Ayat ini kita ulang-ulang paling sedikit 17 kali dalam sehari.
Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:
هي خلاصة سورة الفاتحة، و هي خلاصة القرآن كله
“Ayat ini merupakan inti sari surat Al-Fatihah, sedangkan surat Al-Fatihah merupakan inti sari seluruh ayat Al-Qur’an.” (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah)
Ayat apakah itu?
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)
Kepada-Mu ini adalah obyek. Kemudian Kami menyembah ini adalah kata kerja.
Kepada-Mu ini adalah obyek. Kemudian Kami mohon pertolongan ini adalah kata kerja.
Apa maksud semua itu?
Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:
ذكر علماء العربية أن الله تعالى قدم المفعول به “إياك” على الفعل “نعبد و نستعين” ليخص العبادة و الاستعانة به وحده، و يحصرها فيه دون سواه.
“Para pakar bahasa Arab menyebutkan bahwa Allah mendahulukan obyek (Kepada-Mu) sebelum kata kerja (kami menyembah dan kami mohon pertolongan) yakni agar ibadah dan permohonan pertolongan dikhususkan hanya untuk Allah semata, dan dibatasi hanya kepada-Nya dan tidak kepada selain-Nya.” (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah)
Artinya, ayat itu merupakan perintah agar kita beribadah hanya kepada Allah dan memohon pertolongan hanya kepada-Nya, dan bukan kepada selain-Nya. Kita harus mengesakan-Nya!
Imam Ath-Thabari menjelaskan makna Hanya kepada-Mu kami menyembah:
لك اللهم نَخشعُ ونَذِلُّ ونستكينُ، إقرارًا لك يا رَبنا بالرُّبوبية لا لغيرك
“Hanya kepada-Mu-ya Allah-kami tunduk, merendahkan diri, dan pasrah, sebagai bentuk pengakuan terhadap rububiyah-Mu-wahai Tuhan kami-, dan bukan terhadap selain-Mu.” (Jami’ Al-Bayan Fii Ta’wiil Al-Quran)
Ini menunjukkan bahwa ketundukan, merendahkan diri, kepasrahan, dan ibadah lainnya hanya berhak ditujukan kepada Allah semata.
Imam Ath-Thabari menjelaskan makna hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan :
وإياك رَبنا نستعين على عبادتنا إيّاك وطاعتنا لك وفي أمورنا كلها -لا أحدًا سواك، إذْ كان من يكفُر بك يَستعين في أمورِه معبودَه الذي يعبُدُه من الأوثان دونَك، ونحن بك نستعين في جميع أمورنا مخلصين لك العبادة.
“Hanya kepada-Mu-wahai Tuhan kami-kami memohon pertolongan atas ibadah dan ketaatan kami kepada-Mu, serta seluruh urusan kami. Tidak kepada siapa pun selain-Mu. Karena, orang yang kafir kepada-Mu, ia memohon pertolongan dalam urusannya kepada sembahannya yaitu berhala yang ia sembah selain diri-Mu. Sedangkan kami memohon pertolongan hanya kepada-Mu dalam segala urusan kami dengan memurnikan peribadatan hanya kepada-Mu.” (Jami’ Al-Bayan Fii Ta’wiil Al-Quran)
Ini menunjukkan bahwa permohonan pertolongan dalam masalah dunia maupun akhirat hanya berhak ditujukan kepada Allah semata.
Maka, dengan membaca ayat tadi, sudah seharusnya seorang muslim sadar bahwa ia harus mengesakan-Nya dalam hal ibadah, terutama dalam hal doa dan memohon pertolongan. Ia harus mewujudkan tauhid!
Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:
إن العبادة في هذه الآية تعم العبادات كلها مثل الصلاة و النذر و الذبح و لا سيما الدعاء لقوله ﷺ:
“Ibadah yang dimaksud oleh ayat ini adalah mencakup seluruh ibadah, seperti salat, nazar, penyembelihan, terutama doa. Itu berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
الدعاء هو العبادة (رواه الترمذي و قال حسن صحيح).
“Doa adalah ibadah.” (HR Tirmidzi dan ia berkata bahwa itu hadis hasan sahih)
فكما أن الصلاة عبادة لا تجوز لرسول و لا لولي فكذك الدعاء عبادة ، بل هو لله وحده
Sebagaimana salat adalah ibadah yang tidak boleh ditujukan kepada rasul atau wali, maka demikian pula halnya dengan doa. Itu adalah ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah semata. Allah berfirman (QS. Al-Jin: 20):
قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah)
Aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Bukankah ini tauhid?
Itulah kunci kebahagiaan hamba dan itulah kunci keselamatannya dari berbagai bencana.
Nabi ﷺ bersabda:
دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ
“Doa yang dibaca oleh Dzun Nun (Nabi Yunus) ketika beliau berada dalam perut ikan, yaitu:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ، إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
إِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ بِهَا
Tidaklah seorang muslim berdoa dengannya untuk (meminta) apa pun, kecuali Allah akan mengabulkannya karenanya.” (HR. Al-Hakim)
Siapa yang membaca doa ini, maka Allah akan mengabulkan permintaannya. Bukankah itu menunjukkan bahwa doa ini istimewa?
Ya, tentu saja istimewa. Namun, apa rahasianya?
Imam Ibnul Qayyim berkata:
وَأَمَّا دَعْوَةُ ذِي النُّونِ: فَإِنَّ فِيهَا مِنْ كَمَالِ التَّوْحِيدِ وَالتَّنْزِيهِ لِلرَّبِّ تَعَالَى، وَاعْتِرَافِ الْعَبْدِ بِظُلْمِهِ وَذَنْبِهِ، مَا هُوَ مِنْ أَبْلَغِ أَدْوِيَةِ الْكَرْبِ، وَالْهَمِّ، وَالْغَمِّ، وَأَبْلَغِ الْوَسَائِلِ إِلَى اللَّهِ – سُبْحَانَهُ – فِي قَضَاءِ الْحَوَائِجِ
“Adapun doa Dzun Nun, maka sesungguhnya terkandung di dalamnya tauhid yang sempurna, penyucian terhadap-Nya, dan pengakuan hamba akan kezalimannya dan dosanya sehingga bisa menjadi obat yang sangat manjur terhadap musibah, kegelisahan, dan kegundahan, serta sarana paling efektif yang mengantarkan kepada Allah dalam hal menunaikan kebutuhan.” (Zaad Al-Ma’ad Fii Hady Khair Al-‘Ibaad)
Intinya, tauhid adalah kunci kebahagiaan dan keselamatan.
Siberut, 18 Muharram 1443
Abu Yahya Adiya






