“Copot jilbabmu, atau engkau kehilangan pekerjaanmu!”
“Ambil uang ‘panas’ itu, kalau tidak engkau akan miskin!”
“Ikuti adat dan kebiasaan masyarakat, walaupun melanggar syariat. Kalau tidak, siap-siaplah dikucilkan!”
Ancaman dan teror seperti itu mungkin saja muncul dari setan, sehingga menggoyahkan keimanan seseorang.
Lalu apa yang harus kita lakukan kalau kita mendapatkan teror seperti itu?
Allah berfirman:
إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Sesungguhnya mereka itu hanyalah setan yang menakut-nakuti (kalian) dengan kawan-kawan setianya, karena itu janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali-‘Imran: 175)
Ya, jika kalian benar-benar orang yang beriman, tentu kalian hanya takut kepada-Nya dan tidak takut kepada selain-Nya. Itulah bukti keimanan kalian kepada-Nya.
Keimanan kita kepada-Nya menuntut kita untuk lebih takut kepada-Nya dibandingkan kepada selain-Nya. Sehebat apa pun ia. Dan sekuat apa pun ia.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap menegakkan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah. Maka mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)
Sebagaimana kita wajib memurnikan salat dan zakat hanya untuk Allah, maka begitu pula rasa takut kita. Hendaknya kita memurnikan takut kita hanya kepada Allah.
Makin kuat keimanan kita kepada Allah, maka makin bertambahlah rasa takut kita kepada-Nya dan makin berkuranglah rasa takut kita kepada selain-Nya.
Dan makin lemah keimanan kita kepada Allah, maka makin berkuranglah rasa takut kita kepada-Nya dan makin bertambahlah rasa takut kita kepada selain-Nya.
Kalau begitu, jangan mau menjadi sosok lemah iman atau bahkan tidak punya iman!
Ketakutan Penjual Iman
Allah menyebutkan keadaan orang-orang munafik, orang-orang yang menjual iman demi kepentingan dunia:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللهِ
“Dan di antara manusia ada yang berkata, ‘Kami beriman kepada Allah’, tetapi bila ia disakiti karena keimanannya kepada Allah, ia menganggap cobaan manusia itu sebagai siksa Allah.” (QS. Al-‘Ankabut: 10)
Seperti apa bentuk disakiti karena keimanannya kepada Allah?
Syekh ‘Abdurrahman As-Sa’di berkata:
بضرب، أو أخذ مال، أو تعيير، ليرتد عن دينه، وليراجع الباطل
“Yaitu dengan dipukul, diambil hartanya, atau dicela agar murtad dari agamanya, dan merujuk kepada yang batil.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)
Lihatlah orang-orang yang keimanan mereka hanya di lisan mereka dan tidak di hati mereka.
Lihatlah, mereka menjadikan gangguan dan intimidasi dari manusia seperti siksa Allah.
Mereka lebih memilih murtad dari agama-Nya. Mereka lebih memilih siksa-Nya dibandingkan siksa manusia.
Ayat tadi menunjukkan bahwa siapa yang takut terhadap gangguan manusia karena ketaatannya kepada Allah, berarti ia telah takut kepada selain Allah yang menunjukkan kelemahan imannya kepada Allah.
Dan ayat itu juga menunjukkan wajibnya seseorang bersabar dalam menghadapi gangguan siapa pun ketika ia sedang menaati Allah.
Az-Zujjaj berkata:
ينبغي للمؤمن أن يصبر على الأذية في الله.
“Sepantasnya bagi seorang mukmin untuk bersabar dalam menghadapi gangguan di jalan Allah.” (Fath Al-Bayan Fi Maqhashid Al-Quran)
Mencari Keridaan Allah di Balik Kemurkaan Manusia
Untuk menggapai keridaan Allah membutuhkan kesabaran.
Untuk menjadi orang yang Dia ridai membutuhkan kesabaran.
Sebab, pasti akan mendapatkan tantangan dan rintangan, bahkan permusuhan.
Namun, kalau seseorang mau merenungkan, niscaya sadarlah ia bahwa…
Di balik kesulitan ada kemudahan.
Di balik kesempitan ada kelapangan.
Di balik kemurkaan manusia, ada keridaan Tuhannya seluruh manusia.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَأَرْضَى النَّاسَ عَنْهُ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ
“Siapa yang mencari rida Allah dengan resiko membuat manusia marah, maka Allah akan rida kepadanya, dan akan menjadikan manusia rida kepadanya. Dan siapa yang mencari rida manusia dengan resiko membuat Allah murka, maka Allah akan murka kepadanya, dan menjadikan manusia murka pula kepadanya.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya)
Hadis ini menunjukkan wajibnya takut kepada Allah dan mendahulukan keridaan-Nya daripada keridaan siapa pun.
Karena itu, jangan takut kepada pemimpinmu, sehingga akhirnya engkau melakukan apa pun perintah dari pemimpinmu, walaupun bertentangan dengan aturan Tuhanmu.
Jangan takut kepada masyarakatmu, sehingga akhirnya engkau mengikuti apa pun kebiasaan masyarakatmu, walaupun bertentangan dengan syariat Tuhanmu.
Jangan takut kepada siapa pun, sehingga akhirnya engkau bermaksiat kepada Tuhanmu, apalagi kalau engkau sampai menyekutukan Tuhanmu!
Bisa Sampai pada Kemusyrikan
Karena takut kalau anakmu sakit, engkau memakaikan jimat kepada anakmu.
Karena takut kalau rumahmu tertimpa musibah, engkau menyembelih ayam lalu mengucurkan darahnya di pojokan rumah.
Karena takut kalau orang yang ada di dalam kuburan menimpakan bahaya dan keburukan, engkau meletakkan di kuburannya persembahan.
Ketahuilah, semua itu syirik. Semua itu penyekutuan terhadap Tuhanmu, karena….
Siapa yang bisa memberi penyakit kepadamu dan kepada anak-anakmu?
Siapa yang bisa menimpakan malapetaka kepadamu dan kepada anak-anakmu?
Siapa yang bisa mematikan dan menghidupkanmu serta anak-anakmu?
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh, ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An- Nisaa: 48)
Siberut, 17 Shafar 1442
Abu Yahya Adiya






