Kalau seseorang melakukan ibadah haji tanpa melakukan salah satu rukunnya, maka batallah hajinya. Namun, kalau ia melakukan ibadah haji tanpa melakukan salah satu kewajiban haji, maka tidak batal hajinya, tapi ia wajib membayar dam (denda).
Berapa damnya?
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
وفي تركها عند الجمهور من العلماء فدية شاة أو سُبع بدنة أو سُبع بقرة تُذبح في مكة وتُعطى فقراء أهلها
“Menurut mayoritas ulama, meninggalkan kewajiban haji mengharuskan membayar dam berupa seekor kambing atau sepertujuh dari seekor unta atau sepertujuh dari seekor sapi yang disembelih di Mekah dan diberikan kepada orang-orang miskin yang ada di sana.” (Manasik Al-Hajj wa Al-‘Umrah wa Al-Masyru‘ Fii Az-Ziyarah)
Lantas, apa saja yang termasuk kewajiban haji?
- Ihram dari mikat yang telah ditetapkan oleh Nabi ﷺ.
Ihram adalah rukun haji. Adapun ihram dari mikat yang telah ditetapkan oleh Nabi ﷺ, maka itu adalah kewajiban haji.
Itu berdasarkan kabar dari Ibnu ‘Abbas:
إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ وَقَّتَ لِأَهْلِ المَدِينَةِ ذَا الحُلَيْفَةِ، وَلِأَهْلِ الشَّأْمِ الجُحْفَةَ، وَلِأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ المَنَازِلِ، وَلِأَهْلِ اليَمَنِ يَلَمْلَمَ، هُنَّ لَهُنَّ، وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِهِنَّ مِمَّنْ أَرَادَ الحَجَّ وَالعُمْرَةَ، وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ، فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ
“Sesungguhnya Nabi ﷺ telah menetapkan mikat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam di Al-Juhfah, bagi penduduk Nejed di Qarnul Manazil dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam….” (HR. Bukhari)
Kalau begitu, jika ada orang yang melaksanakan haji, namun ia tidak ihram, maka tidak sah hajinya. Adapun jika ada orang yang melaksanakan haji dan ia melakukan ihram, tapi bukan pada tempat yang telah ditetapkan oleh Nabi ﷺ, maka tetap sah hajinya, tapi ia harus membayar dam.
- Wukuf di Arafah sampai tenggelamnya matahari di tanggal 9 Dzulhijjah.
Ini termasuk kewajiban haji. Mengapa demikian?
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
لأن النبي ﷺ وقف إلى الغروب وقال: «لتأخذوا عني مناسككم» ، ولأن في الدفع قبل الغروب مشابهة لأهل الجاهلية، فإنهم كانوا يَدفعون قبل غروب الشمس.
“Karena Nabi ﷺ wukuf di Arafah sampai tenggelamnya matahari dan beliau bersabda, ‘Ambillah dariku manasik kalian!‘, dan karena pergi dari Arafah sebelum tenggelamnya matahari merupakan perbuatan menyerupai orang-orang jahiliah. Sebab, mereka bertolak dari Arafah sebelum tenggelamnya matahari.” (Manasik Al-Hajj wa Al-‘Umrah wa Al-Masyru‘ Fii Az-Ziyarah)
Kalau begitu, jika ada orang yang melaksanakan haji, namun ia tidak wukuf di Arafah, maka tidak sah hajinya. Adapun jika ada orang yang melaksanakan haji dan ia melakukan wukuf di Arafah, tapi ia meninggalkan Arafah sebelum matahari tenggelam, maka tetap sah hajinya, tapi ia harus membayar dam.
- Mabit (bermalam) di Muzdalifah di malam Iduladha
Itu berdasarkan firman-Nya:
فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ
“Maka apabila kalian bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy‘arilharam.” (QS. Al-Baqarah: 198)
Dan waktu mabit yaitu sampai salat Subuh. Itu berdasarkan sabda Nabi ﷺ ketika di Muzdalifah:
مَنْ شَهِدَ صَلَاتَنَا هَذِهِ، وَوَقَفَ مَعَنَا حَتَّى نَدْفَعَ وَقَدْ وَقَفَ بِعَرَفَةَ قَبْلَ ذَلِكَ لَيْلًا، أَوْ نَهَارًا، فَقَدْ أَتَمَّ حَجَّهُ، وَقَضَى تَفَثَهُ
“Siapa yang menyaksikan salat kami di sini dan berdiam bersama kami hingga kami pergi dari sini sedangkan ia telah wukuf di Arafah sebelum itu baik malam maupun siang, maka ia telah menyempurnakan hajinya dan telah menunaikan manasiknya.” (HR. Tirmidzi)
Namun, siapa yang merasa berat atau tidak mampu harus berdesak-desakan dengan jamaah haji lain ketika lempar jumrah (siang hari tanggal 10 Dzulhijjah), maka boleh meninggalkan Muzdalifah menuju Mina di akhir malam, bukan setelah salat Subuh. Yang demikian itu supaya mereka melempar jumrah sebelum jamaah haji lainnya berdatangan untuk melempar jumrah.
Itu berdasarkan kabar dari Salim bin ‘Abdullah:
وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُقَدِّمُ ضَعَفَةَ أَهْلِهِ، فَيَقِفُونَ عِنْدَ المَشْعَرِ الحَرَامِ بِالْمُزْدَلِفَةِ بِلَيْلٍ فَيَذْكُرُونَ اللَّهَ مَا بَدَا لَهُمْ، ثُمَّ يَرْجِعُونَ قَبْلَ أَنْ يَقِفَ الإِمَامُ وَقَبْلَ أَنْ يَدْفَعَ، فَمِنْهُمْ مَنْ يَقْدَمُ مِنًى لِصَلاَةِ الفَجْرِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَقْدَمُ بَعْدَ ذَلِكَ، فَإِذَا قَدِمُوا رَمَوْا الجَمْرَةَ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ:
“Abdullah bin ‘Umar mendahulukan orang-orang yang lemah dari keluarganya lalu mereka berdiam di Al-Masy’aril Haram yaitu di Muzdalifah pada malam hari. Mereka berzikir semampu mereka kemudian mereka kembali sebelum imam berdiam dan sebelum bertolak dari situ. Di antara mereka ada yang menuju Mina untuk salat Subuh di sana dan di antara mereka ada yang menuju ke sana setelah salat Subuh. Jika mereka sudah sampai, maka mereka melempar jumrah. Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma berkata:
أَرْخَصَ فِي أُولَئِكَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
“Rasulullah ﷺ telah memberi keringanan kepada mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
- Melempar jumrah aqabah di hari Iduladha. Sedangkan di hari-hari tasyrik melempar jumrah aqabah bersamaan dengan 2 jumrah yang lain (wusta dan sugra).
Itu berdasarkan firman-Nya:
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ
“Dan berzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya.“ (QS. Al-Baqarah: 203)
Maksud pada hari yang telah ditentukan jumlahnya adalah hari-hari tasyrik yakni 11, 12, 13 Dzulhijjah.
Allah menyuruh berzikir kepada-Nya pada hari-hari tasyrik.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
ورمي الجمار من ذكر الله تعالى لقول النبي ﷺ:
“Dan melempar jumrah termasuk berzikir kepada Allah, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
إنما جُعل الطواف بالبيت، وبالصفا والمروة، ورمي الجمار لإقامة ذكر الله
“Sesungguhnya tawaf di Ka‘bah, sai antara Shafa dan Marwah, melempar Jumrah diadakan untuk berzikir kepada Allah.” (Manasik Al-Hajj wa Al-‘Umrah wa Al-Masyru‘ Fii Az-Ziyarah)
- Membotaki atau memendekkan rambut bagi pria dan memendekkan saja bagi kaum wanita.
Nabi ﷺ bersabda:
لَيْسَ عَلَى النِّسَاءِ الْحَلْقُ، إِنَّمَا عَلَى النِّسَاءِ التَّقْصِيرُ
“Tidak ada kewajiban membotaki kepala bagi kaum wanita. Yang wajib bagi kaum wanita adalah memendekkan rambut.” (HR. Abu Daud)
- Mabit di Mina pada dua malam yaitu malam 11 dan 12 Dzulhijjah bagi yang ingin segera pulang ke tempat asalnya. Kalau tidak ingin segera pulang, maka mabit juga di malam 13 Dzulhijjah.
Itu berdasarkan firman-Nya:
وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى) (البقرة: الآية203) .
“Dan berzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya. Siapa yang ingin cepat meninggalkan (Mina) setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya. Dan siapa yang mengakhirkannya, maka tidak ada dosa pula baginya, yakni bagi orang yang bertakwa.“ (QS. Al-Baqarah: 203)
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
لأن النبي صلى الله عليه وسلّم بات بها، وقال: «لتأخذوا عني مناسككم» .
“Karena Nabi ﷺ menginap di Mina dan beliau bersabda, ‘Ambillah dariku manasik kalian!” (Manasik Al-Hajj wa Al-‘Umrah wa Al-Masyru‘ Fii Az-Ziyarah)
Ibnu ‘Umar berkata:
اسْتَأْذَنَ العَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ المُطَّلِبِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَنْ يَبِيتَ بِمَكَّةَ لَيَالِيَ مِنًى، مِنْ أَجْلِ سِقَايَتِهِ فَأَذِنَ لَهُ
“Al-‘Abbas bin ‘Abdulmuththalib-semoga Allah meridainya-meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk bermalam di Mekah selama malam-malam Mina untuk memberi minum jamaah haji. Maka beliau ﷺ pun mengizinkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Ahmad redaksinya:
فَرَخَّصَ لَهُ
“Maka beliau ﷺ pun memberikan keringanan kepadanya.”
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
والتعبير بالرخصة دليل على وجوب المبيت لغير عذر.
“Ungkapan ‘Ibnu Umar dengan kalimat memberikan keringanan kepadanya adalah dalil yang menunjukkan wajibnya mabit di Mina bagi yang tidak memiliki uzur.” (Manasik Al-Hajj wa Al-‘Umrah wa Al-Masyru‘ Fii Az-Ziyarah)
- Tawaf wada (perpisahan)
Nabi ﷺ bersabda:
لَا يَنْفِرَنَّ أَحَدٌ حَتَّى يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِ الطَّوَافَ بِالْبَيْتِ
“Janganlah seorang pun kembali (ke rumahnya) sehingga ia mengakhiri hajinya dengan thawaf di Baitullah.“ (HR. Abu Daud)
Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz berkata:
وهذا كان خطابا للحجاج
“Ini adalah pembicaraan yang ditujukan kepada jamaah haji.” (Majmu’ Fatawa)
Siberut, 5 Jumada Ats-Tsaniyah 1443
Abu Yahya Adiya






