Allah berfirman:
بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ
“Padahal kedua tangan-Nya terbuka” (QS. Al-Maidah: 64)
Ada 4 kelompok yang menyimpang dalam memahami ayat ini:
- Kelompok yang mengatakan, “Allah memiliki tangan dan tangan-Nya seperti tangan manusia.”
Mereka jadi kafir karena perkataan mereka ini. Sebab, mereka telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.
- Kelompok yang mengatakan, “Tidak ada ayat yang menyebutkan tentang tangan Allah! Makanya, Allah tidak memiliki tangan!”
Mereka juga jadi kafir karena perkataan mereka ini. Sebab, mereka telah mendustakan ayat Allah yang mengabarkan tentang tangan-Nya.
- Kelompok yang mengatakan, “Ada ayat yang menyebutkan tentang tangan Allah, tapi maknanya yaitu langit-Nya, bukan tangan-Nya.”
Mereka pun jadi kafir karena perkataan mereka ini. Sebab, mereka telah menakwilkan sifat Allah dengan makna yang tidak dibenarkan dari sisi bahasa Arab. Karena, kata “tangan” dalam bahasa Arab tidak mengandung pengertian langit.
- Kelompok yang mengatakan, “Ada ayat yang menyebutkan tentang tangan Allah, tapi maknanya yaitu nikmat-Nya.”
Mereka tidak kafir karena perkataan mereka ini, melainkan ‘hanya’ sesat. Sebab, mereka telah menakwilkan sifat Allah dengan makna yang ada pembenarannya dari sisi bahasa Arab. Karena, kata “tangan” dalam bahasa Arab kadang bermakna nikmat.
Namun, apakah setiap orang yang memiliki pendapat seperti pendapat kelompok keempat adalah sesat?
Apakah semua orang yang menakwilkan sifat-Nya adalah sesat?
Jika Tak Sengaja Menakwilkan Sifat-Nya
Syekh Nashir Al-‘Aql berkata:
أما التحريف, الذي يسميه أهل البدع تأويلا
“Adapun menyelewengkan makna sifat-Nya yang dinamakan oleh ahli bidah sebagai takwil,
فمنه ما هو كفر؛ كتأويل الباطنية
maka ada yang merupakan kekafiran, seperti takwil kelompok Bathiniyyah.
ومنه ما هو بدعة ضلالة كتأويلات نفاة الصفات
Dan ada yang merupakan bidah sesat, seperti takwil para penolak sifat.
ومنه ما يقع خطأ.
Dan ada yang merupakan kekeliruan.” (Mujmal Ushul Ahlissunnah wa Al-Jama’ah)
Adapun contoh menakwilkan sifat-Nya yang merupakan kekafiran yaitu takwil kelompok ketiga yang disebutkan di atas, dan itu biasanya takwil kelompok Bathiniyyah.
Sedangkan contoh menakwilkan sifat-Nya yang merupakan bidah sesat yaitu takwil kelompok keempat yang disebutkan di atas, dan itulah takwil kelompok penolak sifat-Nya.
Sedangkan contoh menakwilkan sifat-Nya yang merupakan kekeliruan yaitu takwil seperti kelompok keempat yang disebutkan di atas. Namun, siapa pelakunya?
Syekh Nashir Al-‘Aql berkata:
وقد وقع من بعض أفراد السلف وأئمة السنة تأويلات غير مقصودة وليست منهجاً لهم، إنما هي زلات، فهذه صاحبها لا يكفّر ولا يضلل لكنه يرد إليه خطأه وهو من باب زلات العلماء.
“Telah terjadi pada sebagian ulama terdahulu dan imam Ahlussunnah takwil yang tidak disengaja dan menakwilkan sifat-Nya bukanlah metode mereka. Itu adalah ketergelinciran. Maka pelakunya tidak dikafirkan, dan tidak disesatkan. Namun, kesalahannya tetap dibantah. Dan itu termasuk masalah ketergelinciran para ulama.” (Mujmal Ushul Ahlissunnah wa Al-Jama’ah)
Berarti, ada takwil terhadap sifat-Nya yang muncul karena kekeliruan, dan tidak disengaja. Dan itu terjadi pada sebagian ulama Ahlussunnah.
Itu adalah ketergelinciran. Sebab, itu bukanlah metode mereka dalam menghadapi nama dan sifat-Nya.
Dan itu adalah ketergelinciran yang tidak menyebabkan pelakunya sesat apalagi dikafirkan, tetapi tetap harus diluruskan dan mendapatkan bantahan.
Maka, bisa disimpulkan bahwa:
- Ada yang menakwilkan nama dan sifat Allah dengan sengaja dan itulah metodenya dalam menghadapi nama dan sifat-Nya.
Itulah kesesatan yang dilakukan oleh sekte-sekte bidah semacam Muktazilah, Kullabiyyah, dan Asy’ariyyah. Dan itu harus mendapatkan bantahan.
Syekh ‘Abdurrahim As-Sulami berkata:
الذين وقعوا في البدع أنواع: فمنهم من وقع في البدعة وأصّل لها وجاهد من أجلها، واشتهر وعرف بها، مثل أهل الكلام من المعتزلة ومتكلمي الأشاعرة
“Orang-orang yang terjatuh pada bidah bermacam-macam. Di antara mereka ada yang terjatuh pada bidah, meletakkan dasar-dasarnya, dan memperjuangkannya serta terkenal karenanya, seperti ahli kalam dari kalangan Muktazilah, dan Asy’ariyyah.
فهؤلاء يجب الرد عليهم وبيان باطلهم، وتوضيح الحق للناس، وعدم السكوت عنهم، والتحذير من قراءة كتبهم المليئة بالباطل من العقائد الضالة.
Maka, mereka harus dibantah, dijelaskan kesesatan mereka, dijelaskan kebenaran kepada orang-orang, dan tidak boleh mendiamkan mereka. Hendaknya memberikan peringatan orang-orang dari buku-buku mereka yang penuh dengan kesesatan yaitu berupa akidah yang sesat.” (Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah)
- Ada yang menakwilkan nama dan sifat Allah tanpa disengaja dan itu bukanlah metodenya dalam menghadapi nama dan sifat-Nya.
Itulah ketergelinciran yang terjadi pada sebagian ulama Ahlussunnah.
Mereka telah keliru, tapi tidak boleh disesatkan, dan tetap harus mendapatkan bantahan. Dan ilmunya masih dimanfaatkan.
Syekh ‘Abdurrahim As-Sulami berkata:
ونوع آخر قد يكون مشتغلاً بالفقه أو بالحديث أو بأي علم من العلوم مثل النحو، ولكن طبيعة العصر الذي عاش فيه أنه كان فيه رواج لفرقة من الفرق مثل الأشاعرة، فيكون قد تأثر بمعتقدات هذه الفرقة، مع أنه ليس متخصصاً أصلاً في هذا الباب
“Dan orang lainnya bisa jadi sibuk dengan fikih atau hadis atau dengan ilmu apa saja seperti Nahwu. Namun, keadaan di masa hidupnya telah terjadi penyebaran suatu sekte seperti Asy’ariyyah, sehingga akhirnya ia terpengaruh dengan keyakinan sekte itu. Padahal, sebenarnya ia sama sekali tidak mengambil perhatian khusus terhadap masalah itu.
فيؤخذ ما عنده من العلم في التاريخ والحديث والفقه، ويترك ما عنده من الباطل في تأويل صفات الله عز وجل أو في القول بالقدر أو نحو ذلك من الأقوال الضالة
Maka hendaknya ilmu tentang sejarah, hadis dan fikih yang ia miliki diambil, sementara kesalahan yang ia miliki dalam hal takwil terhadap sifat-sifat Allah atau penolakan terhadap takdir dan pendapat sesat lainnya ditinggalkan.” (Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah)
Siberut, 13 Jumada Ats-Tsaniyah 1442
Abu Yahya Adiya






