Walaupun sudah diancam akan dibakar hidup-hidup, ia bergeming, tidak mau menarik ucapannya. Bahkan meluncurlah dari lisannya:
حسْبي اللَّهُ وَنِعمَ الْوَكِيلُ
“Cukuplah Allah bagiku, dan Dialah sebaik-baik penolongku!”
Itulah akhir ucapan Nabi Ibrahim ﷺ tatkala kaumnya yang kafir hendak melemparkannya ke dalam lautan api yang menyala-nyala.
Ibnu ‘Abbas berkata:
كَانَ آخِرَ قَوْل إبْراهِيمَ ﷺ حِينَ ألْقِي في النَّار
“Akhir ucapan Ibrahim ﷺ tatkala dilempar ke api yaitu:
حسْبي اللَّهُ وَنِعمَ الْوَكِيلُ
“Cukuplah Allah bagiku dan Dialah sebaik-baik penolongku.” (HR. Bukhari)
Mengapa Nabi Ibrahim ﷺ bisa setegar itu?
Ketegaran Para Sahabat
Kekalahan yang menyakitkan dalam perang Uhud telah melukai hati dan perasaan para sahabat Nabi ﷺ.
Ketika luka tersebut belum sembuh dan mereka sedang menata hati mereka, tiba-tiba seorang musyrik berkata kepada mereka, “Sesungguhnya orang-orang sudah mengumpulkan pasukan untuk menyerang dan menghabisi kalian, karena itu takutlah kalian kepada mereka!”
Maka apa reaksi mereka ketika itu?
Ucapan itu ternyata tidak menggentarkan hati mereka. Bahkan, bertambah kuatlah iman mereka. Mereka mengucapkan:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“Cukuplah Allah bagi kami, dan Dialah sebaik-baik penolong kami!”
Allah menceritakan yang demikian dalam kitab-Nya:
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“(Yaitu) orang-orang yang ketika ada yang mengatakan kepada mereka, ‘Sesungguhnya orang-orang telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka!’, ternyata perkataan itu menambah kuat iman mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah bagi kami dan Dialah sebaik-baik Penolong kami.” (QS. Ali-‘Imran: 173)
Kenapa mereka bisa setegar itu?
Tawakal Adalah Bukti Keimanan
Siapakah yang disebut orang beriman yang sesungguhnya?
Allah berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang bila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan bila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuatlah iman mereka dan mereka hanya bertawakal kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Anfaal: 2)
Ayat ini menunjukkan bahwa pengakuan kita bahwa kita beriman kepada Allah menuntut kita untuk berserah diri, bergantung, dan bertawakal hanya kepada-Nya.
Karenanya, Allah berfirman:
وعلى الله فتوكلوا إن كنتم مؤمنين
“Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah : 23)
Artinya, kalau kalian memang benar-benar beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada Allah. Bertawakkallah hanya kepada-Nya. Bukan kepada selain-Nya.
Dalam ayat ini Allah menjadikan syarat seorang dinyatakan beriman yaitu bertawakkal kepada Allah. Berserah diri kepada Allah. Bergantung hanya kepada Allah.
Sebab, Dialah Yang Maha Kuasa dan hanya Dialah yang mampu melakukan segala sesuatu. Sedangkan manusia….
Sehebat apa pun ia, dan sebanyak apa pun hartanya, dan setinggi apa pun jabatannya, tidak mampu menolak ketetapan Allah terhadap dirinya, apalagi menolak ketetapan Allah terhadap orang selain dirinya!
Makanya Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
“Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.” (QS. Al-Anfaal: 64)
Ya, cukuplah Allah menjadi penolongmu wahai Nabi. Dan cukuplah Allah menjadi penolongmu wahai orang-orang yang beriman.
Kalian tidak butuh kepada siapa pun selain-Nya.
Berharaplah hanya kepada-Nya. Dan bergantunglah hanya kepada-Nya. Niscaya engkau memetik buahnya….
Buah Tawakal
- Allah penjamin orang yang bertawakal kepada-Nya.
Allah berfirman:
ومن يتوكل على الله فهو حسبه
“Dan siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Dialah yang mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)
Kalau Allah sudah mencukupimu, maka mungkinkah ia menutup pintu rezeki-Nya terhadapmu?
Dan kalau Dia sudah mencukupimu, maka mungkinkah ia menyengsarakanmu?
Nabi ﷺ bersabda:
لَوْ أنَّكم تتوكَّلونَ عَلَى اللَّهِ حقَّ تَوكُّلِهِ لرزَقكُم كَما يرزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِماصاً وترُوحُ بِطَاناً
“Seandainya kalian benar-benar bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberinya kepada burung. Ia berangkat di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan pulang di sore hari dalam keadaan telah penuh perutnya dengan makanan.” (HR. Tirmidzi)
Imam Ibnul Qayyim berkata:
فَإِن التَّوَكُّل من أقوى الْأَسْبَاب فِي حُصُول المُرَاد وَدفع الْمَكْرُوه بل هُوَ أقوى الْأَسْبَاب على الْإِطْلَاق
“Sesungguhnya, tawakal itu termasuk sebab yang sangat kuat dalam meraih apa yang diinginkan dan menolak apa yang tidak diinginkan. Bahkan, tawakal adalah sebab paling kuat secara mutlak dalam hal itu.” (Al-Fawaid)
- Tawakal membuat seorang tegar dan kuat.
Tatkala seseorang hamba bertawakal kepada-Nya, itu menunjukkan kuatnya keimanan pada dirinya. Sedangkan orang yang kuat imannya adalah orang yang tegar menghadapi berbagai masalah yang menghadangnya.
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
وَمَنْ سَرَّهُ أَنْ يَكُونَ أَقْوَى النَّاسِ فَلْيَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
“Siapa yang ingin menjadi orang yang paling kuat, maka hendaknya ia bertawakal kepada Allah!” (Majmu’ Al-Fatawa)
Bagaimana Cara Bertawakal?
1. “Ikat Dulu Untamu!”
Seseorang mendatangi Rasulullah ﷺ dengan menunggang untanya. Ia turun dari untanya lalu bertanya kepada beliau:
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ، أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟
“Wahai Rasulullah, apakah kuikat dulu unta ini lalu bertawakal, atau kubiarkan ia tidak terikat lalu bertawakal?”
Rasulullah ﷺ bersabda:
اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
“Ikat dulu untamu lalu bertawakallah!” (HR. Tirmidzi)
Maksudnya, berusaha dulu supaya untamu tidak lepas, yaitu dengan diikat. Kalau sudah diikat, barulah serahkan urusan untamu kepada Allah.
Hadis tadi menunjukkan bahwa tawakal harus didahului dengan ikhtiar dan usaha. Tidak ada tawakal kecuali didahului dengan ikhtiar dan usaha.
Makanya, “ikatlah dulu untamu”, setelah itu….
2. Serahkan seluruh urusan kepada-Nya
Serahkan hasil usahamu kepada-Nya.
Serahkan hasil perjuanganmu kepada-Nya.
Serahkan seluruh urusan hidupmu kepada-Nya.
Al-Hasan Al-Bashri berkata:
إِنَّ مِنْ تَوَكُّلِ الْعَبْدِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ هُوَ ثِقَتَهُ
“Sesungguhnya di antara bentuk tawakal seorang hamba yaitu menjadikan Allah sebagai kepercayaannya.” (At-Tawakkul ‘Alaa Allah)
Artinya….
Engkau percaya bahwa Allah yang memberikan kesehatan kepadamu. Adapun dokter, itu hanya sebagai perantara.
Engkau percaya bahwa Allah yang memberikan rezeki kepadamu. Adapun teman, jabatan, dan harta, itu hanya sebagai perantara.
Engkau percaya bahwa Allah lah yang menentukan masa depanmu. Adapun kehebatan usahamu, dan kecerdasan taktikmu, itu hanyalah sebab dan perantara. Ya, sebab dan perantara, bukanlah penentu.
Karena itu, bersandarlah kepada-Nya, bergantunglah kepada-Nya, dan serahkan seluruh urusanmu dengan sepenuh hati kepada-Nya, niscaya Dia tidak menyia-nyiakan orang yang bertawakal kepada-Nya.
“Dan siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Dialah yang mencukupinya.”
Siberut, 19 Shafar 1442
Abu Yahya Adiya






