Berbeda Masa Tapi Syirik Jua

Berbeda Masa Tapi Syirik Jua

Apakah Abu Lahab tidak mengenal Allah?

Apakah Abu Jahl tidak mengakui adanya Allah?

Apakah orang-orang musyrik Quraisy menolak keberadaan Allah?

Allah berfirman:

﴿قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ

“Katakanlah: ‘Siapa yang memberi rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (menghidupkan dan mematikan), dan siapa yang mengatur segala urusan?’  Maka mereka akan menjawab, ‘Allah.” (QS. Yunus: 31).

Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Nabi ﷺ tidak mengingkari keberadaan Allah.

Mereka justru meyakini keberadaan Allah. Bahkan, mereka meyakini bahwa satu-satunya pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta adalah Allah! Bahkan, mereka pun beribadah kepada Allah!

Ya, beribadah kepada Allah!

Syekh Muhammad At-Tamimi berkata:

أرسله الله إلى أناس يتعبدون ويحجون ويتصدقون ويذكرون الله كثيرا،

“Allah mengutus Nabi-Nya kepada orang-orang yang beribadah, melaksanakan haji, bersedekah, dan banyak berzikir kepada Allah.” (Kasyf Asy-Syubhat)

Kalau memang keadaan mereka ‘sesaleh’ itu, kenapa mereka divonis musyrik?

Syekh Muhammad At-Tamimi melanjutkan:

ولكنهم يجعلون بعض المخلوقات وسائط بينهم وبين الله يقولون نريد منهم التقرب إلى الله ونريد شفاعتهم عنده

“Namun, mereka menjadikan sebagian makhluk sebagai perantara antara diri mereka dengan Allah. Mereka berkata, ‘Kami menginginkan dari mereka kedekatan dengan Allah dan kami menghendaki syafaat mereka di sisi-Nya.” (Kasyf Asy-Syubhat)

Itulah tujuan mereka menyembah berhala mereka. dan karena itu pula vonis kafir dan musyrik jatuh kepada mereka.

 

Tujuan Kaum Musyrikin Menyembah Berhala

Abu Lahab, Abu Jahl, dan musyrik Quraisy lainnya tidak meyakini bahwa Laata, Uzza, Manat dan berhala mereka lainnya bisa menciptakan dan mengatur alam semesta.

Mereka juga tidak meyakini bahwa sembahan mereka itu bisa memberikan rezeki atau menolaknya. Mereka meyakini bahwa yang bisa melakukan semua itu hanyalah Allah.

Lantas, kenapa mereka tetap beribadah kepada berhala-berhala mereka?

Karena 2 alasan, sebagaimana yang disebutkan Syekh tadi, yaitu:

 

  1. “Kami menginginkan dari mereka kedekatan kepada Allah”

Allah mengabarkan demikian dalam kitab-Nya:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain-Nya (berkata): ‘Kami tidak beribadah kepada mereka melainkan agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3)

 

  1. “kami menghendaki syafaat mereka di sisi-Nya”

Allah mengabarkan demikian dalam kitab-Nya:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

“Dan mereka beribadah kepada selain Allah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak pula memberi manfaat, dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di hadapan Allah.” (QS. Yunus: 18)

 

Maka, kalau ada orang yang rukuk dan sujud ke makam yang dikeramatkan, lalu ia berkata, “Saya rukuk dan sujud ke makam keramat ini, supaya si penghuni makam ini mendekatkan diri saya kepada Allah!”, berarti ia sudah sama dengan orang-orang musyrik di zaman Nabi!

Begitu pula, kalau ada orang yang rukuk dan sujud ke makam yang dikeramatkan, lalu ia berkata, “Saya rukuk dan sujud ke makam keramat ini, supaya si penghuni makam ini memberikan kepada saya syafaat di hari kiamat. Supaya ia menjadi perantara antara diri saya dengan Allah. Supaya ia menyampaikan permohonan saya kepada Allah!”, berarti ia sudah sama dengan orang-orang musyrik di zaman Nabi!

Dan itu benar-benar terjadi di zaman Fakhruddin Ar-Razi. Beliau berkata:

وَنَظِيرُهُ فِي هَذَا الزَّمَانِ اشْتِغَالُ كَثِيرٍ مِنَ الْخَلْقِ بِتَعْظِيمِ قُبُورِ الْأَكَابِرِ، عَلَى اعْتِقَادِ أَنَّهُمْ إِذَا عَظَّمُوا قُبُورَهُمْ فَإِنَّهُمْ يَكُونُونَ شُفَعَاءَ لَهُمْ عِنْدَ اللَّه

“Yang serupa dengan itu di zaman ini yaitu kesibukan banyak orang dalam mengagungkan kuburan para pembesar berdasarkan keyakinan mereka bahwa jika kuburan para pembesar diagungkan, maka mereka (para pembesar) itu akan menjadi pemberi syafaat bagi mereka di sisi Allah!” (Mafaatiih Al-Ghaib)

Dan itu juga benar-benar terjadi pada sebagian orang di zaman ini. Mereka berkata:

فلا سبيل للوصول إلى الله تعالى ولا يقدر أن يتوجه إليه إلا بواسطة الشيخ بل هو أقرب الطرق للوصول إلى الله:

“Tidak ada jalan untuk sampai kepada Allah dan tidak pula bisa menghadap-Nya kecuali lewat perantara guru. Bahkan, itulah cara paling mudah untuk sampai kepada Allah.

والتقرب إلى الله يكون بمشهده ومسجده وبلدته وعصاه وسوطه ونعله. وهذا موجب للقرب إلى الله ومقتض للشفاعة

Cara mendekatkan diri kepada Allah yaitu lewat makam guru, tempat ibadahnya, negerinya, tongkatnya, cambuknya dan sandalnya. Itu faktor yang mendorong untuk dekat kepada Allah dan mendorong untuk mendapatkan syafaat.” (Al-Mawahib As-Sarmadiyyah)

Kaum musyrikin dulu beranggapan bahwa berhala mereka mendekatkan diri mereka kepada Allah, sedangkan mereka beranggapan bahwa makam guru, tempat ibadahnya, negerinya, tongkatnya, cambuknya dan sandalnya mendekatkan diri mereka kepada Allah.

Apakah yang dulu dengan yang sekarang jauh beda?

 

Siberut, 26 Shafar 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Kasyf Asy-Syubhat karya Syekh Muhammad At-Tamimi.
  2. Mausu’ah Al-Firaq Al-Muntasibah Lilislam dorar.net.