Takut yang Seharusnya Tak Perlu Diucap

Takut yang Seharusnya Tak Perlu Diucap

“Jika engkau ditanya: ‘Apakah engkau takut kepada Allah?’,  maka diamlah.”

Itulah pernyataan Al-Fudhail bin ‘Iyadh, seorang ulama tabiit tabiin.

Kenapa beliau menyuruh kita diam, kalau mendapatkan pertanyaan seperti itu?

Beliau menyebutkan alasannya:

 فإنك إن قلت لا كفرت وإن قلت نعم كذبت

“Karena kalau engkau menjawab, ‘Tidak’, maka engkau telah kafir. Dan kalau engkau menjawab, ‘ya’, maka engkau telah dusta.” (Ihya ‘Ulum Ad-Diin)

Kalau seseorang berkata, “Aku tidak takut kepada Allah”, maka ia telah kafir. Sebab, takut kepada Allah adalah konsekuensi dari keimanan kepada Allah.

Allah berfirman:

فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali-Imran: 175)

Karena itu, tidak adanya rasa takut kepada Allah pada diri seseorang adalah tanda yang menunjukkan ketiadaaan iman dalam hatinya.

Al-Khadimi berkata:

وَفِي قَاضِي خَانْ مَنْ قِيلَ لَهُ أَلَا تَخَافُ اللَّهَ أَوْ أَلَا تَسْتَحْيِي مِنْ اللَّهِ تَعَالَى فَقَالَ لَا كَفَر

“Disebutkan dalam fatwa Qadhi Khan bahwa siapa yang ditanya, ‘Apakah engkau tidak takut Allah?’ atau ‘Apakah engkau tidak malu kepada Allah?’, lalu ia menjawab ‘Tidak!’, maka ia telah kafir.” (Bariiqah Mahmuudiiyah Fii Syarh Thariqah Muhammadiyyah wa Syari’ah Nabawiyyah Fii Siirati Ahmadiyyah)

Adapun kalau seseorang berkata, “Aku takut kepada Allah”, maka bisa jadi ia dusta. Sebab, jika seseorang mengaku takut kepada Allah, maka ia harus membuktikan pengakuannya itu dengan tindak tanduk dan perbuatannya.

Ishaq bin Khalaf berkata:

لَيْسَ الْخَائِفُ مَنْ بَكَى وَعَصَرَ عَيْنَيْهِ، وَلَكِنَّ الْخَائِفَ مَنْ تَرَكَ الْأَمْرَ الَّذِي يَخَافُ أَنْ يُعَذَّبَ عَلَيْهِ.

“Orang yang takut bukanlah orang yang menangis dan memeras kedua matanya. Namun, orang yang takut adalah orang yang meninggalkan perkara yang dikhawatirkan akan menyebabkan ia tersiksa.” (Al-Mujalasah wa Jawahir Al-‘Ilm)

Orang yang melalaikan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya adalah orang yang tidak takut kepada-Nya, walaupun air matanya terlihat terus membasahi pipinya!

Sedangkan orang yang menjaga perintah-Nya dan tidak melanggar larangan-Nya adalah orang yang takut kepada-Nya, walaupun air matanya tidak terlihat keluar dari matanya!

 

Siberut, 19 Shafar 1447

Abu Yahya Adiya