Ada orang yang berzikir dengan mengucapkan:
الحمد لله الذي وُجِدَ في كل شيء
“Segala puji bagi Allah yang ada pada segala sesuatu.” (Al-Fuyudhat Ar-Rabbaniyyah)
Adakah keganjilan dalam zikir tersebut?
Dan ada orang yang berkata dalam khutbahnya:
فيا تارك الصلاة
“Wahai orang yang meninggalkan salat!
ألا تتشبه بربك؟
Apakah engkau tidak meniru Tuhanmu?
ألا تقتدي بربك؟
Apakah engkau tidak meneladani Tuhanmu?
إن ربك يصلي وأنت لا تصلي؟
Tuhanmu melaksanakan salat, sedangkan engkau tidak melaksanakan salat?!”
Adakah keganjilan dalam perkataan tersebut?
Di Manakah Allah?
Nabi ﷺ bertanya kepada seorang budak:
أَيْنَ اللَّهُ
“Di mana Allah?”
Budak itu menjawab:
فِي السَّمَاءِ
“Di atas langit.”
Beliau bertanya lagi:
مَنْ أَنَا
“Siapa aku?”
Budak itu menjawab:
أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ
“Engkau adalah Rasul Allah.”
Nabi ﷺ pun bersabda tuannya:
أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ
“Bebaskanlah ia, karena sesungguhnya ia seorang yang beriman.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan dengan jelas bahwa Allah ada di atas langit-Nya. Di manakah tepatnya?
Allah berfirman:
الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى
“Tuhan Yang Maha Pengasih, yang istawa Arsy.” (QS. Thahaa: 5)
Dan makna istawa yaitu:
الْعُلُوّ والارتفاع
“Tinggi di atas.” (Al-‘Aqidah Riwayah Abi Bakr Al-Khollal)
Artinya, makna ayat tadi yaitu Tuhan Yang Maha Pengasih tinggi di atas Arsy.
Dan Arsy itu ada di atas langit ketujuh.
Imam Ash-Shabuni berkata:
وعلماء الأمة وأعيان الأئمة من السلف رحمهم الله لم يختلفوا في أن الله تعالى على عرشه، وعرشه فوق سماواته
“Para ulama umat dan para imam terdahulu tidak berbeda pendapat bahwa Allah di atas Arsy-Nya dan Arsy-Nya di atas langit-Nya.” (‘Aqidah As-Salaf wa Ashabul hadits)
Ada yang bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal:
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ , فَوْقَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ عَلَى عَرْشِهِ بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ وَقُدْرَتِهِ وَعِلْمِهِ فِي كُلِّ مَكَانٍ؟
“Allah di atas langit yang ketujuh yaitu di atas Arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya, sedangkan kekuasaan-Nya dan pengetahuan-Nya di setiap tempat?”
Imam Ahmad menjawab:
نَعَمْ , عَلَى الْعَرْشِ وَعِلْمُهُ لَا يَخْلُو مِنْهُ مَكَانٌ
“Ya. Dia di atas Arsy, sedangkan pengetahuan-Nya di mana-mana.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunah wal Jama’ah)
Dalil yang menunjukkan keberadaan-Nya di atas Arsy sangatlah banyak. Dan dalil yang menunjukkan keberadaan-Nya di atas secara mutlak lebih banyak lagi.
Karena itu, siapa yang mengingkarinya, maka ia telah menyimpang dari jalan-Nya, bahkan tidak dianggap beriman kepada-Nya.
Imam Abu Hanifah berkata:
من قَالَ لَا اعرف رَبِّي فِي السَّمَاء اَوْ فِي الأَرْض فقد كفر وَكَذَا من قَالَ إِنَّه على الْعَرْش وَلَا ادري الْعَرْش أَفِي السَّمَاء اَوْ فِي الأَرْض
“Siapa yang berkata, ‘Aku tidak tahu, Tuhanku di atas langit atau di bumi’, maka sungguh, ia telah kafir. Demikian pula kafirlah orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Dia di atas Arsy, tapi aku tidak tahu apakah Arsy itu di atas langit atau di bumi?” (Al-Fiqh Al-Akbar)
Karena itu, yakinilah Dia di atas Arsy-Nya yaitu di atas langit-Nya. Jangan sampai dalam masalah ini menyimpang dari jalan-Nya.
Hululiyah, Ittihadiyah, dan Wihdatul Wujud
3 keyakinan ini adalah kesesatan dan penyimpangan dari jalan-Nya, bahkan itu merupakan kekafiran kepada-Nya.
Lantas apakah arti Hululiyyah, Ittihadiyyah, dan Wihdatul Wujud?
Hululiyyah adalah keyakinan bahwa:
حلول الله في المخلوقات كحلول الروح في الجسد.
“Allah menitis kepada makhluk-makhluk-Nya seperti halnya roh menitis kepada jasad.” (Syarh Ath-Thahawiyyah)
Sedangkan Ittihadiyyah adalah keyakinan bahwa:
اتحاد الله تعالى –بزعمهم- مع المخلوقات كاتحاد الجسم مع الجسم.
“Bersatunya Allah dengan makhluk-Nya seperti bersatunya jasad dengan jasad yang lain.” (Syarh Ath-Thahawiyyah)
Sementara Wihdatul Wujud adalah keyakinan bahwa:
أنه ليس هناك خالق ولا مخلوق، فالكل واحد
“Tidak ada yang namanya khalik (pencipta) dan tidak pula makhluk (yang dicipta), semuanya satu.” (Syarh Ath-Thahawiyyah)
Lantas apa perbedaan antara ketiga keyakinan itu?
Syekh Nashir Al-‘Aql berkata:
فالذين يقولون بالحلول والاتحاد قد يقولون: لله وجود، لكن وجوده -على نحو ما قالوا- إما أن يكون حل بالمخلوقات كحلول الروح في الجسد، أو اتحد بالمخلوقات كاتحاد الأجساد بعضها مع بعض، كاتحاد الماء مع العجين بزعمهم
“Orang-orang yang mempunyai keyakinan Hululiyyah dan Ittihadiyyah bisa jadi mereka berkata bahwa Allah memiliki wujud, tetapi wujud-Nya-sebagaimana pendapat mereka-bisa jadi menitis pada makhluk-Nya seperti halnya roh menitis pada jasad, atau bersatu dengan makhluk-Nya seperti bersatunya jasad dengan jasad yang lain, yaitu seperti bersatunya air dengan adonan menurut anggapan mereka.
وأما الذين يقولون بوحدة الوجود فليس عندهم خالق ولا مخلوق، فالله هو الخلق والخلق هو الله!
Adapun orang-orang yang berpendapat wihdatul wujud, maka menurut mereka tidak ada khalik dan tidak juga makhluk. Allah adalah makhluk dan makhluk adalah Allah!
تعالى الله عما يزعمون. وكلها أوهام وشرك من عبث الشيطان ببني آدم.
Maha Tinggi Allah dari anggapan mereka. Semua itu ilusi, syirik, dan permainan setan terhadap keturunan Adam.” (Syarh Ath-Thahawiyyah)
3 keyakinan tadi adalah syirik, ilusi, dan permainan dari setan untuk menggelincirkan manusia ke dalam kekafiran!
Karena 3 keyakinan rusak itulah muncul ungkapan:
“Allah ada di mana-mana”
“Tidak ada yang berwujud melainkan Allah.”
“Tuhan adalah hamba. Dan hamba adalah Tuhan…aduhai, siapakah yang dibebani syariat?”
“Yang beribadah adalah Allah dan yang diibadahi pun adalah Allah”
“Laksanakanlah salat, sebagaimana Tuhanmu salat!”
Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan!
Siberut, 15 Jumada Ats-Tsaniyah 1442
Abu Yahya Adiya






