Apakah makna syahadat kedua yakni kita yakin bahwa Muhammad ﷺ adalah makhluk yang tercipta dari cahaya dan bukanlah manusia?
Apakah makna syahadat kedua yakni kita yakin bahwa Muhammad ﷺ itu kekal dan tidak akan meninggal?
Apakah makna syahadat kedua yakni kita yakin bahwa Muhammad ﷺ itu bukan sekadar nabi dan rasul, melainkan lebih dari itu sehingga bisa dimintai pertolongan dan perlindungan layaknya Tuhan?
Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:
معنى محمد رسول الله الإيمان بأنه مرسل من عند الله ، فنصدقه فيها أخبر، و نطيعه فيما أمر و نترك ما نهى عنه و زجر و نعبد الله بما شرع.
“Makna Muhammad adalah rasul Allah yakni beriman bahwa ia adalah utusan dari Allah, karena itu kita membenarkan apa yang ia kabarkan, menaati apa yang ia perintahkan dan meninggalkan apa yang ia larang serta kita beribadah dengan apa yang ia syariatkan.” (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah)
Siapa yang bersaksi bahwa Muhammad ﷺ adalah rasul Allah, maka ia harus yakin bahwa beliau adalah utusan Allah. Karena itu, ia harus….
-Membenarkan apa yang beliau kabarkan.
-Menaati apa yang beliau perintahkan.
-Menjauhi apa yang beliau larang dan beliau tinggalkan.
-Beribadah hanya dengan cara yang beliau tuntunkan.
Selain itu….
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
ومقتضى هذه الشهادة أيضاً أن لا تعتقد أن لرسول الله صلى الله عليه وسلم، حقاً في الربوبية وتصريف الكون، أو حقاً في العبادة
“Konsekuensi dari syahadat ini juga yakni tidak meyakini bahwa Rasulullah ﷺ memiliki hak dalam hal rububiyah, pengaturan alam semesta atau hak untuk disembah.” (Syarh Tsalatsah Al-Ushul)
Artinya, termasuk konsekuensi dari syahadat ini yakni kita tidak meyakini bahwa Nabi ﷺ punya hak dan kemampuan untuk menciptakan, menguasai, dan mengatur alam semesta dan beliau juga tidak berhak disembah.
Mengapa demikian?
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
بل هو صلى الله عليه وسلم عبد لا يعبد ورسول لا يكذب
“Beliau itu seorang hamba yang tidak boleh disembah dan juga rasul yang tidak boleh didustakan.” (Syarh Tsalatsah Al-Ushul)
Ya, beliau adalah rasul-Nya, karena itu beliau tidak boleh diremehkan. Dan beliau juga adalah hamba-Nya, karena itu beliau tidak boleh dituhankan.
Kita tidak boleh meremehkan beliau, dan tidak pula berlebihan terhadap beliau.
Nabi ﷺ bersabda:
لاَ تُطْرُونِي، كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ، وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan dalam memuji ‘Isa bin Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah: hamba Allah dan rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sikap berlebihan terhadap Nabi ﷺ adalah sikap yang bertentangan dengan pengakuan kita bahwa beliau adalah utusan Allah.
Apa saja contoh sikap berlebihan terhadap beliau?
Beberapa Sikap Berlebihan terhadap Nabi ﷺ
- Meyakini bahwa Nabi ﷺ diciptakan dari cahaya
Seperti yang diyakini oleh sebagian kaum Sufi. Mereka meyakini bahwa Nabi ﷺ diciptakan dari cahaya. Bahkan, ada di antara mereka yang berkata:
أن أول ما خلق الله تعالى نور سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم ثم خلق منه القلم…
“Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah cahaya penghulu kita yaitu Muhammad ﷺ, lalu darinya Dia menciptakan Al-Qalam (pena)….” (Al-Ibriiz)
Padahal, Nabi ﷺ telah bersabda:
خُلِقَتِ المَلائِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخلِقَ الجَانُّ مِنْ مَارِجٍ منْ نَارً، وخُلِق آدمُ ممَّا وُصِفَ لَكُمْ
“Para malaikat diciptakan dari cahaya. Dan para jin diciptakan dari nyala api. Sedangkan Adam diciptakan dari apa yang telah digambarkan kepada kalian.” (HR. Muslim)
dari apa yang telah digambarkan kepada kalian yakni dari tanah. Dan nabi kita adalah keturunan Adam.
Karena itu, hadis tadi merupakan bantahan bagi pendapat sebagian kaum Sufi yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ diciptakan dari cahaya.
Adapun perkataan mereka bahwa yang pertama kali Allah ciptakan adalah cahaya nabi kita, maka itu pun terbantahkan oleh sabda Nabi ﷺ:
إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ
“Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena.” (HR. Abu Daud)
- Meyakini bahwa Nabi ﷺ bukan manusia.
Seperti yang diyakini oleh kelompok Sufi Barelvi. Mereka meyakini bahwa Nabi ﷺ tidak memiliki bayangan. Dan itu-menurut mereka-merupakan bukti bahwa beliau ﷺ bukanlah manusia.
Padahal, Allah sendiri telah berfirman kepada beliau:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa.” (QS. Al-Kahfi: 110)
- Meyakini bahwa Nabi ﷺ tidak mati.
Seperti yang diyakini oleh sebagian kaum Sufi. Mereka meyakini bahwa Nabi ﷺ masih hidup hingga hari ini dan belum wafat.
Padahal, Allah berfirman:
إنك ميت وإنهم ميتون
“Sesungguhnya engkau akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati. ” (QS. Az-Zumar: 30)
Dalil dan bukti yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sudah meninggal dunia sangatlah banyak dan jelas. Tidak ada yang mengingkari itu kecuali orang yang….
- Menjadikan Nabi ﷺ sebagai tempat berlindung dan meminta pertolongan.
Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:
فلا ندعوه من دون الله كما فعلت النصارى في عيسى ابن مريم ، فوقعوا في الشرك ، و علمنا أن نقول “محمد عبد الله و رسوله”.
“Maka, kita tidak berdoa kepada beliau ﷺ di samping Allah, sebagaimana orang-orang Nashrani melakukan itu terhadap ‘Isa bin Maryam, sehingga mereka terjatuh ke dalam syirik. Beliau ﷺ mengajarkan kepada kita untuk berkata bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya.” (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah)
Bagaimana bisa kita memohon pertolongan dan perlindungan kepada beliau ﷺ, padahal Allah telah berfirman kepada beliau:
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُون
“Katakanlah: ‘Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat dan menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang Allah kehendaki. Seandainya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira bagi kaum yang beriman.” (QS. Al-A’raaf: 188)
Bagaimana bisa kita memohon pertolongan dan perlindungan kepada beliau ﷺ, padahal beliau ﷺ sendiri bersabda:
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
“Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan jika engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Dan bagaimana bisa kita memohon pertolongan dan perlindungan kepada beliau ﷺ, padahal Anas bin Malik mengabarkan:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا كَرَبَهُ أَمْرٌ قَالَ:
“Jika Nabi ﷺ mengalami kesusahan karena suatu perkara, beliau berdoa:
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ
“Wahai Zat Yang Maha kekal lagi terus menerus mengatur, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.” (HR. Tirmidzi)
Hanya Allah yang bisa menurunkan bencana kepada kita. Dan hanya Allah yang mampu menghilangkan bencana yang telah ada di hadapan kita.
Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:
ورحم الله الشاعر حين قال:
“Semoga Allah merahmati seorang penyair tatkala berkata:
الله أسأل أن يفرج كربَا فالكرب لا يمحوه إلا الله
“Aku memohon kepada Allah untuk menghilangkan bencana karena tidak ada yang bisa menghilangkan bencana kecuali Allah.” (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah)
Siberut, 16 Muharram 1444
Abu Yahya Adiya






