkau ini hanyalah batu yang tidak bisa memberi bahaya dan tidak pula bisa memberi manfaat. Sungguh, kalau saja aku tidak melihat Nabi ﷺ menciummu, tentu aku tidak sudi menciummu!” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

  1. Jika tak mungkin menciumnya, maka bisa mengusap Hajar Aswad dengan tangan lalu mencium tangannya.

Itu berdasarkan kabar dari Nafi. Ia berkata:

رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَسْتَلِمُ الْحَجَرَ بِيَدِهِ، ثُمَّ قَبَّلَ يَدَهُ وَقَالَ:

“Aku melihat Ibnu ‘Umar mengusap Hajar Aswad dengan tangannya lalu ia mencium tangannya itu. Ia berkata:

مَا تَرَكْتُهُ مُنْذُ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَفْعَلُهُ

“Aku tidak pernah meninggalkan ini sejak kulihat Rasulullah ﷺ melakukannya.” (HR. Muslim)

Dan tangan yang digunakan untuk mengusap di sini adalah tangan kanan.

Syekh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin berkata:

والمسح يكون باليد اليمنى لأن اليد اليمنى تقدم للإكرام والتعظيم.

“Mengusap di sini yaitu dengan tangan kanan. Sebab, tangan kanan didahulukan untuk pemuliaan dan pengagungan.” (Syarh Hadits Jabir bin ‘Abdillah Fii Shifah Hajjah An-Nabi ﷺ)

Itu berdasarkan kabar dari Aisyah:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

“Nabi ﷺ suka untuk mendahulukan anggota yang kanan dalam hal memakai sandal, menyisir, bersuci, dan dalam segala hal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

  1. Jika tak mungkin menyentuh Hajar Aswad dengan tangan, maka bisa menyentuhnya dengan tongkat dan semacamnya lalu menciumnya.

Itu berdasarkan kabar dari Abu Ath-Thufail. Ia berkata:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ، وَيَسْتَلِمُ الرُّكْنَ بِمِحْجَنٍ مَعَهُ وَيُقَبِّلُ الْمِحْجَنَ

Aku melihat Rasulullah ﷺ tawaf mengelilingi Kabah dan menyentuh Hajar Aswad dengan tongkat yang beliau bawa lalu beliau mencium tongkat tersebut. (HR. Muslim)

 

  1. Jika tak mungkin juga melakukan itu, maka cukup dengan memberikan isyarat kepadanya dengan tangan.

Itu berdasarkan kabar dari Ibnu Abbas. Ia berkata:

طَافَ النَّبِيُّ ﷺ بِالْبَيْتِ عَلَى بَعِيرٍ، كُلَّمَا أَتَى الرُّكْنَ أَشَارَ إِلَيْهِ بِشَيْءٍ كَانَ عِنْدَهُ وَكَبَّرَ

“Nabi ﷺ melaksanakan tawaf mengelilingi Ka’bah di atas untanya. Setiap kali melewati Hajar Aswad, beliau memberi isyarat kepadanya dengan sesuatu yang ada pada beliau lalu bertakbir.” (HR. Bukhari)

Syekh Al-Albani berkata:

والسنة في الركن الأسود تقبيله

“Yang sunnah terkait Hajar Aswad yaitu menciumnya.

فإن لم يتيسر استلمه بيده وقبلها

Jika itu sulit, maka hendaknya ia mengusapnya dengan tangannya lalu mencium tangannya.

وإلا استلمه بنحو عصا وقبلها

Dan jika tidak bisa, maka hendaknya ia menyentuhnya dengan semacam tongkat lalu menciumnya.

وإلا أشار إليه

Dan jika tidak bisa, maka hendaknya ia memberikan isyarat kepadanya.

ولا يشرع شيء من هذا في الأركان الأخرى إلا الركن اليماني فإنه يحسن استلامه فقط

Dan semua itu tidak disyariatkan pada rukun yang lain kecuali Rukun Yamani. Karena sesungguhnya yang baik terkait Rukun Yamani adalah mengusapnya saja.

ويسن التكبير عند الركن الأسود في كل طوفة

Dan disunnahkan takbir tatkala melewati Hajar Aswad pada setiap tawaf.” (Hajjah An-Nabi)

 

  1. Menjadikan Kabah di sebelah kiri dan memulai Tawaf dari arah Hajar Aswad lalu tawaf sebanyak tujuh kali putaran dengan berjalan cepat di 3 putaran pertama dan berjalan biasa di putaran yang tersisa.

Itu berdasarkan kabar dari Jabir bin ‘Abdillah. Ia berkata:

حَتَّى إِذَا أَتَيْنَا الْبَيْتَ مَعَهُ، اسْتَلَمَ الرُّكْنَ فَرَمَلَ ثَلَاثًا وَمَشَى أَرْبَعًا

“Hingga ketika kami sampai di Baitullah bersama Nabi , beliau mengusap Hajar Aswad. Lalu beliau tawaf dengan berjalan cepat sebanyak tiga putaran dan berjalan biasa sebanyak empat putaran.” (HR. Muslim)

 

  1. Setiap kali melewati Rukun Yamani, maka dianjurkan mengusapnya dengan tangan. Dan jika itu tidak memungkinkan, maka tidak disyariatkan memberi isyarat kepadanya dengan tangan.

Suatu hari Ibnu ‘Abbas melaksanakan tawaf bersama Mu’awiyah. Ia lihat Mu’awiyah menyentuh semua sudut Ka’bah. Maka Ibnu ‘Abbas berkata kepadanya:

إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَمْ يَكُنْ يَسْتَلِمُ إِلَّا الحَجَرَ الأَسْوَدَ، وَالرُّكْنَ اليَمَانِيَ

“Sesungguhnya Nabi ﷺ tidak menyentuh bagian Ka’bah kecuali Hajar Aswad dan Rukun Yamani.”

Mu’awiyah berkata:

لَيْسَ شَيْءٌ مِنَ الْبَيْتِ مَهْجُورًا

“Tidak ada bagian dari Ka’bah ini yang diabaikan.”

Ibnu ‘Abbas membacakan ayat:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh telah ada teladan yang baik bagi kalian pada diri Rasulullah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Mendengar itu, Mu’awiyah pun berkata:

صَدَقْتَ

“Engkau benar!” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

 

  1. Ketika lewat antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad dianjurkan membaca:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)

Itu berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

مَا بَيْنَ الرُّكْنَيْنِ

Antara dua rukun ada ucapan doa:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (HR. Abu Daud)

 

  1. Jika sudah selesai dari tawaf yang ketujuh, maka segera menuju Maqam Ibrahim sambil membaca:

{وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى} [البقرة: 125]

“Jadikanlah maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.” (QS. Al Baqarah:125)

Itu berdasarkan kabar dari Jabir bin ‘Abdillah. Ia berkata:

حَتَّى إِذَا أَتَيْنَا الْبَيْتَ مَعَهُ، اسْتَلَمَ الرُّكْنَ فَرَمَلَ ثَلَاثًا وَمَشَى أَرْبَعًا، ثُمَّ نَفَذَ إِلَى مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام، فَقَرَأَ:

“Hingga ketika kami sampai di Baitullah bersama Nabi , beliau mengusap Hajar Aswad. Lalu beliau tawaf dengan berjalan cepat sebanyak tiga putaran dan berjalan biasa sebanyak empat putaran, lalu beliau menuju ke maqam Ibrahim, kemudian membaca ayat (QS. Al Baqarah: 125):

{وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى} [البقرة: 125]

“Jadikanlah maqam Ibrahim sebagai tempat salat.” (HR. Muslim)

 

  1. Menjadikan Maqam Ibrahim antara dirinya dengan Kabah lalu salat dua rakaat dengan membaca surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlash.

Itu berdasarkan kelanjutan dari hadis Jabir tadi. Ia berkata:

فَجَعَلَ الْمَقَامَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ، فَكَانَ أَبِي يَقُولُ – وَلَا أَعْلَمُهُ ذَكَرَهُ إِلَّا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ-: كَانَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَى الرُّكْنِ فَاسْتَلَمَهُ

“Lalu beliau ﷺ menempatkan posisi maqam di antara beliau dengan Kabah. Ayahku mengatakan-yang penuturannya itu tidaklah kuketahui melainkan dari Nabi ﷺ-dalam dua rakaat tersebut Nabi ﷺ membaca Qul Huwa Allahu Ahad dan Qul Yaa Ayyuhal Kafirun, kemudian beliau kembali lagi ke Hajar Aswad, lalu beliau mengusapnya.” (HR. Muslim)

Lantas, bagaimana jika sulit untuk salat di tempat yang dekat dengan Maqam Ibrahim?

Syekh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin berkata:

لكن إذا لم يتيسر للإنسان أن يصلي خلف المقام قريباً منه فليصل خلف المقام بعيداً منه فإن لم يتيسر فليصل في أي مكان من المسجد

“Namun, jika tidak mudah bagi seseorang untuk melaksanakan salat di belakang Maqam Ibrahim yaitu posisi yang dekat dengannya, maka hendaknya ia melaksanakan salat di tempat yang jauh darinya. Jika itu juga tidak mudah, maka hendaknya ia melaksanakan salat di tempat mana saja di Masjidil Haram.” (Syarh Hadits Jabir bin Abdillah Fii Shifah Hajjah An-Nabi ﷺ)

 

  1. Selesai salat, kembali ke Hajar Aswad lalu bertakbir dan mengusapnya seperti sebelumnya.

Itu berdasarkan hadis Jabir tadi.

 

Siberut, 11 Rajab 1443

Abu Yahya Adiya