Apa Pokok Pemikiran Murjiah?

Apa Pokok Pemikiran Murjiah?

Siapakah Murjiah?

Imam Sufyan bin ‘Uyainah ditanya tentang Murjiah, maka beliau menjawab:

الْإِرْجَاءُ عَلَى وَجْهَيْنِ:

“Murjiah ada dua yaitu:

قَوْمٌ أَرْجَوْا أَمْرَ عَلِيٍّ وَعُثْمَانَ، فَقَدْ مَضَى أُولَئِكَ

Kaum yang menangguhkan perkara ‘Ali dan ‘Utsman. Maka sungguh, mereka sudah berlalu.

فَأَمَّا الْمُرْجِئَةُ الْيَوْمَ فَهُمْ قَوْمٌ يَقُولُونَ: الْإِيمَانُ قَوْلٌ بِلَا عَمِلٍ

Adapun Murjiah sekarang ini, maka mereka adalah kaum yang berpendapat bahwa iman adalah perkataan tanpa perbuatan.” (Tahdzib Al-Atsar)

Maksud beliau dengan kaum yang menangguhkan perkara ‘Ali dan ‘Utsman yaitu mereka yang bingung menghadapi konflik antara pihak ‘Ali bin Abi Thalib dan pihak Mu’awiyah bin Abi Sufyan, sehingga mereka tidak mau berpihak kepada salah satu dari keduanya, bahkan berlepas diri dari keduanya lalu menyerahkan urusan keduanya kepada Allah.

Dan kelompok ini sudah berlalu. Adapun kelompok Murjiah yang menjadi pembahasan sekarang ini adalah yang disebutkan oleh Imam Sufyan tadi yakni kaum yang berpendapat bahwa iman adalah keyakinan dan perkataan, tanpa perbuatan. Menurut mereka, perbuatan bukan bagian dari iman.

Untuk mengenal Murjiah lebih jelas, kita harus mengetahui pokok pemikiran mereka.

Lantas, apa pokok pemikiran mereka?

 

Pokok Pemikiran Murjiah

  1. Perbuatan bukan bagian dari iman.

Murjiah berpendapat bahwa:

وَالْإِيمَان هُوَ الْإِقْرَار والتصديق

“Iman adalah pengakuan dan pembenaran.” (Al-Fiqh Al-Akbar)

Artinya iman adalah pengakuan dengan lisan dan pembenaran dengan hati.

Kalau memang iman adalah demikian, maka konsekuensinya menurut mereka:

إِيمَانُ أَبِي بَكْرٍ وَإِيمَانُ إِبْلِيسَ وَاحِدٌ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ: يَا رَبِّ، وَقَالَ إِبْلِيسُ: يَا رَبِّ

“Iman Abu Bakar dan Iman Iblis adalah sama. Abu Bakar berkata, ‘Wahai Tuhanku’ dan Iblis juga berkata, ‘Wahai Tuhanku.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah)

Dan itu adalah pendapat yang bertentangan dengan keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah.

Imam Waki’ bin Al-Jarrah berkata:

أَهْلُ السُّنَّةِ يَقُولُونَ: الْإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَالْمُرْجِئَةُ يَقُولُونَ: الْإِيمَانُ قَوْلٌ

“Ahlussunnah berpendapat bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan. Sedangkan Murjiah berpendapat bahwa iman adalah perkataan.” (Asy-Syari’ah)

 

  1. Iman tidak bertambah dan berkurang

Murjiah berpendapat bahwa:

وإيمان أهل السَّمَاء وَالْأَرْض لَا يزِيد وَلَا ينقص

“Iman penduduk langit dan bumi tidak bertambah dan tidak berkurang. ” (Al-Fiqh Al-Akbar)

Dan itu adalah pendapat yang bertentangan dengan keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah.

Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata:

خَالَفَنَا الْمُرْجِئَةُ فِي ثَلاثٍ:

“Murjiah menyelisihi kita dalam 3 perkara:

نَحْنُ نَقُولُ: الإِيمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ، وَهُمْ يَقُولُونَ: قَوْلٌ بِلا عَمَلٍ،

Kita berpendapat bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, sedangkan mereka berpendapat bahwa iman adalah perkataan tanpa perbuatan.

وَنَحْنُ نَقُولُ: يَزِيدُ وَيَنْقُصُ، وَهُمْ يَقُولُونَ: لَا يَزِيدُ وَلا يَنْقُصُ،

Kita berpendapat bahwa iman bisa bertambah dan berkurang, sedangkan mereka berpendapat bahwa iman tidak bisa bertambah dan tidak bisa berkurang.

وَنَحْنُ نَقُولُ: نَحْنُ مُؤْمِنُونَ بِالإِقْرَارِ، وَهُمْ يَقُولُونَ: نَحْنُ مُؤْمِنُونَ عِنْدَ اللَّهِ.

Kita berkata, ‘Kami adalah orang-orang mukmin dengan pengakuan.’ Sedangkan mereka berkata, ‘Kami adalah orang-orang mukmin di sisi Allah.” (Syarh As-Sunnah)

 

  1. Pelaku dosa besar memiliki iman yang sempurna

Karena Murjiah meyakini bahwa perbuatan bukan bagian dari iman dan iman tidak bisa bertambah dan berkurang, maka status pelaku dosa besar-menurut mereka-adalah mukmin yang sempurna imannya.

Imam Ibnu ‘Abdil Barr berkata:

فَإِنَّ الْمُرْجِئَةَ قَالَتْ تارك الصلاة مؤمن مُسْتَكْمِلُ الْإِيمَانِ إِذَا كَانَ مُقِرًّا غَيْرَ جَاحِدٍ وَمُصَدِّقًا غَيْرَ مُسْتَكْبِر

“Sesungguhnya Murjiah berpendapat bahwa orang yang meninggalkan salat adalah mukmin yang sempurna imannya, jika ia mengakui kewajiban salat itu tanpa menentangnya, dan membenarkan itu tanpa menyombongkan diri darinya.” (At-Tamhid)

Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata:

أَمَّا الْمُرْجِئَةُ فَيَقُولُونَ: الْإِيمَانُ كَلَامٌ بِلَا عَمَلٍ، مَنْ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ مُسْتَكْمِلُ الْإِيمَانِ، إِيمَانُهُ عَلَى إِيمَانِ جِبْرِيلَ وَالْمَلَائِكَةِ، وَإِنْ قَتَلَ كَذَا وَكَذَا مُؤْمِنًا، وَإِنْ تَرَكَ الْغُسْلَ مِنَ الْجَنَابَةِ، وَإِنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ

“Adapun Murjiah, maka mereka berpendapat bahwa iman adalah perkataan tanpa perbuatan. Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, maka ia seorang mukmin yang sempurna imannya, dan imannya seperti imannya Jibril dan para malaikat, walaupun ia membunuh mukmin ini dan itu, tidak mandi janabat, dan meninggalkan salat.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah)

Syekh Ibnu ‘Utsaimin berkata:

والمرجئة يقولون: لا يضر مع الإيمان معصية، ويجعلون كل صاحب معصية مؤمناً كامل الإيمان.

“Murjiah berpendapat bahwa maksiat tidak berbahaya dengan adanya iman. Dan mereka menjadikan semua pelaku maksiat sebagai mukmin yang sempurna imannya. “(Liqa Al-Bab Al-Maftuh)

Dan tentu saja itu adalah pendapat yang bertentangan dengan keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah.

Imam As-Safaariini menjelaskan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dalam hal ini:

ويفسق المذنب بالْكَبِيرَة … كَذَا إِذا أصر بالصغيره

“Pelaku dosa menjadi fasik dengan sebab melakukan dosa besar…demikian pula jika ia terus-menerus melakukan dosa kecil.

لَا يخرج الْمَرْء من الْإِيمَان … بموبقات الذَّنب والعصيان

Seseorang tidak keluar dari iman…karena melakukan dosa-dosa besar dan kemaksiatan.” (Ad-Durrah Al-Mudhiyyah Fi ‘Aqdi Ahli Al-Firqah Al-Mardhiyyah)

Artinya, pelaku dosa besar menurut Ahlussunnah wal Jamaah adalah mukmin tapi fasik. Tidak sempurna imannya. Ia masih dikatakan beriman, tapi lemah imannya, karena dosa yang ada pada dirinya.

 

  1. Dalam hal iman, tidak boleh mengucapkan, “Insya Allah.”

Imam Sufyan Ats-Tsauri berkata:

مَنْ كَرِهَ أَنْ يَقُولَ: أَنَا مُؤْمِنٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، فَهُوَ عِنْدَنَا مُرْجِئٌ

“Siapa yang membenci ucapan, ‘Aku adalah mukmin insya Allah’, maka menurut kami ia adalah seorang Murjiah.” (Syarh As-Sunnah)

Murjiah membenci dan melarang seorang muslim berkata, “Aku adalah mukmin insya Allah.”

Mereka melarang keras demikian. Saking kerasnya, ada di antara mereka yang berkata:

مَنْ قَالَ أَنَا مُؤْمِنٌ إنْ شَاءَ اللَّهُ فَهُوَ كَافِرٌ لَا تَجُوزُ الْمُنَاكَحَةُ مَعَهُ

“Siapa yang berkata, ‘Aku adalah mukmin insya Allah’, maka ia kafir. Tidak boleh ia dinikahkan dengan wanita muslimah!” (Al-Bahr Ar-Raiq Syarh Kanz Ad-Daqaiq)

Dan tentu saja itu merupakan pendapat yang bertentangan dengan keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

وَالْمَأْثُورُ عَنْ الصَّحَابَةِ وَأَئِمَّةِ التَّابِعِينَ وَجُمْهُورِ السَّلَفِ وَهُوَ مَذْهَبُ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَهُوَ الْمَنْسُوبُ إلَى أَهْلِ السُّنَّةِ أَنَّ الْإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ وَأَنَّهُ يَجُوزُ الِاسْتِثْنَاءُ فِيهِ

“Yang diriwayatkan dari para sahabat, para imam tabiin, dan mayoritas salaf dan itu adalah pendapat ahli hadis dan yang dinisbatkan kepada Ahlussunnah yakni bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang. Bertambah karena ketaatan, dan berkurang karena kemaksiatan. Dan boleh mengucapkan insya Allah dalam hal iman.” (Majmu’ Al-Fatawa)

 

  1. Ibadah hanya berdasarkan rasa harap

Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:

ومن عبد الله بالرجاء فقط فهو مرجئ لأن المرجئة يخرجون الأعمال عن مسمى الإيمان.

“Dan siapa yang beribadah kepada Allah karena rasa harap saja, maka ia seorang Murjiah. Sebab, kaum Murjiah mengeluarkan amal dari iman.” (I’anah Al-Mustafid Bisyarh Kitab At-Tauhid)

Dan tentu saja itu merupakan sikap yang bertentangan dengan sikap Ahlussunnah wal Jama’ah.

Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:

وأهل السنّة والجماعة جمعوا بين الأمور الثلاثة -ولله الحمد-: المحبة مع الخوف والرجاء والذل والانقياد والطاعة، وبنوا على ذلك سائر أنواع التعبُّد والتقرُّب إلى الله سبحانه وتعالى.

“Sedangkan Ahlussunnah wal Jama’ah menggabungkan 3 perkara tadi-segala puji bagi Allah-: cinta bersama takut dan harap, penghinaan diri, ketundukan, dan ketaatan. Mereka membangun di atas itu segala macam ibadah dan pendekatan diri kepada Allah.” (I’anah Al-Mustafid Bisyarh Kitab At-Tauhid)

 

Siberut, 25 Rabi’ul Tsani 1443

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Asy-Syari’ah karya Imam Al-Ajurri.
  2. Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah wal Jama’ah karya Imam Al-Lalikai.
  3. dan lain-lain.